WAJAH MADRASAH DI ERA ADIWIYATA
Oleh: Nanik Sulistiani, S. Pd.
Guru bahasa Indonesia di MTsN Gandusari Kab. Blitar
Dewasa ini, membicarakan pendidikan berarti madrasah tercakup di dalamnya. Madrasah dalam
paradigma baru tidak lagi mewakili lembaga yang kuno proses pembelajarannya,
rendah input akademik peserta didiknya, ketidakprofesionalan pendidik, atau
bahkan ala kadarnya tempat belajar.
Madrasah terus menata diri, untuk mensejajarkan persaingan sehat merebut
simpatisan masyarakat dengan sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan
Nasional. Berbagai prestasi akademik dan nonakademik peserta didik ditorehkan
madrasah untuk menjawab tantangan tersebut. Tidak berhenti di sisi peserta
didik, dari sisi madrasah sebagai suatu instansi juga unjuk gelar prestasi.
Satu di antaranya adalah keikutsertaan madrasah dalam program Kementerian
Lingkungan Hidup yaitu adiwiyata.
Adiwiyata sebagai salah satu produk andalan Kementerian
Lingkungan hidup ternyata menjadi primadona baru bagi madrasah untuk pegang
peranan di dalamnya. Apalagi program ini didukung SKB 4 menteri (Kementerian
Lingkungan Hidup, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, dan
Kementerian Dalam Negeri) menambah daya tarik untuk madrasah ikut menyukseskan
program pemerintah ini. Adiwiyata memang bukan kompetisi atau lomba karena
tidak memeperebutkan gelar juara. Adiwiyata lebih mirip sebagai media
pembelajaran bagi warga madrasah untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan sadar
lingkungan sehat yang kemudian untuk jangka panjang dapat menjadi karakter
warga madrasah berbudaya lingkungan
sehat.
Madrasah dan adiwiyata merupakan sinergi yang bersimbiosis
mutualisme. Sinergi yang menguntungkan keduanya. Bagi madrasah, adiwiyata
adalah kesempatan emas untuk membuktikan pada khalayak bahwa madrasah
memerhatikan betul tentang kebersihan diri dan lingkungan, salah satu cabang Iman di diri setiap muslim
adalah kebersihan itu sendiri. Sehingga kebersihan
sebagian dari iman tidak hanya sebatas hadist, yang indah di kata tapi
tidak diejawantahkan dalam perilaku hidup muslim. Di sisi yang lain adiwiyata
sebagai salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup jadi lebih membumi
sekaligus merakyat di lingkup pendidikan. BLH Blitar sendiri mengatakan
bahwa 40% keberhasilah program lingkungan
justru ada di madrasah/ sekolah.
Sementara itu persentase yang lebih rendah yaitu 20% pembelajaran
lingkungan hidup diserap oleh masyarakat umum.
Madrasah yang beradiwiyata memiliki magnet yang bisa menarik
wali murid baru untuk memercayakan pendidikan putra-putri mereka. Bagaimana tidak wiyata/ lingkungan yang adi/
besar dan mulia (bebas polusi air, udarara, dan tanah. Kantin yang bebas 5P
(pemanis, pewarna, pengawet, penyedap, pengenyal), kamar mandi yang bersih, UKS
yang peduli) membuat betah berlama-lama belajar di madrasah, tentunya hal ini akan berimbas
pada maksimalnya prestasi peserta didik baik
akademik maupun nonakademik. Allahuma amin.
Untuk itulah madrasah dan adiwiyata merupakan sinergi yang
membangun kekuatan positif yang bisa meramaikan kancah sumbangsih nyata untuk
Indonesia tercinta. We love madrasah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar