SOAL LATIHAN
ASESMEN KOMPETENSI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (AKGTK) MADRASAH TAHUN 2026
Mata Pelajaran: GURU KELAS — Kompetensi Profesional (1. Literasi, 2. Numerasi, 3. Sains)
Berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills), Pendekatan Deep Learning (Mindful, Meaningful,
Joyful), dan Kurikulum Berbasis Cinta
Soal ini disusun sebagai bahan latihan mandiri persiapan AKGTK Madrasah Tahun 2026 untuk Guru Kelas
(jenjang MI), mengacu pada Surat Direktorat GTK Madrasah Nomor B-86/Dt.I.II/KP.02/09/2026 tentang
Pelaksanaan AKGTK Madrasah Tahun 2026, yang menetapkan cakupan mata pelajaran Guru Kelas meliputi
Literasi, Numerasi, dan Sains. Soal disusun dengan pendekatan HOTS (menganalisis, mengevaluasi, dan
mencipta), mengintegrasikan paradigma Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dengan tiga pilar mindful,
meaningful, dan joyful learning, serta nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (Panduan Implementasi Kurikulum
Cinta, Ditjen Pendis Kemenag RI) yang menempatkan cinta kepada Allah, sesama manusia, dan lingkungan
sebagai jiwa pembelajaran di kelas rendah maupun kelas tinggi Madrasah Ibtidaiyah.
Cakupan Kompetensi Profesional yang diujikan:
•
A. Literasi — Pemahaman & Analisis Teks Tingkat Tinggi — 10 soal
•
B. Numerasi — Penalaran dan Pemecahan Masalah Matematis — 10 soal
•
C. Sains — Konsep, Inkuiri, dan Berpikir Ilmiah — 10 soal
•
D. Pedagogical Content Knowledge — Deep Learning: Mindful, Meaningful, Joyful dalam
Literasi-Numerasi-Sains — 10 soal
•
E. Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Pembelajaran Literasi, Numerasi, dan Sains — 5 soal
•
F. Asesmen, Evaluasi & Refleksi Pembelajaran Guru Kelas — 5 soal
Petunjuk: Pilihlah satu jawaban yang paling tepat (A, B, C, atau D) untuk setiap soal. Kunci jawaban dan
pembahasan singkat tersedia pada bagian akhir dokumen.A. Literasi — Pemahaman dan Analisis Teks Tingkat Tinggi
Teks 1
Setiap pagi, Pak Hasan menyapu halaman madrasah sebelum murid-murid datang. Ia tidak pernah diminta
oleh siapa pun untuk melakukannya, tetapi ia merasa bahwa halaman yang bersih akan membuat
anak-anak belajar dengan nyaman dan hati yang gembira. Suatu hari, seorang murid bernama Dinda
melihatnya dan bertanya, "Mengapa Bapak melakukan ini setiap hari?" Pak Hasan tersenyum dan
menjawab, "Karena mencintai tempat belajar sama artinya dengan mencintai orang-orang yang belajar di
dalamnya." Sejak saat itu, Dinda dan teman-temannya mulai bergantian membantu merapikan kelas setiap
pagi.
1. Apa gagasan utama yang ingin disampaikan melalui teks tersebut?
A. Pak Hasan adalah petugas kebersihan resmi di madrasah.
B. Tindakan kecil yang dilandasi cinta dan kepedulian dapat menginspirasi perubahan perilaku orang
lain.
C. Dinda tidak menyukai kebiasaan Pak Hasan.
D. Menyapu halaman adalah tugas yang tidak penting.
2. Apa yang dapat disimpulkan mengenai karakter Pak Hasan berdasarkan teks?
A. Ia melakukan pekerjaannya hanya karena diperintah atasan.
B. Ia memiliki kesadaran (mindful) akan makna tindakannya dan menjalankannya dengan tulus tanpa
paksaan.
C. Ia tidak peduli dengan kenyamanan murid-murid.
D. Ia merasa terpaksa melakukan pekerjaan tersebut.
3. Jika seorang guru ingin menggunakan teks ini untuk mengajarkan literasi sekaligus
menguatkan nilai Kurikulum Cinta, pertanyaan pemantik manakah yang paling tepat untuk
mendorong berpikir tingkat tinggi siswa?
A. "Siapa nama tokoh dalam cerita ini?"
B. "Bagaimana perasaanmu jika kamu berada di posisi Dinda, dan tindakan kecil apa yang bisa kamu
lakukan untuk menunjukkan cinta pada lingkungan belajarmu?"
C. "Berapa kali Pak Hasan menyapu halaman dalam seminggu?"
D. "Apa warna baju yang dipakai Pak Hasan?"
4. Manakah pernyataan yang paling tepat membedakan 'membaca literal' dan 'membaca
inferensial' dalam konteks teks tersebut?
A. Membaca literal dan inferensial adalah hal yang sama.
B. Membaca literal hanya menangkap informasi yang tertulis eksplisit (misalnya Pak Hasan menyapu
halaman), sedangkan membaca inferensial menyimpulkan makna tersirat (misalnya nilai cinta yang
mendasari tindakannya).
C. Membaca literal lebih sulit daripada membaca inferensial.
D. Membaca inferensial hanya digunakan untuk teks nonfiksi.
5. Seorang guru kelas rendah ingin mengajarkan kesadaran fonemik (phonemic awareness)
sebagai dasar literasi. Aktivitas manakah yang paling sesuai?
A. Meminta siswa langsung menulis karangan panjang.
B. Mengajak siswa memisahkan dan menggabungkan bunyi dalam kata sederhana, misalnya
/b/-/u/-/k/-/u/ menjadi 'buku', melalui permainan bunyi yang menyenangkan.
C. Memberikan tes tata bahasa formal kepada siswa kelas 1.
D. Meminta siswa menghafal definisi fonem tanpa praktik.
6. Dalam menilai kemampuan literasi kritis siswa kelas tinggi MI, tugas manakah yang paling
menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS)?A. Meminta siswa menyalin ulang sebuah paragraf.
B. Meminta siswa membandingkan dua teks dengan sudut pandang berbeda mengenai suatu isu, lalu
menyusun pendapat mereka sendiri disertai alasan.
C. Meminta siswa menjawab pertanyaan 'siapa', 'kapan', dan 'di mana' dari sebuah teks pendek.
D. Meminta siswa menghitung jumlah kata dalam sebuah paragraf.
7. Apa strategi yang paling efektif untuk membangun 'meaningful learning' dalam pembelajaran
literasi di kelas rendah?
A. Memberikan teks yang sama sekali tidak berkaitan dengan pengalaman keseharian siswa.
B. Memilih atau menyusun teks yang mengangkat pengalaman, lingkungan, atau nilai kehidupan yang
dekat dengan dunia siswa, sehingga mereka dapat mengaitkan bacaan dengan kehidupan nyata.
C. Meminta siswa menghafal teks tanpa memahami maknanya.
D. Menghindari diskusi setelah membaca teks.
8. Seorang siswa kesulitan memahami teks naratif meskipun sudah lancar membaca kata per kata
(decoding). Diagnosis paling tepat dan tindak lanjutnya adalah:
A. Siswa tersebut malas dan tidak perlu ditindaklanjuti.
B. Siswa mengalami kesenjangan antara kelancaran decoding dan pemahaman (comprehension); guru
perlu memberikan strategi pemahaman seperti memprediksi, merangkum, dan mengajukan pertanyaan
saat membaca.
C. Siswa perlu diminta membaca lebih cepat tanpa strategi tambahan.
D. Siswa harus berhenti belajar literasi sepenuhnya.
9. Manakah contoh soal literasi berbasis HOTS yang tepat untuk teks informasional tentang
menjaga kebersihan lingkungan madrasah?
A. "Sebutkan tiga alat kebersihan yang disebutkan dalam teks."
B. "Menurutmu, aturan mana dalam teks yang paling sulit diterapkan di kelasmu, dan bagaimana solusi
yang bisa kamu usulkan?"
C. "Tuliskan ulang paragraf pertama teks tersebut."
D. "Berapa jumlah paragraf dalam teks tersebut?"
10. Bagaimana literasi dapat difasilitasi secara 'joyful' tanpa mengurangi kedalaman pemahaman,
misalnya untuk mengajarkan struktur teks narasi?
A. Memberikan ceramah panjang tentang struktur narasi tanpa contoh konkret.
B. Menggunakan drama singkat atau permainan peran berdasarkan cerita yang telah dibaca, sehingga
siswa memahami alur, tokoh, dan pesan moral secara aktif dan menyenangkan.
C. Melarang siswa berdiskusi setelah membaca cerita.
D. Menguji struktur narasi hanya melalui hafalan istilah teknis.
B. Numerasi — Penalaran dan Pemecahan Masalah Matematis
11. Bu Aisyah membeli 3 lusin telur dengan harga Rp2.000 lebih murah per lusin dibanding harga
normal Rp30.000. Berapa total uang yang harus ia bayar?
A. Rp84.000
B. Rp90.000
C. Rp88.000
D. Rp96.000
12. Manakah soal cerita yang paling tepat digunakan untuk menilai kemampuan penalaran
numerasi tingkat tinggi siswa kelas 4, dibanding sekadar menghitung?
A. "Hitunglah 24 + 18."B. "Sebuah madrasah ingin membagikan 96 buku secara adil kepada beberapa kelas. Jika setiap kelas
harus menerima jumlah buku yang sama dan tidak ada sisa, kelas apa saja yang mungkin jumlahnya,
dan mengapa?"
C. "Tuliskan angka 96 dalam bentuk kata."
D. "Salin soal 24 + 18 = ... sebanyak tiga kali."
13. Seorang siswa menjawab 1/2 + 1/3 = 2/5. Miskonsepsi apa yang paling mendasari kesalahan
ini, dan bagaimana guru sebaiknya menindaklanjutinya?
A. Siswa tidak memahami sama sekali konsep pecahan; guru harus mengulang dari awal materi
bilangan bulat.
B. Siswa menjumlahkan pembilang dan penyebut secara langsung tanpa menyamakan penyebut; guru
perlu menggunakan alat peraga konkret (misalnya potongan kertas) untuk membangun pemahaman
penyamaan penyebut secara bermakna.
C. Kesalahan ini tidak penting untuk ditindaklanjuti.
D. Siswa seharusnya langsung diberi rumus tanpa penjelasan konsep.
14. Dalam pembelajaran numerasi berbasis Deep Learning, aktivitas manakah yang paling
mencerminkan 'meaningful learning' untuk topik pengukuran panjang?
A. Siswa menghafal tabel konversi satuan tanpa praktik.
B. Siswa mengukur secara langsung panjang meja, papan tulis, dan halaman madrasah menggunakan
penggaris atau meteran, lalu membandingkan hasilnya dalam kelompok.
C. Siswa hanya mengerjakan soal konversi satuan di buku tanpa alat ukur nyata.
D. Siswa menyalin definisi 'panjang' dari kamus.
15. Grafik batang menunjukkan jumlah infak siswa kelas 5 selama 4 minggu: Minggu 1 = Rp50.000,
Minggu 2 = Rp70.000, Minggu 3 = Rp60.000, Minggu 4 = Rp80.000. Manakah kesimpulan yang
paling valid berdasarkan data tersebut?
A. Jumlah infak selalu meningkat setiap minggu tanpa pengecualian.
B. Terdapat tren peningkatan secara umum meskipun sempat menurun pada minggu ketiga, dengan
total infak selama 4 minggu adalah Rp260.000.
C. Infak tertinggi terjadi pada minggu pertama.
D. Data tersebut tidak dapat dijumlahkan.
16. Bagaimana seorang guru kelas dapat mengintegrasikan nilai Kurikulum Cinta ke dalam
pembelajaran numerasi tentang operasi pembagian?
A. Mengajarkan pembagian tanpa konteks apa pun.
B. Menggunakan konteks berbagi hasil kebun madrasah atau kotak makanan secara adil kepada
teman-teman sebagai ilustrasi soal pembagian, sekaligus menanamkan nilai berbagi dan keadilan.
C. Melarang siswa mengaitkan matematika dengan nilai kehidupan.
D. Hanya menggunakan angka abstrak tanpa cerita atau konteks.
17. Manakah pendekatan penilaian numerasi yang paling sesuai dengan prinsip HOTS untuk topik
pola bilangan?
A. Meminta siswa menghafal 10 pola bilangan tanpa memahami aturannya.
B. Memberikan pola bilangan baru yang belum pernah dijumpai siswa, lalu meminta mereka
menemukan aturannya dan memprediksi angka berikutnya disertai penjelasan logika.
C. Hanya meminta siswa menyalin pola bilangan yang sudah ada di buku.
D. Menilai numerasi semata dari kecepatan menjawab tanpa memperhatikan penalaran.
18. Seorang siswa dapat menghitung dengan benar namun kesulitan menerjemahkan soal cerita
ke dalam kalimat matematika. Tindakan pedagogis apa yang paling sesuai prinsip mindful
learning untuk mengatasi hal ini?
A. Memberi lebih banyak soal hitung murni tanpa konteks cerita.B. Mengajak siswa secara sadar mengidentifikasi informasi penting dalam soal cerita langkah demi
langkah (apa yang diketahui, apa yang ditanyakan) sebelum menuliskan kalimat matematikanya.
C. Mengabaikan kesulitan tersebut karena dianggap tidak penting.
D. Meminta siswa menghafal berbagai jenis soal cerita tanpa strategi analisis.
19. Untuk menilai numerasi secara autentik dan bermakna pada topik uang, tugas manakah yang
paling tepat?
A. Tes tertulis menghafal nilai nominal uang tanpa simulasi.
B. Simulasi 'pasar madrasah' di mana siswa berperan sebagai penjual dan pembeli, menghitung total
harga, kembalian, dan mengelola uang secara langsung.
C. Meminta siswa menggambar uang tanpa menghitung nilainya.
D. Hanya menampilkan gambar uang di papan tulis tanpa aktivitas.
20. Bagaimana guru sebaiknya merespons ketika seorang siswa menemukan cara berbeda
(namun benar) untuk menyelesaikan soal penjumlahan dibanding metode yang diajarkan?
A. Menyalahkan siswa karena tidak mengikuti prosedur baku.
B. Mengapresiasi strategi siswa, memintanya menjelaskan alasan di balik caranya, dan menjadikannya
bahan diskusi kelas untuk memperkaya pemahaman bersama.
C. Mengabaikan cara tersebut karena berbeda dari buku teks.
D. Melarang siswa menggunakan cara tersebut lagi di masa depan.
C. Sains — Konsep, Inkuiri, dan Berpikir Ilmiah
Skenario Sains
Seorang siswa menanam dua pot kacang hijau. Pot A diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari
langsung dan disiram setiap hari, sedangkan Pot B diletakkan di tempat gelap namun tetap disiram setiap
hari dengan jumlah air yang sama. Setelah satu minggu, tanaman pada Pot A tumbuh tegak dengan daun
hijau segar, sedangkan tanaman pada Pot B tumbuh tinggi namun kurus, berwarna pucat, dan batangnya
lemah.
21. Berdasarkan skenario tersebut, kesimpulan ilmiah manakah yang paling tepat mengenai peran
cahaya matahari bagi tanaman?
A. Cahaya matahari tidak memengaruhi pertumbuhan tanaman sama sekali.
B. Cahaya matahari berperan penting dalam proses fotosintesis yang memengaruhi kekuatan batang
dan warna daun tanaman.
C. Air adalah satu-satunya faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman.
D. Tanaman di tempat gelap selalu tumbuh lebih sehat.
22. Variabel apa yang dikendalikan (dibuat sama) dalam percobaan tersebut, dan mengapa hal ini
penting secara metodologis?
A. Jenis tanaman dan jumlah air disamakan agar perbandingan hasil percobaan hanya dipengaruhi oleh
variabel cahaya yang diuji.
B. Tidak ada variabel yang dikendalikan dalam percobaan ini.
C. Jumlah air sengaja dibuat berbeda antara Pot A dan Pot B.
D. Jenis pot yang digunakan tidak relevan dengan validitas percobaan.
23. Jika seorang guru kelas ingin menggunakan skenario ini untuk mengajarkan literasi sains
berbasis inkuiri, langkah pembelajaran manakah yang paling sesuai dengan pendekatan Deep
Learning?
A. Langsung memberi tahu siswa kesimpulan percobaan tanpa mereka melakukan pengamatan sendiri.
B. Mengajak siswa merumuskan pertanyaan, memprediksi hasil (hipotesis), melakukan percobaan
sendiri secara berkelompok, mengamati, dan menyimpulkan bersama.
C. Meminta siswa menghafal definisi fotosintesis dari buku teks tanpa praktik.D. Melarang siswa mengajukan pertanyaan selama pembelajaran sains.
24. Bagaimana percobaan tanaman ini dapat dikaitkan secara autentik dengan nilai Kurikulum
Cinta, khususnya cinta terhadap ciptaan Allah?
A. Dengan mengabaikan aspek spiritual sepenuhnya karena sains dianggap murni sekuler.
B. Dengan mengajak siswa merenungkan keteraturan hukum alam (sunnatullah) dalam proses
fotosintesis sebagai tanda kebesaran dan kasih sayang Allah kepada makhluk hidup, sekaligus
menumbuhkan tanggung jawab merawat tanaman.
C. Dengan menghentikan seluruh pembelajaran sains dan menggantinya dengan hafalan doa.
D. Dengan menganggap fenomena alam terjadi secara kebetulan tanpa keteraturan.
25. Manakah pertanyaan yang paling tepat untuk menilai kemampuan berpikir ilmiah tingkat tinggi
siswa setelah melakukan percobaan tanaman tersebut?
A. "Apa warna daun tanaman Pot A?"
B. "Jika kamu ingin menguji pengaruh jenis tanah terhadap pertumbuhan tanaman, bagaimana kamu
akan merancang percobaannya agar hasilnya valid?"
C. "Berapa hari percobaan ini dilakukan?"
D. "Sebutkan nama tanaman yang digunakan dalam percobaan."
26. Seorang siswa menyimpulkan, "Tanaman di tempat gelap tidak butuh cahaya sama sekali
karena tetap tumbuh tinggi." Bagaimana guru sebaiknya menanggapi miskonsepsi ini secara
konstruktif?
A. Membiarkan miskonsepsi tersebut tanpa koreksi.
B. Mengajak siswa mengamati kembali kondisi tanaman secara menyeluruh (warna daun, kekuatan
batang, bukan hanya tinggi), lalu membimbingnya menyimpulkan bahwa pertumbuhan tinggi tanpa
cahaya sebenarnya adalah tanda tanaman yang tidak sehat (etiolasi).
C. Langsung memberi nilai buruk tanpa penjelasan.
D. Mengganti topik pembelajaran karena siswa dianggap tidak mampu.
27. Konsep sains manakah yang paling relevan untuk menjelaskan siklus air dalam pembelajaran
tematik Guru Kelas yang menekankan keterhubungan lintas mata pelajaran
(numerasi-sains-literasi)?
A. Siswa hanya menghafal istilah 'evaporasi', 'kondensasi', dan 'presipitasi' tanpa aktivitas lain.
B. Siswa mengamati proses penguapan air sederhana di kelas, mencatat data suhu dan waktu
(numerasi), lalu menuliskan laporan naratif sederhana tentang pengamatannya (literasi), sambil
mendiskusikan pentingnya menjaga sumber air sebagai anugerah yang harus disyukuri.
C. Konsep siklus air tidak dapat dikaitkan dengan mata pelajaran lain.
D. Siswa hanya menonton video tanpa melakukan pengamatan atau refleksi apa pun.
28. Mengapa penting bagi guru kelas untuk membedakan antara 'observasi' dan 'inferensi' saat
mengajarkan sains kepada siswa MI?
A. Karena keduanya adalah istilah yang sepenuhnya identik dan dapat dipertukarkan.
B. Karena observasi adalah fakta yang diamati langsung melalui panca indra, sedangkan inferensi
adalah kesimpulan atau interpretasi yang dibuat berdasarkan observasi tersebut; kerancuan keduanya
dapat menyebabkan kesimpulan ilmiah yang tidak akurat.
C. Karena inferensi selalu lebih akurat daripada observasi.
D. Karena observasi hanya berlaku untuk pelajaran sains, bukan pelajaran lain.
29. Dalam merancang penilaian sains berbasis proyek untuk topik daur ulang sampah, kriteria
penilaian manakah yang paling mencerminkan prinsip HOTS dan Kurikulum Cinta sekaligus?
A. Hanya menilai kerapian hasil kerajinan tanpa mempertimbangkan proses berpikir.
B. Menilai kemampuan siswa mengidentifikasi masalah sampah di lingkungan madrasah, merancang
solusi daur ulang yang kreatif dan bermanfaat, serta menjelaskan alasan ilmiah dan nilai kepedulianlingkungan di balik solusi tersebut.
C. Menilai kecepatan siswa menyelesaikan proyek tanpa memperhatikan pemahaman konsep.
D. Hanya menilai berdasarkan siapa yang menyelesaikan proyek paling murah.
30. Bagaimana guru dapat menghadirkan unsur 'joyful learning' dalam pembelajaran sains tentang
sifat-sifat benda (padat, cair, gas) tanpa mengorbankan kedalaman konsep?
A. Hanya membacakan definisi ketiga wujud benda dari buku tanpa demonstrasi.
B. Mengadakan eksperimen sederhana dan aman (misalnya mencairkan es batu, meniup balon) yang
melibatkan siswa secara langsung, diselingi diskusi menyenangkan untuk mengaitkan pengamatan
dengan konsep ilmiah di baliknya.
C. Melarang siswa menyentuh atau berinteraksi dengan benda selama pembelajaran.
D. Menilai pemahaman siswa hanya dari kemampuan menghafal definisi wujud benda.
D. Pedagogical Content Knowledge — Deep Learning: Mindful, Meaningful,
Joyful pada Guru Kelas
31. Manakah skenario yang paling tepat menggambarkan penerapan 'mindful learning' dalam
pembelajaran tematik Guru Kelas?
A. Guru terburu-buru menyelesaikan tiga mata pelajaran sekaligus tanpa jeda refleksi.
B. Guru mengajak siswa berhenti sejenak di tengah pembelajaran untuk menyadari apa yang baru saja
mereka pelajari dan bagaimana perasaan mereka terhadap materi tersebut, sebelum melanjutkan ke
aktivitas berikutnya.
C. Guru hanya fokus menyelesaikan target kurikulum tanpa memperhatikan pemahaman siswa.
D. Guru melarang siswa mengajukan pertanyaan reflektif.
32. Sebagai Guru Kelas yang mengintegrasikan literasi, numerasi, dan sains dalam satu tema
(misalnya 'Air Bersih'), manakah rancangan pembelajaran yang paling mencerminkan 'meaningful
learning'?
A. Mengajarkan ketiga mata pelajaran secara terpisah tanpa keterkaitan tema apa pun.
B. Merancang proyek tematik di mana siswa membaca teks tentang pentingnya air bersih (literasi),
menghitung dan membandingkan volume penggunaan air di rumah (numerasi), serta melakukan
percobaan sederhana penyaringan air kotor (sains), semuanya terhubung dalam satu konteks nyata
yang relevan bagi kehidupan siswa.
C. Hanya memberikan soal-soal hitungan tanpa konteks tema apa pun.
D. Meniadakan aktivitas praktik dan hanya menggunakan ceramah.
33. Bagaimana guru dapat merancang penutup pembelajaran (closing) yang mendukung ketiga
pilar Deep Learning sekaligus?
A. Mengakhiri pelajaran secara tiba-tiba tanpa refleksi atau apresiasi apa pun.
B. Mengajak siswa merefleksikan apa yang dipelajari (mindful), menghubungkannya dengan kehidupan
sehari-hari (meaningful), dan menutup dengan permainan singkat atau ungkapan syukur bersama yang
menyenangkan (joyful).
C. Memberikan soal ulangan mendadak tanpa pemberitahuan sebagai penutup.
D. Menggunakan seluruh waktu penutup hanya untuk mencatat pekerjaan rumah.
34. Seorang Guru Kelas mendapati sebagian siswa cepat menguasai numerasi namun lambat
dalam literasi, sementara yang lain sebaliknya. Bagaimana penerapan Deep Learning yang tepat
untuk kondisi ini?
A. Memberikan materi yang identik untuk semua siswa tanpa mempertimbangkan perbedaan kecepatan
belajar.
B. Merancang aktivitas berdiferensiasi yang tetap berbasis tema yang sama dan bermakna, dengan
tingkat dukungan (scaffolding) berbeda pada aspek literasi maupun numerasi sesuai kebutuhanmasing-masing siswa.
C. Mengelompokkan siswa berdasarkan kecepatan belajar lalu membiarkan kelompok yang lambat
tanpa bimbingan tambahan.
D. Menghentikan pembelajaran tematik dan kembali ke pengajaran terpisah tanpa mempertimbangkan
kebutuhan individu.
35. Mengapa penting bagi Guru Kelas menghindari 'surface learning' ketika mengajarkan konsep
numerasi dan sains sekaligus dalam waktu terbatas?
A. Karena surface learning selalu lebih cepat dan karena itu lebih baik digunakan kapan pun.
B. Karena surface learning hanya menghasilkan hafalan prosedural tanpa pemahaman konsep,
sehingga siswa kesulitan mentransfer pengetahuan tersebut ke situasi baru, sedangkan tujuan
pembelajaran adalah pemahaman yang mendalam dan tahan lama.
C. Karena surface learning tidak pernah digunakan dalam pendidikan dasar.
D. Karena keterbatasan waktu mengharuskan guru selalu memilih surface learning.
36. Dalam konteks Kurikulum Nasional yang mendorong pengurangan beban materi demi
penguatan pemahaman mendalam, keputusan manakah yang paling tepat diambil Guru Kelas saat
menyusun rencana pembelajaran tematik?
A. Memaksakan seluruh capaian pembelajaran diajarkan secara dangkal dalam satu pertemuan agar
semua topik 'tercover'.
B. Memilih beberapa capaian pembelajaran kunci untuk didalami secara menyeluruh melalui proyek
tematik lintas literasi-numerasi-sains, dibanding mengejar cakupan materi yang luas namun dangkal.
C. Mengabaikan capaian pembelajaran sama sekali.
D. Hanya berfokus pada satu mata pelajaran dan mengabaikan dua lainnya sepanjang semester.
37. Bagaimana seorang Guru Kelas dapat menilai (assess) ketercapaian ketiga pilar Deep
Learning (mindful, meaningful, joyful) secara praktis dalam pembelajaran sehari-hari?
A. Hanya menggunakan nilai ujian akhir semester sebagai satu-satunya indikator.
B. Menggunakan kombinasi observasi keterlibatan siswa, jurnal refleksi sederhana, dan hasil
karya/proyek siswa yang menunjukkan pemahaman serta keterhubungan emosional dengan materi.
C. Mengabaikan penilaian proses karena dianggap tidak penting.
D. Menilai hanya berdasarkan kehadiran siswa di kelas.
38. Apa risiko utama jika seorang guru menerapkan aktivitas yang 'joyful' (menyenangkan) namun
tidak dirancang dengan tujuan pembelajaran yang jelas?
A. Tidak ada risiko sama sekali karena kesenangan siswa adalah tujuan utama pendidikan.
B. Aktivitas berisiko menjadi hiburan semata tanpa capaian pembelajaran yang jelas, sehingga waktu
belajar tidak efektif dan kompetensi target tidak tercapai secara mendalam.
C. Aktivitas yang menyenangkan pasti selalu menghasilkan pembelajaran yang mendalam.
D. Risiko hanya bersifat administratif, tidak memengaruhi pembelajaran.
39. Bagaimana refleksi guru (teacher reflection) berperan dalam siklus perbaikan pembelajaran
berbasis Deep Learning untuk Guru Kelas?
A. Refleksi tidak diperlukan jika target kurikulum sudah tercapai secara administratif.
B. Refleksi memungkinkan guru mengevaluasi secara kritis apakah pembelajaran yang dirancang
benar-benar mendorong kesadaran, kebermaknaan, dan kegembiraan belajar siswa, sehingga dapat
melakukan penyesuaian berkelanjutan pada rancangan berikutnya.
C. Refleksi hanya relevan bagi guru baru, bukan guru berpengalaman.
D. Refleksi sebaiknya dilakukan sekali dalam satu tahun ajaran saja.
40. Manakah pernyataan yang paling akurat mengenai hubungan antara Deep Learning dan
kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam konteks kebijakan pendidikan Indonesia saat ini?A. Istilah 'Deep Learning' dalam kebijakan pendidikan Indonesia identik dan berasal dari konsep deep
learning pada bidang AI/machine learning.
B. Meskipun menggunakan istilah yang sama, 'Deep Learning' dalam konteks pendidikan Indonesia
merujuk pada pendekatan pembelajaran mindful-meaningful-joyful, berbeda dari konsep teknis deep
learning pada bidang kecerdasan buatan.
C. Deep Learning dalam pendidikan mengharuskan penggunaan perangkat AI di setiap pembelajaran.
D. Tidak ada definisi resmi mengenai istilah Deep Learning dalam kebijakan pendidikan Indonesia.
E. Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Literasi, Numerasi, dan Sains
41. Menurut semangat Kurikulum Berbasis Cinta, apa posisi kurikulum ini terhadap mata pelajaran
seperti literasi, numerasi, dan sains di Guru Kelas?
A. Kurikulum Cinta menggantikan seluruh mata pelajaran akademik dengan pendidikan karakter semata.
B. Kurikulum Cinta berperan sebagai jiwa (soul) yang meresap ke dalam seluruh mata pelajaran,
termasuk literasi, numerasi, dan sains, tanpa menghilangkan esensi akademiknya.
C. Kurikulum Cinta tidak memiliki kaitan apa pun dengan mata pelajaran akademik di Guru Kelas.
D. Kurikulum Cinta hanya berlaku untuk mata pelajaran agama.
42. Aktivitas numerasi manakah yang paling mencerminkan nilai 'cinta kepada sesama manusia'
dalam Kurikulum Cinta?
A. Lomba matematika yang mempermalukan siswa yang salah menjawab di depan kelas.
B. Proyek menghitung dan mengumpulkan sumbangan (infak/sedekah) kelas untuk membantu teman
yang membutuhkan, sekaligus melatih keterampilan penjumlahan dan pencatatan data.
C. Tes numerasi individual tanpa unsur kepedulian sosial apa pun.
D. Kompetisi yang menonjolkan siswa tercepat tanpa menghargai proses siswa lain.
43. Bagaimana literasi dapat menjadi sarana menumbuhkan 'cinta kepada lingkungan' sesuai
Kurikulum Cinta?
A. Dengan menghindari topik lingkungan sama sekali dalam bacaan siswa.
B. Dengan memilih dan mendiskusikan teks-teks yang mengangkat isu pelestarian alam, lalu mengajak
siswa menulis komitmen atau puisi sederhana tentang kepedulian terhadap lingkungan sekitar
madrasah.
C. Dengan hanya menggunakan teks tentang teknologi tanpa kaitan lingkungan.
D. Dengan melarang siswa mengekspresikan perasaan terhadap lingkungan melalui tulisan.
44. Bagaimana pembelajaran sains tentang tubuh manusia dapat diintegrasikan dengan nilai 'cinta
kepada diri sendiri dan Sang Pencipta' dalam Kurikulum Cinta?
A. Dengan mengabaikan aspek rasa syukur dan hanya berfokus pada hafalan nama organ tubuh.
B. Dengan mengajak siswa mempelajari keajaiban dan keteraturan fungsi organ tubuh manusia sambil
merenungkan rasa syukur atas nikmat kesehatan sebagai karunia Allah, serta menumbuhkan kesadaran
menjaga kesehatan diri.
C. Dengan menganggap topik tubuh manusia tidak relevan untuk dikaitkan dengan nilai spiritual.
D. Dengan menghindari diskusi apa pun tentang rasa syukur dalam pembelajaran sains.
45. Indikator manakah yang paling menunjukkan bahwa integrasi Kurikulum Cinta dalam
pembelajaran Guru Kelas berjalan otentik, bukan sekadar formalitas?
A. Guru menyebutkan kata 'cinta' di awal pelajaran tanpa perubahan aktivitas apa pun.
B. Nilai-nilai cinta secara konsisten tercermin dalam desain tugas, interaksi guru-siswa, dan pilihan
konteks pembelajaran literasi, numerasi, maupun sains sepanjang proses belajar.
C. Kurikulum Cinta hanya ditempel sebagai poster di dinding kelas tanpa memengaruhi praktik
mengajar.
D. Guru menganggap nilai cinta tidak perlu direncanakan secara sengaja.F. Asesmen, Evaluasi, dan Refleksi Pembelajaran Guru Kelas
46. Manakah bentuk asesmen yang paling sesuai dengan prinsip HOTS dan Deep Learning untuk
mengevaluasi capaian pembelajaran tematik lintas literasi-numerasi-sains di akhir semester?
A. Tes pilihan ganda yang hanya menanyakan definisi dan fakta terpisah dari ketiga bidang.
B. Proyek penilaian autentik (misalnya menyusun laporan sederhana tentang isu lingkungan madrasah
yang memuat data terukur, narasi tertulis, dan penjelasan konsep sains) yang menuntut integrasi
pemahaman dan keterampilan lintas bidang.
C. Hanya menilai kerapian buku catatan siswa.
D. Menilai semata dari kehadiran siswa selama satu semester.
47. Seorang Guru Kelas melakukan refleksi akhir semester dan menyadari bahwa aktivitas
numerasinya cenderung prosedural, sementara literasi dan sains sudah cukup bermakna.
Langkah reflektif profesional apa yang paling tepat diambil?
A. Mengabaikan temuan tersebut karena nilai ujian numerasi siswa tetap tinggi.
B. Menganalisis penyebab kesenjangan tersebut, lalu merancang aktivitas numerasi berikutnya agar
lebih kontekstual dan terhubung dengan pengalaman nyata siswa, sejalan dengan pendekatan yang
sudah berhasil diterapkan pada literasi dan sains.
C. Menghentikan pembelajaran numerasi sepenuhnya karena dianggap gagal.
D. Menyalahkan siswa atas kurangnya kebermaknaan pembelajaran numerasi.
48. Bagaimana umpan balik (feedback) yang selaras dengan Kurikulum Cinta sebaiknya
disampaikan ketika siswa melakukan kesalahan dalam menjawab soal numerasi di depan kelas?
A. "Jawabanmu salah total, kamu memang tidak pandai matematika."
B. "Terima kasih sudah berani mencoba menjawab. Mari kita telusuri bersama langkah mana yang bisa
diperbaiki."
C. Mendiamkan kesalahan tanpa memberikan tanggapan apa pun.
D. Membandingkan siswa tersebut secara terbuka dengan siswa lain yang menjawab benar.
49. Dalam menyusun instrumen self-assessment (penilaian diri) untuk siswa MI terkait
pembelajaran sains, pertanyaan manakah yang paling membangun kesadaran metakognitif
(mindful) siswa?
A. "Apakah kamu hadir di kelas hari ini?"
B. "Bagian mana dari percobaan hari ini yang paling kamu pahami, dan bagian mana yang masih
membingungkanmu?"
C. "Berapa nilai yang ingin kamu dapatkan?"
D. "Apakah gurumu mengajar dengan cepat?"
50. Sebagai penutup evaluasi tahunan, seorang Guru Kelas diminta menuliskan refleksi mendalam
mengenai praktik mengajarnya. Manakah pernyataan refleksi yang menunjukkan tingkat evaluasi
diri profesional paling tinggi?
A. "Saya sudah menyelesaikan seluruh buku paket, jadi pembelajaran saya pasti berhasil."
B. "Tahun ini saya menyadari bahwa pembelajaran tematik yang menghubungkan literasi, numerasi, dan
sains dengan nilai-nilai kepedulian membuat siswa lebih antusias dan memahami materi lebih
mendalam; ke depan saya akan memperkuat integrasi ini terutama pada numerasi yang masih perlu
dibuat lebih kontekstual."
C. "Saya tidak perlu merefleksikan praktik mengajar karena sudah mengajar bertahun-tahun."
D. "Refleksi tidak penting selama siswa naik kelas."KUNCI JAWABAN DAN PEMBAHASAN SINGKAT
No.
Kunci
Pembahasan Singkat
1
B
Teks menunjukkan bagaimana tindakan yang dilandasi nilai cinta dan kepedulian dari Pak Hasan
menginspirasi Dinda dan teman-temannya untuk berubah — inilah gagasan utamanya, bukan
sekadar deskripsi aktivitas fisik.
2
B
Kalimat 'Ia tidak pernah diminta... tetapi ia merasa' menunjukkan kesadaran dan ketulusan batin
(mindful), bukan keterpaksaan atau kepatuhan formal.
3
B
Pertanyaan B menuntut siswa berempati, merefleksikan diri, dan merancang tindakan nyata
(evaluate & create) — ciri khas HOTS yang sekaligus menanamkan nilai cinta.
4
B
Pemahaman literal berhenti pada informasi tersurat, sedangkan inferensial menuntut
penyimpulan makna tersirat — kompetensi literasi tingkat tinggi yang penting dikuasai guru
kelas.
5
B
Kesadaran fonemik dibangun melalui manipulasi bunyi bahasa secara konkret dan
menyenangkan, sesuai tahap perkembangan literasi awal dan prinsip joyful learning.
6
B
Membandingkan sudut pandang dan menyusun argumen sendiri menuntut analisis, evaluasi,
dan sintesis — kategori tertinggi dalam taksonomi berpikir, berbeda dari tugas literal sederhana.
7
B
Meaningful learning tercapai ketika materi bacaan terhubung dengan pengalaman nyata siswa,
sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam dan bertahan lama.
8
B
Kelancaran decoding tidak menjamin pemahaman; guru perlu mengajarkan strategi metakognitif
(memprediksi, merangkum, bertanya) untuk menjembatani kesenjangan tersebut — praktik
reflektif berbasis diagnosis, bukan asumsi.
9
B
Pertanyaan yang meminta evaluasi kesulitan penerapan dan pengajuan solusi menuntut analisis
dan kreasi, ciri HOTS, dibanding pertanyaan faktual sederhana pada opsi lain.
10
B
Drama atau bermain peran memungkinkan siswa mengalami langsung unsur cerita (alur, tokoh,
pesan) secara aktif dan menyenangkan, memperdalam pemahaman tanpa mengorbankan
kedalaman materi.
11
A
Harga per lusin setelah diskon = Rp30.000 - Rp2.000 = Rp28.000. Total untuk 3 lusin = 3 x
Rp28.000 = Rp84.000.
12
B
Soal B menuntut siswa memahami konsep faktor dan pembagian secara kontekstual serta
menjelaskan alasan (reasoning), bukan sekadar operasi hitung sederhana — ciri numerasi
HOTS.
13
B
Kesalahan umum ini muncul dari penjumlahan pembilang dan penyebut secara langsung;
intervensi terbaik menggunakan representasi konkret agar siswa memahami makna penyamaan
penyebut, bukan sekadar menghafal prosedur.
14
B
Pengukuran langsung terhadap benda nyata menghubungkan konsep abstrak (satuan panjang)
dengan pengalaman konkret siswa, membangun pemahaman yang bermakna dan tahan lama.
15
B
Analisis data yang cermat menunjukkan tren naik secara umum namun dengan penurunan
sementara di minggu ke-3; total keseluruhan adalah 50.000+70.000+60.000+80.000 = 260.000
— kesimpulan B paling akurat dan lengkap.
16
B
Konteks berbagi secara adil menghubungkan konsep matematis pembagian dengan nilai cinta
dan kepedulian terhadap sesama, sesuai semangat Kurikulum Berbasis Cinta.
17
B
Menemukan aturan pola baru dan memprediksi kelanjutannya disertai penjelasan menuntut
penalaran induktif dan justifikasi logis — indikator kuat kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam
numerasi.No.
Kunci
Pembahasan Singkat
18
B
Membimbing siswa secara sadar dan bertahap mengidentifikasi unsur penting soal cerita
(mindful) membangun keterampilan menerjemahkan masalah nyata ke representasi matematis
secara mendalam.
19
B
Simulasi transaksi jual-beli memberikan pengalaman autentik dan menyenangkan (joyful)
sekaligus menuntut penerapan konsep nilai uang, penjumlahan, dan pengurangan secara nyata.
20
B
Mengapresiasi dan mendiskusikan strategi alternatif siswa mendorong fleksibilitas berpikir
matematis (mathematical flexibility) dan menciptakan iklim belajar yang aman, reflektif, dan
menghargai proses berpikir setiap anak.
21
B
Perbedaan hasil kedua pot (batang lemah dan pucat pada Pot B akibat kurangnya cahaya)
menunjukkan peran penting cahaya matahari dalam fotosintesis yang memengaruhi kekuatan
dan warna tanaman.
22
A
Mengendalikan variabel lain (jenis tanaman, jumlah air) memastikan bahwa perbedaan hasil
murni disebabkan oleh variabel bebas yang diuji (cahaya), sehingga kesimpulan ilmiahnya valid
— prinsip dasar metode ilmiah.
23
B
Siklus inkuiri (bertanya, memprediksi, bereksperimen, mengamati, menyimpulkan) yang
dilakukan siswa secara aktif dan kolaboratif mencerminkan pembelajaran sains yang mindful,
meaningful, dan joyful sekaligus.
24
B
Merenungkan keteraturan alam sebagai tanda kebesaran Allah menumbuhkan rasa syukur dan
tanggung jawab merawat ciptaan-Nya, memadukan literasi sains dengan nilai spiritual secara
organik, bukan menggantikan sains itu sendiri.
25
B
Merancang percobaan baru dengan variabel berbeda menuntut siswa menerapkan (transfer)
pemahaman tentang kontrol variabel pada konteks baru — indikator kuat berpikir ilmiah tingkat
tinggi (create & apply).
26
B
Membimbing siswa mengamati bukti lebih lengkap dan merekonstruksi pemahamannya sendiri
(bukan sekadar dikoreksi searah) mencerminkan pendekatan konstruktivis yang mindful dan
menghormati proses berpikir anak.
27
B
Pembelajaran tematik yang memadukan pengamatan sains, pencatatan data numerik, penulisan
laporan literasi, dan refleksi nilai syukur mencerminkan integrasi utuh kompetensi Guru Kelas
sekaligus nilai Kurikulum Cinta.
28
B
Membedakan fakta yang diamati (observasi) dari kesimpulan yang ditarik (inferensi) adalah
keterampilan berpikir ilmiah mendasar yang mencegah siswa mencampuradukkan fakta dan
opini dalam bernalar.
29
B
Kriteria yang menuntut identifikasi masalah, perancangan solusi kreatif, dan penjelasan alasan
ilmiah sekaligus nilai kepedulian lingkungan mengukur berpikir tingkat tinggi secara utuh,
terintegrasi dengan nilai cinta terhadap alam.
30
B
Eksperimen langsung yang aman dan menyenangkan, dipadukan dengan diskusi konseptual,
membangun pemahaman mendalam (deep) sekaligus pengalaman belajar yang
menggembirakan (joyful) bagi siswa.
31
B
Jeda reflektif yang mengajak siswa menyadari proses dan perasaan belajarnya adalah inti dari
mindful learning, membangun kesadaran metakognitif sejak dini.
32
B
Integrasi tematik yang menghubungkan literasi, numerasi, dan sains dalam satu konteks nyata
(air bersih) menciptakan pembelajaran yang koheren dan bermakna, bukan potongan-potongan
materi yang terpisah.
33
B
Penutup pembelajaran yang efektif mengintegrasikan refleksi kesadaran, keterkaitan makna, dan
elemen menyenangkan secara berurutan, menguatkan ketiga pilar Deep Learning sekaligus.No.
Kunci
Pembahasan Singkat
34
B
Diferensiasi yang tetap mempertahankan tema bermakna sambil menyesuaikan tingkat
dukungan sesuai kebutuhan individu mencerminkan penerapan Deep Learning yang responsif
terhadap keragaman siswa.
35
B
Meski waktu terbatas, mengutamakan surface learning berisiko menghasilkan pemahaman
dangkal yang tidak dapat ditransfer; guru perlu memprioritaskan kedalaman meski cakupan
materi harus disesuaikan (dikurangi/difokuskan).
36
B
Filosofi Deep Learning mendorong pengurangan cakupan materi demi kedalaman pemahaman;
memilih capaian pembelajaran kunci untuk didalami secara tematik lebih efektif dibanding
mengejar keluasan yang dangkal.
37
B
Penilaian autentik dan menyeluruh terhadap ketiga pilar memerlukan kombinasi observasi
proses, refleksi diri siswa, dan hasil karya nyata, bukan sekadar skor ujian tunggal.
38
B
Joyful learning harus tetap terikat pada tujuan pembelajaran yang jelas; tanpa itu, aktivitas
menyenangkan berisiko menjadi hiburan kosong yang tidak berkontribusi pada capaian
kompetensi.
39
B
Refleksi berkelanjutan adalah inti praktik profesional guru untuk terus menyesuaikan strategi
pembelajaran agar semakin efektif mendukung mindful, meaningful, dan joyful learning bagi
siswa.
40
B
Penting bagi guru memahami bahwa istilah Deep Learning yang digunakan dalam kebijakan
pendidikan merujuk pada pendekatan pedagogis (mindful, meaningful, joyful), bukan teknologi
kecerdasan buatan, meski menggunakan istilah yang sama.
41
B
Kurikulum Berbasis Cinta diposisikan sebagai jiwa pendidikan yang meresap ke seluruh mata
pelajaran, memperkaya bukan menggantikan esensi akademik masing-masing bidang.
42
B
Proyek menghitung sumbangan untuk membantu sesama memadukan keterampilan numerasi
dengan nilai kepedulian dan cinta kepada sesama manusia secara konkret dan bermakna.
43
B
Memilih teks bertema lingkungan dan mendorong ekspresi tulisan reflektif (misalnya puisi atau
komitmen) menumbuhkan kepedulian dan cinta terhadap alam melalui kompetensi literasi secara
autentik.
44
B
Merenungkan keteraturan dan keajaiban fungsi tubuh manusia sebagai karunia Allah
menumbuhkan rasa syukur dan cinta pada diri sendiri sekaligus Sang Pencipta, memperkaya
pembelajaran sains dengan dimensi spiritual yang organik.
45
B
Integrasi otentik ditandai dengan konsistensi nilai cinta yang tertanam dalam desain tugas,
interaksi, dan konteks pembelajaran secara nyata, bukan sekadar simbol atau ucapan tanpa
perubahan praktik.
46
B
Proyek autentik yang mengintegrasikan data, narasi, dan konsep sains menuntut penerapan
pengetahuan lintas bidang secara bermakna, jauh lebih mencerminkan HOTS dibanding tes
fakta terpisah.
47
B
Refleksi profesional yang baik menganalisis akar penyebab kesenjangan dan merancang
perbaikan konkret, memanfaatkan keberhasilan praktik pada bidang lain sebagai rujukan
perbaikan — bukan menyalahkan siswa atau mengabaikan temuan.
48
B
Umpan balik yang mengapresiasi keberanian mencoba dan mengajak perbaikan bersama
mencerminkan kasih sayang dan rasa hormat terhadap proses belajar siswa, sesuai nilai
Kurikulum Cinta, tanpa mengurangi ketepatan koreksi akademik.
49
B
Pertanyaan yang mengajak siswa mengenali sendiri bagian yang dipahami dan yang
membingungkan membangun kesadaran metakognitif terhadap proses belajarnya sendiri, inti
dari mindful learning.No.
Kunci
Pembahasan Singkat
50
B
Refleksi profesional tertinggi mencakup pengenalan capaian bermakna berbasis bukti,
identifikasi area yang masih perlu diperkuat, dan rencana tindak lanjut yang konkret — bukan
sekadar mengukur keberhasilan dari penyelesaian materi atau kelulusan siswa semata.
Disusun sebagai bahan latihan mandiri persiapan AKGTK Madrasah Tahun 2026 (Mapel Guru Kelas: Literasi, Numerasi, Sains) —
mengacu pada Surat Dit. GTK Madrasah No. B-86/Dt.I.II/KP.02/09/2026 dan Panduan Implementasi Kurikulum Cinta, KSKK Ditjen
Pendis Kemenag RI. Bukan dokumen resmi Kementerian Agama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar