Minggu, 06 Oktober 2013

WAJAH MADRASAH DI ERA ADIWIYATA










WAJAH  MADRASAH DI ERA ADIWIYATA

Oleh: Nanik Sulistiani, S. Pd.
Guru bahasa Indonesia di MTsN Gandusari Kab. Blitar
Dewasa ini, membicarakan pendidikan berarti  madrasah tercakup di dalamnya. Madrasah dalam paradigma baru tidak lagi mewakili  lembaga yang kuno proses pembelajarannya, rendah input akademik peserta didiknya, ketidakprofesionalan pendidik, atau bahkan  ala kadarnya tempat belajar. Madrasah terus menata diri, untuk mensejajarkan persaingan sehat merebut simpatisan masyarakat dengan sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional. Berbagai prestasi akademik dan nonakademik peserta didik ditorehkan madrasah untuk menjawab tantangan tersebut. Tidak berhenti di sisi peserta didik, dari sisi madrasah sebagai suatu instansi juga unjuk gelar prestasi. Satu di antaranya adalah keikutsertaan madrasah dalam program Kementerian Lingkungan Hidup yaitu adiwiyata.
Adiwiyata sebagai salah satu produk andalan Kementerian Lingkungan hidup ternyata menjadi primadona baru bagi madrasah untuk pegang peranan di dalamnya. Apalagi program ini didukung SKB 4 menteri (Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri) menambah daya tarik untuk madrasah ikut menyukseskan program pemerintah ini. Adiwiyata memang bukan kompetisi atau lomba karena tidak memeperebutkan gelar juara. Adiwiyata lebih mirip sebagai media pembelajaran bagi warga madrasah untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan sadar lingkungan sehat yang kemudian untuk jangka panjang dapat menjadi karakter warga madrasah  berbudaya lingkungan sehat.
Madrasah dan adiwiyata merupakan sinergi yang bersimbiosis mutualisme. Sinergi yang menguntungkan keduanya. Bagi madrasah, adiwiyata adalah kesempatan emas untuk membuktikan pada khalayak bahwa madrasah memerhatikan betul tentang kebersihan diri dan lingkungan,  salah satu cabang Iman di diri setiap muslim adalah kebersihan itu sendiri. Sehingga kebersihan sebagian dari iman tidak hanya sebatas hadist, yang indah di kata tapi tidak diejawantahkan dalam perilaku hidup muslim. Di sisi yang lain adiwiyata sebagai salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup jadi lebih membumi sekaligus merakyat di lingkup pendidikan. BLH Blitar sendiri mengatakan bahwa  40% keberhasilah program lingkungan justru ada di madrasah/ sekolah.  Sementara itu persentase yang lebih rendah yaitu 20% pembelajaran lingkungan hidup diserap oleh masyarakat umum.
Madrasah yang beradiwiyata memiliki magnet yang bisa menarik wali murid baru untuk memercayakan pendidikan putra-putri  mereka. Bagaimana tidak wiyata/ lingkungan yang adi/ besar dan mulia (bebas polusi air, udarara, dan tanah. Kantin yang bebas 5P (pemanis, pewarna, pengawet, penyedap, pengenyal), kamar mandi yang bersih, UKS yang peduli) membuat betah berlama-lama belajar  di madrasah, tentunya hal ini akan berimbas pada maksimalnya prestasi peserta didik  baik akademik maupun nonakademik. Allahuma amin.
Untuk itulah madrasah dan adiwiyata merupakan sinergi yang membangun kekuatan positif yang bisa meramaikan kancah sumbangsih nyata untuk Indonesia tercinta.  We love madrasah.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar