Rabu, 16 September 2026

AKGTK PUSTAKAWAN 2026


 

AKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 1
PERANGKAT LATIHAN SOAL
AKGTK MADRASAH
Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan
BIDANG KOMPETENSI:
PUSTAKAWAN PROFESIONAL
50 Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)
Terintegrasi dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta
(Kurikulum Cinta) Kementerian Agama RI
Jumlah Soal
: 50 butir pilihan ganda (5 opsi)
Bentuk
: Studi kasus / skenario — berorientasi HOTS (analisis, evaluasi, kreasi)
Cakupan Kompetensi
: Profesional, Pedagogik, Kepribadian, dan Sosial Pustakawan
Nilai Terintegrasi
: Kurikulum Cinta (nilai mahabbah) & Pembelajaran Mendalam
Dilengkapi
: Kunci jawaban dan pembahasan singkat setiap butir soal
Catatan: Naskah ini disusun sebagai bahan latihan mandiri untuk mempersiapkan pelaksanaan AKGTK bagi
pustakawan madrasah (RA/MI/MTs/MA), mengacu pada kerangka kompetensi pustakawan sekolah/madrasah
serta arah kebijakan integrasi Kurikulum Cinta dan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang
tengah dikembangkan Kementerian Agama RI. Bukan merupakan naskah resmi dari Direktorat GTK Madrasah
Kemenag RI.AKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 2
PETUNJUK PENGERJAAN
1. Bacalah setiap soal dengan cermat. Sebagian besar soal berbentuk studi kasus/skenario yang menuntut
kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan (HOTS), bukan sekadar mengingat fakta.
2. Pilihlah satu jawaban yang paling tepat di antara lima opsi (A, B, C, D, atau E).
3. Naskah terbagi dalam lima bagian: (A) Pengorganisasian & Pengelolaan Informasi, (B) Literasi Informasi &
Layanan Pemustaka, (C) Kepribadian & Sosial, (D) Integrasi Nilai Kurikulum Cinta, dan (E) Peran Pustakawan
dalam Pembelajaran Mendalam.
4. Kunci jawaban dan pembahasan singkat tersedia pada bagian akhir naskah untuk kebutuhan evaluasi diri
setelah berlatih.
5. Gunakan naskah ini sebagai sarana refleksi kompetensi, bukan sekadar hafalan jawaban — selaras dengan
semangat pembelajaran mendalam dan nilai cinta dalam proses belajar.
A. Kompetensi Profesional: Pengorganisasian dan Pengelolaan Informasi
Mengukur kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan dalam pengelolaan koleksi, klasifikasi,
katalogisasi, dan sistem informasi perpustakaan madrasah.
1. Seorang pustakawan MTs menemukan bahwa koleksi buku IPA terbitan lama (di atas 15 tahun)
menumpuk di rak namun jarang dipinjam, sementara siswa lebih sering mencari informasi terbaru
melalui internet. Berdasarkan prinsip manajemen koleksi, langkah paling tepat yang mencerminkan
analisis berbasis data adalah...
A. Menambah jumlah eksemplar buku IPA lama agar rak terlihat penuh
B. Melakukan weeding (penyiangan) berdasarkan data sirkulasi dan kemutakhiran, lalu mengalokasikan
anggaran untuk koleksi baru dan sumber digital terkini
C. Memindahkan seluruh buku IPA ke gudang tanpa evaluasi lebih lanjut
D. Melarang siswa mengakses internet agar tetap menggunakan buku cetak
E. Membiarkan koleksi tetap ada karena penyiangan dianggap tidak etis
2. Dalam sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC), sebuah buku berjudul "Metode
Tahfizh Al-Qur'an untuk Anak" perlu diletakkan pada satu nomor kelas utama. Pertimbangan HOTS
yang tepat dalam menentukan notasi adalah...
A. Memilih nomor kelas berdasarkan judul buku secara harfiah tanpa membaca isi
B. Menganalisis subjek utama (pendidikan Al-Qur'an/Islam) dan tujuan penggunaan buku di madrasah, lalu
memilih notasi yang paling merepresentasikan isi dominan
C. Menempatkan buku pada kelas 000 (karya umum) karena mencakup banyak topik
D. Mengklasifikasikan berdasarkan warna sampul buku
E. Menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada penerbitAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 3
3. Pustakawan hendak menyusun kebijakan pengembangan koleksi (collection development policy)
yang selaras dengan kurikulum madrasah. Indikator keberhasilan kebijakan tersebut yang paling
menunjukkan pemikiran evaluatif adalah...
A. Jumlah judul buku yang dibeli setiap tahun meningkat drastis
B. Koleksi selalu dibeli dari satu penerbit langganan
C. Kesesuaian antara capaian pembelajaran, kebutuhan riil pemustaka, dan tingkat pemanfaatan koleksi
dievaluasi secara berkala
D. Semua buku disimpan permanen tanpa pernah dievaluasi ulang
E. Anggaran perpustakaan dihabiskan sebelum akhir tahun anggaran
4. Sebuah madrasah memiliki naskah kitab kuning bersejarah yang mulai rapuh. Pustakawan diminta
menentukan strategi preservasi yang paling tepat dengan mempertimbangkan keterbatasan
anggaran. Tindakan yang paling rasional adalah...
A. Membiarkan naskah tetap dipinjamkan bebas agar bermanfaat maksimal
B. Melakukan digitalisasi (alih media) untuk akses, sambil menyimpan naskah asli pada kondisi terkendali
(suhu, kelembapan) dan membatasi akses fisik
C. Membakar naskah karena dianggap tidak relevan lagi
D. Menjual naskah kepada kolektor untuk menambah anggaran perpustakaan
E. Melaminating seluruh halaman naskah agar terlihat rapi
5. Perpustakaan madrasah baru saja mengimplementasikan sistem otomasi (misalnya SLiMS).
Setelah tiga bulan berjalan, data menunjukkan proses sirkulasi lebih cepat namun laporan statistik
pemanfaatan tidak akurat. Analisis paling tepat terhadap masalah ini adalah...
A. Sistem otomasi tidak berguna dan sebaiknya kembali ke sistem manual
B. Kemungkinan terjadi kesalahan input data bibliografi atau keanggotaan yang perlu diaudit dan diperbaiki
melalui verifikasi data secara sistematis
C. Data statistik memang tidak penting bagi perpustakaan madrasah
D. Menyalahkan siswa sebagai pengguna sistem
E. Menghapus seluruh data dan memulai dari nol tanpa evaluasi penyebab
6. Untuk mendukung asesmen mutu perpustakaan sesuai Standar Nasional Perpustakaan (SNP),
pustakawan perlu menyiapkan bukti kinerja. Dokumen yang paling relevan untuk menunjukkan
capaian layanan berbasis kebutuhan pemustaka adalah...
A. Foto rak buku yang tertata rapi saja
B. Data statistik kunjungan, sirkulasi, program literasi, dan umpan balik pemustaka yang dianalisis secara
berkala
C. Daftar nama pustakawan yang pernah bertugas
D. Brosur promosi perpustakaan dari tahun-tahun sebelumnya
E. Surat keterangan dari kepala madrasah tanpa data pendukungAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 4
7. Seorang siswa mencari referensi tentang "akhlak dalam pergaulan remaja" namun tajuk subjek
pada katalog perpustakaan hanya menggunakan istilah "Etika Islam". Tindakan pustakawan yang
paling mencerminkan kompetensi pengindeksan yang baik adalah...
A. Mengatakan bahwa buku tersebut tidak tersedia
B. Menambahkan entri tajuk subjek terkait (cross-reference) seperti "Akhlak Remaja" yang merujuk ke "Etika
Islam" agar temu kembali informasi lebih mudah
C. Menyuruh siswa mencari sendiri di rak tanpa bantuan
D. Mengganti seluruh sistem katalog karena dianggap gagal total
E. Meminta siswa mencari di internet saja
8. Pustakawan mengamati bahwa koleksi bertema kearifan lokal dan moderasi beragama jarang
dimanfaatkan meskipun relevan dengan visi madrasah. Langkah yang paling menunjukkan
kemampuan berpikir tingkat tinggi (evaluasi dan kreasi) adalah...
A. Membiarkan koleksi tersebut apa adanya
B. Menganalisis penyebab rendahnya minat (penempatan, promosi, relevansi topik pembelajaran), lalu
merancang program pemajangan tematik dan integrasi dengan mata pelajaran
C. Menghapus koleksi tersebut dari katalog
D. Menyalahkan guru karena tidak merekomendasikan buku tersebut
E. Menunggu instruksi dari kepala madrasah tanpa inisiatif
9. Madrasah berencana membangun repositori digital untuk menyimpan karya tulis siswa dan guru
(karya ilmiah remaja, modul ajar). Pertimbangan paling krusial yang harus dianalisis pustakawan
sebelum implementasi adalah...
A. Warna tampilan antarmuka repositori semata
B. Kebijakan hak cipta, metadata standar, keberlanjutan penyimpanan (backup), dan aksesibilitas bagi
pengguna
C. Jumlah maksimal file yang bisa diunggah dalam sehari
D. Nama domain website yang menarik
E. Jumlah like di media sosial madrasah
10. Dua madrasah berdekatan memiliki koleksi yang saling melengkapi namun anggaran terbatas.
Strategi profesional yang paling efisien untuk memperluas akses informasi bagi pemustaka kedua
madrasah adalah...
A. Masing-masing membeli koleksi yang sama agar tidak saling bergantung
B. Membangun kerja sama resource sharing (silang layan) dan katalog bersama antarperpustakaan
madrasah
C. Menutup salah satu perpustakaan karena dianggap tidak efisien
D. Melarang siswa dari madrasah lain menggunakan perpustakaan
E. Membiarkan kondisi seadanya tanpa kolaborasiAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 5
11. Saat proses akreditasi perpustakaan madrasah, asesor menemukan bahwa kebijakan
pengembangan koleksi tertulis namun tidak pernah diperbarui sejak lima tahun lalu. Interpretasi
HOTS yang tepat atas temuan ini adalah...
A. Hal ini tidak menjadi masalah karena kebijakan tertulis sudah cukup
B. Kebijakan yang statis berisiko tidak lagi relevan dengan perkembangan kurikulum dan kebutuhan
pemustaka sehingga perlu ditinjau dan direvisi secara berkala
C. Kebijakan tertulis sebaiknya dihapus saja agar lebih fleksibel
D. Masalah ini sepenuhnya tanggung jawab kepala madrasah, bukan pustakawan
E. Akreditasi tidak memerlukan bukti pembaruan kebijakan
12. Guru mata pelajaran Fikih meminta perpustakaan menyediakan koleksi pendukung Kurikulum
Merdeka untuk topik "Muamalah Kontemporer". Pustakawan hanya memiliki koleksi lama bertema
fikih klasik. Respons profesional yang paling tepat adalah...
A. Menolak permintaan karena koleksi yang ada dianggap sudah cukup
B. Melakukan analisis kesenjangan (gap analysis) koleksi terhadap capaian pembelajaran, lalu mengusulkan
pengadaan sumber baru dan sumber digital terkini yang relevan
C. Menyuruh guru mencari sendiri di internet
D. Meminjam buku dari perpustakaan pribadi tanpa mencatat dalam koleksi resmi
E. Mengabaikan permintaan karena bukan tugas pustakawan
13. Data sirkulasi menunjukkan koleksi fiksi remaja dipinjam 5 kali lebih banyak dibanding koleksi
nonfiksi sains populer. Keputusan berbasis data yang paling tepat bagi pustakawan adalah...
A. Menghentikan pengadaan koleksi nonfiksi sains sepenuhnya
B. Menelaah faktor penyebab (daya tarik penyajian, promosi, kesesuaian tingkat baca), lalu merancang
strategi promosi dan pemajangan yang menyeimbangkan minat baca lintas genre
C. Memaksa siswa membaca nonfiksi lebih banyak melalui hukuman
D. Membeli fiksi remaja dalam jumlah tak terbatas
E. Mengabaikan data karena dianggap tidak penting
14. Perpustakaan madrasah mempertimbangkan pemasangan RFID untuk keamanan koleksi.
Pertimbangan yang paling mencerminkan analisis biaya-manfaat (cost-benefit) yang matang adalah...
A. Memasang RFID karena sedang tren di media sosial
B. Membandingkan tingkat kehilangan koleksi, anggaran investasi, efisiensi layanan sirkulasi jangka panjang,
serta kesiapan SDM sebelum memutuskan
C. Memasang tanpa evaluasi karena perpustakaan lain sudah memasangnya
D. Menunda selamanya tanpa pernah mengevaluasi kebutuhan
E. Meminta siswa membayar biaya pemasangan RFID
15. Pustakawan diminta menyusun laporan kinerja tahunan untuk kepala madrasah. Penyajian data
yang paling menunjukkan kemampuan berpikir analitis-evaluatif adalah...
A. Menyalin ulang laporan tahun sebelumnya
B. Menyajikan tren data (kunjungan, sirkulasi, capaian program literasi) disertai interpretasi penyebab tren
dan rekomendasi tindak lanjut
C. Hanya menampilkan jumlah total buku yang dimiliki
D. Menyerahkan seluruh data mentah tanpa analisis
E. Menulis laporan berdasarkan asumsi tanpa data pendukungAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 6
B. Kompetensi Profesional: Literasi Informasi dan Layanan Pemustaka
Mengukur kemampuan merancang, menganalisis, dan mengevaluasi program literasi informasi serta layanan rujukan bagi
peserta didik dan pendidik.
16. Seorang siswa kesulitan membedakan sumber informasi yang kredibel dan hoaks saat
mengerjakan tugas riset. Pendekatan literasi informasi yang paling sesuai bagi pustakawan untuk
mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah...
A. Memberikan langsung jawaban tugas kepada siswa
B. Membimbing siswa menggunakan kerangka evaluasi sumber (mis. otoritas, tujuan, kemutakhiran, bias)
sehingga siswa mampu menilai sendiri kredibilitas sumber
C. Melarang siswa menggunakan internet sama sekali
D. Menyuruh siswa hanya membaca satu buku tanpa pembanding
E. Membiarkan siswa mencari sendiri tanpa pendampingan
17. Dalam sesi reference interview, seorang siswa hanya mengatakan "saya butuh buku tentang
sejarah" tanpa kejelasan topik spesifik. Teknik yang paling tepat digunakan pustakawan untuk
menggali kebutuhan informasi sebenarnya adalah...
A. Langsung memberikan buku sejarah pertama yang ditemukan di rak
B. Mengajukan pertanyaan klarifikasi terbuka untuk memahami konteks tugas, tingkat kedalaman, dan tujuan
penggunaan informasi
C. Menyuruh siswa kembali lagi setelah menentukan topik sendiri
D. Mengabaikan permintaan karena dianggap terlalu umum
E. Memberikan seluruh koleksi sejarah tanpa penyaringan
18. Pustakawan merancang program literasi digital bagi siswa MA yang akan menyusun karya tulis
ilmiah. Rancangan kegiatan yang paling mencerminkan HOTS (analisis-evaluasi-kreasi) adalah...
A. Ceramah satu arah tentang sejarah perpustakaan
B. Simulasi penelusuran, evaluasi, sintesis sumber dari berbagai basis data, dilanjutkan proyek penulisan
sitasi yang benar dan presentasi hasil
C. Sekadar menonton video tentang buku tanpa praktik
D. Meminta siswa menghafal daftar pustaka tanpa memahami fungsinya
E. Fokus hanya pada tata cara peminjaman buku
19. Seorang guru meminta rekomendasi cepat satu buku untuk pembelajaran besok pagi, sementara
siswa lain butuh pendampingan riset mendalam untuk karya tulis semester. Pengelolaan layanan
rujukan yang paling tepat oleh pustakawan adalah...
A. Melayani semua permintaan dengan cara dan waktu yang identik
B. Membedakan strategi layanan: rujukan cepat (ready reference) untuk kebutuhan mendesak dan
pendampingan mendalam terjadwal untuk riset yang kompleks
C. Menolak permintaan guru karena dianggap mendadak
D. Mengutamakan siswa saja dan mengabaikan guru
E. Menunda semua layanan sampai akhir pekanAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 7
20. Setelah program literasi digital berjalan satu semester, pustakawan ingin mengetahui dampaknya
terhadap kemampuan siswa mengevaluasi sumber. Metode evaluasi yang paling valid untuk
mengukur hal ini adalah...
A. Menghitung jumlah siswa yang hadir pada sesi pelatihan
B. Membandingkan hasil asesmen kemampuan evaluasi sumber sebelum dan sesudah program, serta
menganalisis kualitas rujukan pada tugas siswa
C. Menanyakan kesan siswa secara lisan tanpa instrumen terstandar
D. Mengukur jumlah buku yang dipinjam selama program berlangsung
E. Tidak perlu dievaluasi karena program sudah berjalan
21. Seorang siswa menyerahkan tugas dengan mengutip artikel blog tanpa penulis dan tanpa tanggal
sebagai sumber utama. Tindakan edukatif HOTS yang paling tepat dari pustakawan adalah...
A. Membiarkan saja karena bukan tugas pustakawan menilai sumber
B. Mendampingi siswa menganalisis kredibilitas sumber tersebut menggunakan kriteria evaluasi, lalu
membimbingnya menemukan sumber alternatif yang lebih terpercaya
C. Menghukum siswa karena menggunakan sumber yang salah
D. Menyita gawai siswa agar tidak mengulangi kesalahan
E. Melaporkan siswa kepada wali kelas tanpa pendampingan lebih lanjut
22. Untuk menumbuhkan budaya gemar membaca yang berkelanjutan (bukan sekadar seremonial),
rancangan program yang paling mencerminkan pemikiran strategis pustakawan adalah...
A. Mengadakan lomba membaca sekali dalam setahun tanpa tindak lanjut
B. Merancang program bertahap yang terintegrasi dengan pembelajaran kelas, melibatkan guru, dan
dievaluasi dampaknya terhadap minat serta kemampuan literasi siswa
C. Menempelkan poster ajakan membaca tanpa kegiatan pendukung
D. Menambah jam operasional perpustakaan tanpa program konkret
E. Mewajibkan siswa membaca tanpa pendampingan atau refleksi
23. Pustakawan mengevaluasi bahwa program literasi informasi yang dirancang belum berdampak
signifikan pada kualitas tugas siswa. Langkah reflektif-evaluatif selanjutnya yang paling tepat
adalah...
A. Menghentikan program secara permanen tanpa evaluasi lanjutan
B. Menganalisis akar penyebab (metode, waktu, keterlibatan guru), lalu merevisi desain program berdasarkan
temuan tersebut
C. Menyalahkan siswa sepenuhnya atas kegagalan program
D. Mengulang program yang sama tanpa perubahan apa pun
E. Membiarkan kondisi seperti itu karena dianggap wajar
24. Madrasah mengintegrasikan aplikasi pembaca buku elektronik (e-book reader) ke layanan
perpustakaan. Beberapa siswa mengeluhkan kesulitan mengakses karena keterbatasan gawai
pribadi. Solusi paling adil dan strategis bagi pustakawan adalah...
A. Menghapus program e-book karena dianggap gagal
B. Menyediakan akses alternatif seperti perangkat pinjaman di perpustakaan dan tetap mempertahankan
koleksi cetak agar layanan inklusif bagi semua siswa
C. Mewajibkan seluruh siswa membeli gawai baru
D. Hanya melayani siswa yang memiliki gawai memadai
E. Mengabaikan keluhan karena dianggap bukan tanggung jawab perpustakaanAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 8
25. Seorang siswa menyalin utuh paragraf dari sebuah buku ke dalam tugasnya tanpa mencantumkan
sumber. Pendekatan pustakawan yang paling mendidik terkait etika informasi adalah...
A. Mengabaikan karena bukan tugas pengajaran materi pelajaran
B. Menjelaskan konsep plagiarisme dan hak cipta, lalu membimbing siswa cara mengutip dan
memparafrasekan sumber dengan benar
C. Melarang siswa membaca buku tersebut di kemudian hari
D. Menghapus buku tersebut dari koleksi agar tidak disalin lagi
E. Membiarkan karena siswa masih di jenjang menengahAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 9
C. Kompetensi Kepribadian dan Sosial Pustakawan
Mengukur kemampuan reflektif, etis, dan kolaboratif pustakawan dalam berinteraksi dengan pemustaka dan komunitas
madrasah.
26. Seorang pemustaka menyampaikan keluhan dengan nada tinggi karena buku yang dicarinya
sedang dipinjam orang lain dan sistem tidak memberi notifikasi. Respons paling profesional dari
pustakawan adalah...
A. Membalas dengan nada tinggi pula agar pemustaka jera
B. Mendengarkan keluhan dengan tenang, menjelaskan penyebab masalah secara empatik, menawarkan
solusi (reservasi/notifikasi), dan menindaklanjuti perbaikan sistem
C. Mengabaikan keluhan karena dianggap bukan kesalahan pustakawan
D. Menyalahkan pemustaka karena tidak memeriksa ketersediaan terlebih dahulu
E. Menutup layanan sirkulasi sementara waktu
27. Terdapat siswa berkebutuhan khusus (low vision) yang kesulitan mengakses koleksi cetak biasa.
Sikap kepribadian dan sosial pustakawan yang paling mencerminkan layanan inklusif adalah...
A. Menyarankan siswa tersebut tidak perlu ke perpustakaan
B. Berinisiatif mencari solusi seperti audiobook, huruf besar, atau pendampingan personal, serta
berkoordinasi dengan guru pembimbing khusus
C. Memberikan layanan yang sama persis tanpa penyesuaian apa pun
D. Menugaskan teman sekelas untuk membacakan tanpa koordinasi resmi
E. Mengabaikan kebutuhan tersebut karena keterbatasan sarana
28. Pustakawan diundang rapat kurikulum namun sering dianggap "pelengkap" tanpa dilibatkan aktif
dalam perencanaan pembelajaran. Sikap profesional dan sosial yang paling tepat untuk memperkuat
perannya adalah...
A. Menerima keadaan tanpa berusaha menunjukkan kontribusi
B. Secara proaktif mengusulkan data pemanfaatan koleksi dan program literasi yang relevan dengan capaian
pembelajaran sebagai bahan diskusi kurikulum
C. Menolak menghadiri rapat karena merasa tidak dihargai
D. Mengeluh kepada rekan kerja tanpa tindakan konstruktif
E. Menyalahkan kepala madrasah atas situasi tersebut
29. Pustakawan menyadari bahwa penguasaannya terhadap sistem informasi perpustakaan berbasis
cloud masih terbatas, sementara madrasah mulai mengarah ke digitalisasi. Sikap pengembangan
profesi berkelanjutan yang paling tepat adalah...
A. Menolak perubahan karena merasa sistem lama sudah cukup
B. Mengikuti pelatihan, komunitas praktik, atau webinar terkait teknologi perpustakaan secara mandiri dan
berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi
C. Menyerahkan seluruh tugas digitalisasi kepada staf TU
D. Menunggu pelatihan dari pemerintah tanpa inisiatif pribadi
E. Berhenti bekerja karena merasa tidak mampuAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 10
30. Dua siswa berselisih di area perpustakaan karena berebut kursi baca menjelang ujian. Pendekatan
yang paling mencerminkan kematangan sosial-emosional pustakawan dalam menengahi adalah...
A. Mengusir kedua siswa dari perpustakaan tanpa penjelasan
B. Menenangkan situasi, mendengarkan kedua pihak, memfasilitasi solusi bersama (misalnya rotasi tempat
duduk), dan menjadikan momen tersebut sebagai pembelajaran empati
C. Memihak salah satu siswa tanpa klarifikasi
D. Membiarkan perselisihan berlanjut hingga selesai sendiri
E. Melaporkan langsung ke orang tua tanpa upaya mediasi terlebih dahuluAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 11
D. Integrasi Nilai Kurikulum Cinta (Mahabbah) dalam Layanan Perpustakaan
Mengukur kemampuan pustakawan menganalisis dan menginternalisasi nilai cinta kepada Tuhan, sesama, dan alam ke
dalam praktik layanan perpustakaan madrasah.
31. Kurikulum Cinta menempatkan nilai mahabbah (cinta kepada Tuhan, sesama, dan alam) sebagai
jiwa pembelajaran, bukan mata pelajaran tersendiri. Implikasi paling tepat bagi praktik layanan
perpustakaan madrasah adalah...
A. Menambahkan mata pelajaran baru bernama "Kurikulum Cinta" di jadwal kunjungan perpustakaan
B. Menginternalisasikan nilai cinta ke dalam setiap interaksi layanan, pemilihan koleksi, dan suasana
perpustakaan, tanpa memerlukan jam khusus tersendiri
C. Mengganti seluruh koleksi dengan buku bertema cinta secara harfiah
D. Mengabaikan program literasi karena dianggap tidak relevan dengan nilai cinta
E. Menunggu petunjuk teknis resmi sebelum melakukan perubahan apa pun
32. Seorang siswa merasa minder meminjam buku karena pernah didenda akibat keterlambatan
pengembalian di masa lalu. Pendekatan layanan yang selaras dengan nilai cinta kepada sesama
(mahabbah ijtimaiyyah) adalah...
A. Tetap menerapkan denda tanpa dialog untuk menegakkan disiplin secara kaku
B. Menyambut siswa dengan ramah, membangun dialog reflektif tentang tanggung jawab, dan memberi
kesempatan memperbaiki diri tanpa mempermalukan
C. Melarang siswa tersebut meminjam buku selamanya
D. Mengumumkan keterlambatannya di depan kelas sebagai efek jera
E. Membiarkan siswa menjauh dari perpustakaan tanpa pendekatan apa pun
33. Dalam pengembangan koleksi berbasis Kurikulum Cinta, kriteria pemilihan buku yang paling tepat
mencerminkan nilai mahabbah adalah...
A. Memilih buku hanya berdasarkan harga termurah
B. Memilih koleksi yang menumbuhkan empati, toleransi, kepedulian sosial dan lingkungan, di samping
ketercapaian aspek kognitif
C. Memilih buku yang hanya membahas ibadah ritual tanpa dimensi sosial
D. Menolak buku fiksi karena dianggap tidak relevan dengan nilai cinta
E. Memilih koleksi berdasarkan tren pasar semata
34. Perpustakaan madrasah ingin menumbuhkan kecintaan terhadap alam (mahabbah bi al-kaun)
melalui program literasi. Rancangan kegiatan yang paling relevan dan aplikatif adalah...
A. Ceramah teori lingkungan tanpa aktivitas nyata
B. Program membaca buku bertema lingkungan yang ditindaklanjuti proyek nyata, seperti pojok baca hijau,
daur ulang buku rusak, atau kampanye hemat kertas
C. Melarang penggunaan kertas di perpustakaan secara total
D. Fokus semata pada peningkatan jumlah koleksi tanpa aksi nyata
E. Mengabaikan tema lingkungan karena dianggap di luar tugas pustakawanAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 12
35. Seorang pustakawan mendapati bahwa suasana perpustakaan terasa kaku dan membuat siswa
enggan berkunjung. Sesuai semangat Kurikulum Cinta yang menekankan pembelajaran
menyenangkan, langkah reflektif yang paling tepat adalah...
A. Membiarkan suasana seperti itu karena dianggap sudah baku
B. Mengevaluasi tata ruang, sikap layanan, dan interaksi, lalu menata ulang suasana menjadi lebih hangat,
ramah, dan mengundang rasa nyaman tanpa mengurangi ketertiban
C. Menambah aturan dan larangan agar lebih tertib
D. Menutup perpustakaan pada jam istirahat agar lebih tenang
E. Menyalahkan siswa karena dianggap tidak berminat membaca
36. Kepala Kelompok Kerja Pengawas berharap Kurikulum Cinta dan Deep Learning dapat
diintegrasikan dalam satu sistem pembelajaran yang menyeluruh. Peran strategis pustakawan dalam
mendukung integrasi tersebut yang paling tepat adalah...
A. Menunggu arahan teknis tanpa inisiatif menyiapkan sumber belajar
B. Menjadi mitra guru dalam menyediakan sumber belajar reflektif yang menumbuhkan nilai cinta sekaligus
mendorong pemahaman konseptual mendalam siswa
C. Membatasi diri hanya pada tugas administratif peminjaman buku
D. Menolak perubahan karena dianggap menambah beban kerja
E. Menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab integrasi kepada guru mata pelajaran
37. Seorang guru mengeluh bahwa nilai-nilai Kurikulum Cinta sulit diukur karena tidak ada instrumen
evaluasi yang terstandar. Kontribusi pustakawan yang paling relevan untuk membantu permasalahan
ini adalah...
A. Mengabaikan keluhan karena bukan wewenang perpustakaan
B. Membantu mendokumentasikan indikator perilaku (empati, kepedulian, tanggung jawab) yang teramati
selama pemustaka berinteraksi di perpustakaan sebagai data pendukung evaluasi
C. Menyusun instrumen evaluasi nasional tanpa melibatkan guru
D. Menyalahkan Kemenag karena kebijakan dianggap belum matang
E. Menyarankan agar Kurikulum Cinta dihapuskan
38. Konsep mahabbah dalam pandangan Al-Ghazali menempatkan kecintaan kepada Allah sebagai
puncak spiritualitas yang menuntun kecintaan kepada sesama makhluk. Penerapan paling tepat dari
pemahaman ini dalam layanan perpustakaan sehari-hari adalah...
A. Mewajibkan pemustaka menghafal teori mahabbah sebelum meminjam buku
B. Melayani setiap pemustaka dengan tulus dan penuh perhatian sebagai wujud ibadah dan penghayatan
nilai spiritual dalam pekerjaan
C. Membatasi layanan hanya kepada siswa yang taat beribadah
D. Mengabaikan aspek spiritual karena perpustakaan bersifat akademik semata
E. Menjadikan mahabbah sebagai slogan tanpa implementasi nyataAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 13
39. Sebuah kajian menyebutkan tantangan implementasi Kurikulum Cinta antara lain keterbatasan
kompetensi guru dan tenaga kependidikan serta belum adanya instrumen evaluasi nilai cinta yang
terstandar. Sikap profesional pustakawan paling tepat menghadapi tantangan ini adalah...
A. Menyerah dan menunggu kebijakan berubah dengan sendirinya
B. Berinisiatif meningkatkan kapasitas diri melalui pelatihan, sekaligus turut merumuskan indikator praktis
penerapan nilai cinta di lingkup layanan perpustakaan
C. Menolak keterlibatan karena dianggap bukan tanggung jawab pustakawan
D. Menyalahkan pihak Kemenag atas ketidaksiapan implementasi
E. Membiarkan program berjalan tanpa evaluasi apa pun
40. Perpustakaan madrasah merancang sudut baca ramah anak dengan suasana hangat, koleksi
beragam, dan pustakawan yang menyapa setiap pengunjung. Evaluasi paling tepat untuk menilai
bahwa praktik ini benar-benar mencerminkan Kurikulum Cinta (bukan sekadar dekorasi) adalah...
A. Menilai dari keindahan interior semata
B. Menilai dari perubahan perilaku afektif siswa, seperti meningkatnya empati, rasa aman, dan kegemaran
berkunjung secara berkelanjutan
C. Menilai dari jumlah foto yang diunggah ke media sosial madrasah
D. Menilai dari biaya yang dihabiskan untuk renovasi
E. Tidak perlu dievaluasi karena bersifat kualitatifAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 14
E. Peran Pustakawan dalam Mendukung Pembelajaran Mendalam (Deep
Learning)
Mengukur kemampuan pustakawan merancang dan mengevaluasi dukungan perpustakaan terhadap pembelajaran yang
bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful), dan menggembirakan (joyful).
41. Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) menekankan tiga karakteristik: mindful
(berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan). Kontribusi paling relevan yang
dapat diberikan pustakawan untuk mendukung pembelajaran bermakna (meaningful) adalah...
A. Menyediakan buku sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan relevansi topik
B. Mengaitkan koleksi dan kegiatan literasi dengan konteks kehidupan nyata siswa serta capaian
pembelajaran, sehingga informasi yang diperoleh terasa relevan dan aplikatif
C. Membatasi akses informasi agar siswa fokus pada satu sumber saja
D. Menghafalkan daftar judul buku kepada siswa
E. Menunggu instruksi guru tanpa inisiatif mengaitkan konteks
42. Karakteristik mindful dalam deep learning menekankan kesadaran penuh dan refleksi selama
proses belajar. Praktik layanan perpustakaan yang paling mendukung karakteristik ini adalah...
A. Mempercepat proses peminjaman agar siswa segera kembali ke kelas tanpa jeda refleksi
B. Menyediakan ruang dan waktu bagi siswa untuk merefleksikan apa yang telah dibaca, misalnya melalui
jurnal baca atau diskusi reflektif singkat
C. Melarang siswa berdiskusi di area perpustakaan
D. Memutar musik keras agar suasana lebih hidup tanpa mempertimbangkan konsentrasi
E. Membiarkan siswa membaca cepat sebanyak-banyaknya tanpa pendampingan
43. Untuk mewujudkan pembelajaran yang joyful (menggembirakan) tanpa mengorbankan kedalaman
berpikir, rancangan kegiatan perpustakaan yang paling tepat adalah...
A. Mengadakan kuis hafalan semata tanpa proses berpikir kritis
B. Merancang kegiatan literasi berbasis permainan atau proyek kolaboratif yang tetap menuntut analisis,
evaluasi, dan refleksi mendalam terhadap materi
C. Membiarkan siswa bermain bebas tanpa tujuan pembelajaran
D. Menghapus seluruh unsur permainan karena dianggap mengurangi keseriusan belajar
E. Menjadikan setiap kegiatan sebagai kompetisi berhadiah semata
44. Seorang siswa mampu menghafal banyak fakta dari buku namun kesulitan menghubungkan
antarkonsep atau menerapkannya pada situasi baru. Diagnosis yang paling tepat dari perspektif deep
learning adalah...
A. Siswa tersebut sudah mencapai pembelajaran mendalam karena banyak menghafal
B. Siswa tersebut masih berada pada level pembelajaran permukaan (surface learning) sehingga perlu
difasilitasi kegiatan yang mendorong koneksi konsep dan penerapan kontekstual
C. Tidak ada masalah karena hafalan adalah tujuan utama belajar
D. Siswa tersebut perlu dihukum karena dianggap malas berpikir
E. Masalah ini sepenuhnya tanggung jawab guru, tidak terkait pustakawanAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 15
45. Pustakawan ingin merancang proyek riset kolaboratif lintas mata pelajaran (mis. IPA dan Fikih
tentang etika lingkungan) untuk mendukung deep learning. Langkah pertama yang paling strategis
adalah...
A. Langsung menyediakan buku tanpa berkoordinasi dengan guru terkait
B. Berkoordinasi dengan guru mata pelajaran terkait untuk merumuskan tujuan pembelajaran bersama, lalu
mengkurasi sumber lintas disiplin yang relevan
C. Menunggu proyek selesai baru menyediakan koleksi pendukung
D. Membuat proyek sendiri tanpa melibatkan guru sama sekali
E. Menolak ide proyek lintas mata pelajaran karena dianggap rumit
46. Salah satu prinsip deep learning adalah mendorong siswa menghubungkan pengetahuan dengan
kehidupan nyata dan makna hidup. Kegiatan perpustakaan yang paling mencerminkan prinsip ini
adalah...
A. Meminta siswa merangkum buku tanpa kaitan dengan pengalaman pribadi
B. Memfasilitasi diskusi atau proyek yang meminta siswa mengaitkan isi bacaan dengan pengalaman, nilai,
atau persoalan nyata di lingkungan sekitar mereka
C. Fokus semata pada kecepatan membaca (reading speed) tanpa pemaknaan
D. Membatasi bacaan hanya pada buku pelajaran wajib
E. Menilai keberhasilan literasi hanya dari jumlah buku yang selesai dibaca
47. Dalam evaluasi program pembelajaran mendalam yang didukung perpustakaan, indikator
keberhasilan yang paling tepat digunakan pustakawan adalah...
A. Jumlah total kunjungan tanpa melihat kualitas interaksi
B. Perubahan kualitas berpikir siswa, seperti kemampuan menganalisis, menghubungkan konsep, dan
merefleksikan makna dari sumber yang dipelajari
C. Jumlah buku baru yang dibeli perpustakaan
D. Kecepatan siswa mengembalikan buku tepat waktu semata
E. Banyaknya poster literasi yang terpasang di dinding
48. Pustakawan mendampingi kelompok siswa yang mengerjakan proyek penelitian sederhana
namun mereka hanya menyalin ringkasan dari satu sumber tanpa membandingkan sudut pandang
lain. Intervensi paling tepat sesuai prinsip deep learning adalah...
A. Membiarkan saja karena tugas sudah selesai dikumpulkan
B. Mendorong siswa membandingkan beberapa sumber dengan perspektif berbeda, lalu merefleksikan dan
mensintesiskan temuan menjadi pemahaman baru yang lebih utuh
C. Menyalahkan siswa karena dianggap malas mencari sumber
D. Memberikan sumber tambahan tanpa penjelasan cara menggunakannya
E. Menghentikan proyek karena dianggap tidak akan berhasilAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 16
49. Kemendikdasmen mendorong pembelajaran mendalam sementara Kemenag mengembangkan
Kurikulum Cinta; keduanya diharapkan dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia secara
menyeluruh. Sikap pustakawan madrasah yang paling adaptif dan strategis menghadapi konvergensi
dua kebijakan tersebut adalah...
A. Memilih hanya mengikuti salah satu kebijakan yang dianggap lebih mudah
B. Mengembangkan program layanan yang secara bersamaan menumbuhkan nilai cinta (afektif-spiritual) dan
kedalaman berpikir (kognitif-reflektif) sebagai satu kesatuan pengalaman belajar di perpustakaan
C. Menunggu petunjuk teknis final sebelum melakukan penyesuaian apa pun
D. Menolak kedua kebijakan karena dianggap membingungkan
E. Menjalankan program lama tanpa penyesuaian karena dianggap sudah cukup baik
50. Sebagai penutup refleksi profesional, seorang pustakawan madrasah mengevaluasi perannya di
era integrasi Kurikulum Cinta dan pembelajaran mendalam. Kesimpulan paling tepat yang
mencerminkan pergeseran paradigma peran pustakawan adalah...
A. Pustakawan cukup berperan sebagai penjaga rak dan pencatat sirkulasi buku
B. Pustakawan bertransformasi menjadi mitra pembelajaran yang memfasilitasi pemaknaan mendalam,
penumbuhan nilai cinta, dan kemandirian berpikir kritis siswa secara berkelanjutan
C. Peran pustakawan tidak perlu berubah karena tugas utamanya hanya administratif
D. Pustakawan sebaiknya digantikan sepenuhnya oleh teknologi digital
E. Pustakawan hanya perlu menunggu kunjungan siswa tanpa peran aktif dalam pembelajaranAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 17
KUNCI JAWABAN DAN PEMBAHASAN SINGKAT
Gunakan bagian ini untuk mengevaluasi hasil latihan Anda. Pembahasan disajikan singkat untuk memandu
refleksi, bukan sebagai satu-satunya alasan pembenar.
No Kunci No Kunci No Kunci No Kunci No Kunci No Kunci No Kunci No Kunci No Kunci No Kunci
1
B
2
B
3
C
4
B
5
B
6
B
7
B
8
B
9
B
10
B
11
B
12
B
13
B
14
B
15
B
16
B
17
B
18
B
19
B
20
B
21
B
22
B
23
B
24
B
25
B
26
B
27
B
28
B
29
B
30
B
31
B
32
B
33
B
34
B
35
B
36
B
37
B
38
B
39
B
40
B
41
B
42
B
43
B
44
B
45
B
46
B
47
B
48
B
49
B
50
BAKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 18
PEMBAHASAN RINGKAS PER BUTIR SOAL
A. Kompetensi Profesional: Pengorganisasian dan Pengelolaan Informasi
No. 1 — Kunci: B
Weeding berbasis data sirkulasi dan kemutakhiran informasi adalah praktik manajemen koleksi yang tepat, diikuti
realokasi anggaran untuk koleksi relevan.
No. 2 — Kunci: B
Klasifikasi yang tepat memerlukan analisis subjek dominan dan konteks penggunaan, bukan sekadar judul.
No. 3 — Kunci: C
Evaluasi berkala terhadap kesesuaian kurikulum, kebutuhan, dan pemanfaatan adalah indikator kebijakan koleksi yang
efektif.
No. 4 — Kunci: B
Digitalisasi untuk akses dan penyimpanan terkendali untuk pelestarian fisik adalah strategi preservasi yang efisien dan
tepat.
No. 5 — Kunci: B
Ketidakakuratan laporan biasanya bersumber dari kualitas input data; solusinya adalah audit dan verifikasi data
sistematis, bukan menyalahkan sistem sepenuhnya.
No. 6 — Kunci: B
Bukti kinerja yang kredibel adalah data terukur (kunjungan, sirkulasi, program, umpan balik) yang dianalisis, bukan
sekadar dokumen administratif.
No. 7 — Kunci: B
Penambahan cross-reference/lihat juga meningkatkan temu kembali informasi tanpa harus merombak seluruh sistem
katalog.
No. 8 — Kunci: B
Analisis akar masalah diikuti perancangan solusi kreatif (display tematik, integrasi kurikuler) mencerminkan HOTS level
evaluasi dan kreasi.
No. 9 — Kunci: B
Repositori digital yang berkelanjutan memerlukan kebijakan hak cipta, standar metadata, backup, dan aksesibilitas —
bukan aspek kosmetik semata.
No. 10 — Kunci: B
Resource sharing dan katalog bersama adalah strategi efisien mengatasi keterbatasan anggaran melalui kolaborasi
antarlembaga.
No. 11 — Kunci: B
Kebijakan yang tidak ditinjau berkala berisiko usang; evaluasi periodik adalah bagian dari manajemen mutu
perpustakaan.
No. 12 — Kunci: B
Gap analysis terhadap capaian pembelajaran adalah pendekatan profesional untuk pengembangan koleksi yang
responsif terhadap kurikulum.
No. 13 — Kunci: B
Analisis penyebab dan strategi promosi seimbang menunjukkan pengambilan keputusan berbasis data yang matang.AKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 19
No. 14 — Kunci: B
Keputusan investasi teknologi perlu didasarkan pada analisis data kehilangan, anggaran, efisiensi, dan kesiapan SDM.
No. 15 — Kunci: B
Laporan kinerja yang baik menyajikan tren, interpretasi, dan rekomendasi — bukan sekadar data mentah atau angka
statis.AKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 20
B. Kompetensi Profesional: Literasi Informasi dan Layanan Pemustaka
No. 16 — Kunci: B
Membimbing dengan kerangka evaluasi sumber mengembangkan kemandirian berpikir kritis siswa, sesuai tujuan literasi
informasi.
No. 17 — Kunci: B
Reference interview yang baik menggunakan pertanyaan klarifikasi untuk memahami kebutuhan informasi yang
sesungguhnya.
No. 18 — Kunci: B
Kegiatan yang melibatkan penelusuran, evaluasi, sintesis, dan produksi karya mencerminkan tingkatan HOTS yang lebih
tinggi dibanding hafalan atau ceramah pasif.
No. 19 — Kunci: B
Diferensiasi layanan berdasarkan kompleksitas dan urgensi kebutuhan mencerminkan manajemen layanan rujukan yang
efektif.
No. 20 — Kunci: B
Evaluasi dampak yang valid memerlukan perbandingan sebelum-sesudah dengan indikator kemampuan yang diukur,
bukan sekadar kehadiran atau kesan subjektif.
No. 21 — Kunci: B
Pendekatan edukatif berbasis pendampingan analisis kredibilitas sumber lebih membangun kompetensi literasi dibanding
sanksi.
No. 22 — Kunci: B
Program literasi yang efektif bersifat berkelanjutan, terintegrasi kurikuler, kolaboratif, dan terevaluasi—bukan aktivitas
seremonial.
No. 23 — Kunci: B
Evaluasi program yang baik melibatkan analisis akar masalah dan revisi berbasis temuan, mencerminkan siklus
perbaikan berkelanjutan.
No. 24 — Kunci: B
Kesetaraan akses (inklusivitas layanan) penting dijaga dengan menyediakan alternatif bagi pemustaka dengan
keterbatasan sarana.
No. 25 — Kunci: B
Edukasi tentang plagiarisme dan teknik parafrase/sitasi yang benar adalah bagian penting literasi informasi dan etika
akademik.AKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 21
C. Kompetensi Kepribadian dan Sosial Pustakawan
No. 26 — Kunci: B
Penanganan keluhan yang profesional menuntut empati, solusi konkret, dan tindak lanjut perbaikan sistem, bukan reaksi
emosional.
No. 27 — Kunci: B
Layanan inklusif menuntut inisiatif adaptif dan kolaborasi dengan pihak terkait, mencerminkan kepekaan sosial
pustakawan.
No. 28 — Kunci: B
Kontribusi proaktif berbasis data memperkuat posisi strategis pustakawan dalam ekosistem pembelajaran madrasah.
No. 29 — Kunci: B
Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) menuntut inisiatif belajar mandiri, sejalan dengan tujuan AKGTK
sebagai basis PKB.
No. 30 — Kunci: B
Mediasi yang tenang dan reflektif mencerminkan kompetensi sosial pustakawan sekaligus menanamkan nilai empati
kepada siswa.AKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 22
D. Integrasi Nilai Kurikulum Cinta (Mahabbah) dalam Layanan Perpustakaan
No. 31 — Kunci: B
Karena Kurikulum Cinta bersifat sebagai 'jiwa' pembelajaran, internalisasi nilai dilakukan melalui praktik layanan
sehari-hari, bukan penambahan mapel.
No. 32 — Kunci: B
Nilai cinta menekankan pendekatan humanis yang tetap menanamkan tanggung jawab tanpa mempermalukan atau
mengucilkan.
No. 33 — Kunci: B
Kriteria seleksi berbasis Kurikulum Cinta mempertimbangkan dimensi afektif-sosial (empati, toleransi, kepedulian), tidak
hanya kognitif.
No. 34 — Kunci: B
Internalisasi nilai cinta pada alam lebih bermakna bila disertai proyek aplikatif, sejalan dengan semangat pembelajaran
bermakna.
No. 35 — Kunci: B
Menciptakan suasana hangat dan ramah selaras dengan nilai cinta serta prinsip joyful learning dalam pembelajaran
mendalam.
No. 36 — Kunci: B
Pustakawan berperan sebagai mitra pembelajaran yang menyediakan sumber reflektif-mendalam, mendukung integrasi
kedua kebijakan tersebut.
No. 37 — Kunci: B
Pustakawan dapat berkontribusi dengan mendokumentasikan indikator perilaku afektif yang teramati, mendukung
asesmen otentik nilai cinta.
No. 38 — Kunci: B
Nilai mahabbah diwujudkan melalui ketulusan dan kepedulian nyata dalam pelayanan, bukan sekadar wacana atau
slogan.
No. 39 — Kunci: B
Sikap proaktif meningkatkan kapasitas diri dan berkontribusi merumuskan indikator adalah respons profesional terhadap
tantangan implementasi kebijakan baru.
No. 40 — Kunci: B
Esensi Kurikulum Cinta terletak pada dampak afektif nyata terhadap pemustaka, bukan sekadar tampilan fisik ruang.AKGTK — Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah
Kompetensi: Pustakawan Profesional
Naskah latihan HOTS – berbasis Deep Learning & Kurikulum Cinta
Halaman 23
E. Peran Pustakawan dalam Mendukung Pembelajaran Mendalam (Deep
Learning)
No. 41 — Kunci: B
Pembelajaran bermakna terjadi ketika informasi dikaitkan dengan konteks nyata siswa, sesuatu yang dapat difasilitasi
pustakawan melalui kurasi dan pendampingan.
No. 42 — Kunci: B
Ruang dan momen refleksi (jurnal baca, diskusi) mendukung kesadaran penuh (mindfulness) dalam proses belajar
siswa.
No. 43 — Kunci: B
Joyful learning yang berkualitas memadukan unsur menyenangkan dengan tetap menuntut proses berpikir tingkat tinggi,
bukan sekadar hiburan.
No. 44 — Kunci: B
Ketidakmampuan menghubungkan dan menerapkan konsep adalah ciri surface learning; pustakawan dapat membantu
melalui kegiatan yang mendorong koneksi dan aplikasi.
No. 45 — Kunci: B
Kolaborasi awal dengan guru untuk merumuskan tujuan bersama adalah langkah strategis dalam merancang proyek
pembelajaran mendalam lintas disiplin.
No. 46 — Kunci: B
Mengaitkan bacaan dengan pengalaman dan persoalan nyata adalah wujud pembelajaran mendalam yang bermakna.
No. 47 — Kunci: B
Indikator keberhasilan deep learning berfokus pada perubahan kualitas berpikir, bukan sekadar aspek kuantitatif
administratif.
No. 48 — Kunci: B
Deep learning menuntut sintesis dari berbagai perspektif, bukan sekadar penyalinan satu sumber; pendampingan reflektif
diperlukan di sini.
No. 49 — Kunci: B
Sikap adaptif-strategis mengintegrasikan dimensi afektif-spiritual (Kurikulum Cinta) dan kognitif-reflektif (deep learning)
sebagai satu kesatuan layanan, sejalan dengan arah kedua kebijakan.
No. 50 — Kunci: B
Paradigma baru menempatkan pustakawan sebagai mitra pembelajaran aktif yang menumbuhkan nilai dan kemandirian
berpikir, bukan sekadar pengelola administratif koleksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar