Rabu, 16 September 2026

AKGTK LABORAN 2026


 

NASKAH LATIHAN MANDIRI
ASESMEN KOMPETENSI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (AKGTK) MADRASAH TAHUN 2026
Berbasis HOTS • Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) • Kurikulum Cinta
Sasaran
Tenaga Laboratorium (Laboran) — Kompetensi Profesional
Jenjang
MTs / MA / MAK (laboratorium IPA terpadu: Fisika, Kimia, Biologi)
Lingkup Materi
Administrasi Laboratorium (8), Pengelolaan Alat & Bahan (10), K3 & Pengelolaan Limbah (12),
Layanan Teknis Pembelajaran (10), Pengembangan Diri & Kurikulum Cinta (10)
Jumlah Soal
50 butir pilihan ganda (A, B, C, D, E)
Alokasi Waktu
150 menit (mengacu sesi Laboran, Kamis 08/10/2026, 13.00–15.30 WIB)
Level Kognitif
L2 (aplikasi) dan L3 (penalaran/HOTS): C4 menganalisis, C5 mengevaluasi, C6 mencipta
PETUNJUK UMUM
1. Berdoalah sebelum mengerjakan. Bacalah setiap butir dengan cermat dan penuh kesadaran (mindful), terutama pada kasus
keselamatan kerja.
2. Pilihlah satu jawaban yang paling tepat. Utamakan prinsip keselamatan, ketertiban administrasi, dan dukungan nyata terhadap
proses pembelajaran.
3. Sebagian butir menuntut perhitungan sederhana (pengenceran, konsentrasi, kalibrasi) — kerjakan secara sistematis.
4. Kunci jawaban, pembahasan, dan kisi-kisi tersedia pada bagian akhir naskah — gunakan untuk refleksi diri, bukan sekadar
mencocokkan skor.
CATATAN PENTING: Naskah ini adalah bahan latihan mandiri yang disusun secara independen untuk persiapan AKGTK 2026,
bukan soal resmi, bocoran, atau terbitan Direktorat GTK Madrasah Kementerian Agama RI. Acuan resmi pelaksanaan tetap pada surat
Nomor B-86/Dt.I.II/KP.02/09/2026 dan juknis AKGTK 2026.
BAGIAN I — KOMPETENSI PROFESIONAL LABORAN (Butir 1–40)
A. Pengelolaan Administrasi Laboratorium (Butir 1–8)
1. Dokumen yang paling tepat digunakan untuk mencatat riwayat keluar-masuk suatu bahan kimia tertentu secara kronologis,
termasuk sisa stok setiap saat, adalah …
A. Buku inventaris aset laboratorium.
B. Kartu stok bahan (kartu gudang) per jenis bahan.
C. Daftar hadir penggunaan laboratorium.
D. Jadwal penggunaan laboratorium mingguan.
E. Lembar data keselamatan bahan (MSDS).
Level C3 • administrasi laboratorium
2. Sistem pengkodean alat laboratorium yang paling memudahkan penelusuran dan inventarisasi adalah …
A. Kode acak yang berbeda untuk setiap alat tanpa pola tertentu.
B. Kode yang mencerminkan jenis alat, kelompok/rumpun ilmu, ruang penyimpanan, dan nomor urut, sehingga mudah
ditelusuri dan konsisten dari tahun ke tahun.
C. Nomor urut pembelian tanpa keterangan jenis maupun lokasi.
D. Nama pemberi bantuan sebagai kode utama.
E. Tanggal pembelian sebagai satu-satunya kode identifikasi.
Level C4 • sistem inventarisasi
3. Hasil stock opname akhir tahun menunjukkan jumlah fisik suatu bahan kimia lebih sedikit daripada catatan kartu stok. Langkah
laboran yang paling tepat adalah …
A. Mengubah angka pada kartu stok agar sesuai jumlah fisik tanpa keterangan.
B. Mengabaikan selisih karena dianggap wajar.
C. Menelusuri penyebab selisih (penggunaan tak tercatat, penguapan, tumpahan, kedaluwarsa), mendokumentasikan berita
acara, dan melaporkannya kepada kepala madrasah/penanggung jawab laboratorium.
D. Membeli bahan pengganti secara pribadi agar catatan tetap sesuai.
E. Menyalahkan guru yang terakhir menggunakan bahan tersebut tanpa verifikasi.
Level C5 • stock opname dan akuntabilitas
4. Program tahunan laboratorium yang disusun laboran sebaiknya disinkronkan dengan …
A. Ketersediaan anggaran semata tanpa memperhatikan kebutuhan praktikum.
B. Jadwal libur madrasah agar laboran memiliki waktu luang.
C. Kalender pendidikan dan program semester guru mata pelajaran IPA, sehingga jenis dan jumlah kebutuhan bahan/alat
praktikum dapat direncanakan dan disediakan tepat waktu.
D. Kegiatan ekstrakurikuler non-IPA di madrasah.
E. Jadwal kunjungan pengawas ke madrasah.
Level C4 • perencanaan program laboratorium5. Prosedur peminjaman alat laboratorium yang paling tertib dan akuntabel adalah …
A. Guru mengambil sendiri alat kapan saja tanpa pencatatan agar praktis.
B. Peminjaman dicatat pada buku/formulir peminjaman memuat nama peminjam, jenis dan jumlah alat, kondisi saat dipinjam,
serta ditindaklanjuti pemeriksaan kondisi saat dikembalikan.
C. Peminjaman cukup disampaikan secara lisan kepada laboran.
D. Alat dipinjamkan tanpa batas waktu pengembalian.
E. Pencatatan peminjaman hanya dilakukan untuk alat yang harganya mahal.
Level C4 • prosedur peminjaman alat
6. Denah/tata letak laboratorium IPA yang paling tepat dari sisi keselamatan dan efisiensi kerja adalah …
A. Menempatkan seluruh bahan kimia di satu lemari besar tanpa pemisahan sifat.
B. Meja kerja disusun rapat tanpa jalur evakuasi demi menghemat ruang.
C. Alur kerja mengikuti tahapan praktikum (persiapan, pelaksanaan, pembersihan), jalur evakuasi dan pintu darurat tidak
terhalang, serta lokasi APAR, pancuran keselamatan (jika ada), dan kotak P3K mudah dijangkau.
D. Pintu masuk dan keluar laboratorium dijadikan satu titik demi kemudahan pengawasan.
E. Ruang penyimpanan bahan diletakkan sejauh mungkin dari ruang praktikum tanpa mempertimbangkan efisiensi kerja.
Level C4 • tata letak laboratorium
7. Laporan kondisi dan kebutuhan laboratorium yang disusun laboran kepada kepala madrasah sebaiknya memuat …
A. Hanya daftar kerusakan alat tanpa data pemanfaatan.
B. Data pemanfaatan laboratorium, kondisi dan ketersediaan alat/bahan, kebutuhan pengadaan/perawatan, serta catatan
keselamatan kerja, sebagai dasar pengambilan keputusan dan perencanaan anggaran.
C. Perbandingan laboratorium madrasah dengan madrasah lain semata.
D. Daftar nama guru yang paling sering menggunakan laboratorium.
E. Foto-foto kegiatan praktikum tanpa data kuantitatif.
Level C5 • pelaporan berbasis data
8. Jadwal penggunaan laboratorium bentrok antara kelas Fisika dan kelas Biologi pada jam yang sama. Tindakan laboran yang
paling tepat adalah …
A. Membiarkan guru yang datang lebih dahulu menggunakan ruangan.
B. Menyelesaikan sendiri konflik jadwal tanpa melibatkan guru terkait.
C. Mengomunikasikan bentrok tersebut kepada kedua guru dan wakil kepala kurikulum sesegera mungkin, menawarkan
alternatif jadwal atau ruang, serta mengusulkan perbaikan sistem penjadwalan agar tidak berulang.
D. Membatalkan salah satu praktikum secara sepihak.
E. Menyarankan kedua kelas praktikum bersama dalam satu ruangan yang sama tanpa mempertimbangkan keselamatan.
Level C5 • koordinasi jadwal
B. Pengelolaan Alat dan Bahan Praktikum (Butir 9–18)
9. Prinsip penyimpanan bahan kimia yang paling tepat adalah …
A. Disusun berdasarkan abjad nama bahan tanpa memperhatikan sifat kimianya.
B. Dikelompokkan berdasarkan kompatibilitas dan sifat bahaya (misalnya oksidator dipisahkan dari bahan mudah terbakar,
asam dipisahkan dari basa) untuk mencegah reaksi berbahaya bila tercampur atau bocor.
C. Disimpan sepadat mungkin dalam satu lemari untuk menghemat ruang.
D. Disusun berdasarkan ukuran wadah dari yang terbesar ke terkecil.
E. Disimpan berdasarkan warna label kemasan agar terlihat rapi.
Level C4 • penyimpanan bahan kimia
10. Simbol GHS berupa gambar nyala api pada kemasan bahan kimia menunjukkan bahwa bahan tersebut bersifat …
A. Korosif
B. Mudah meledak
C. Mudah terbakar (flammable)
D. Beracun akut
E. Berbahaya bagi lingkungan
Level C3 • simbol keselamatan bahan (GHS)
11. Neraca digital di laboratorium menunjukkan hasil yang selalu lebih besar 0,2 gram dibandingkan massa anak timbangan
standar bersertifikat yang digunakan untuk mengujinya. Tindakan laboran yang paling tepat adalah …
A. Membiarkan karena selisihnya dianggap kecil.
B. Mengurangi 0,2 gram secara manual dari setiap hasil penimbangan berikutnya.
C. Melakukan kalibrasi ulang atau tera neraca sesuai prosedur, dan jika perlu melibatkan teknisi/lembaga kalibrasi berwenang,
sebelum neraca digunakan kembali untuk pengukuran yang memerlukan ketelitian.
D. Mengganti neraca dengan neraca lain tanpa melaporkan temuan.
E. Menghentikan seluruh praktikum yang memerlukan penimbangan secara permanen.
Level C5 • kalibrasi alat ukur
12. Laboran akan menyiapkan 500 mL larutan NaOH 0,1 M untuk keperluan titrasi. Massa NaOH (Mr = 40) yang harus ditimbang
adalah …
A. 1 gram
B. 2 gram
C. 4 gram
D. 5 gram
E. 20 gram
Level C4 • perhitungan larutan
13. Tersedia larutan HCl pekat 12 M. Untuk membuat 250 mL larutan HCl 1 M, volume larutan pekat yang harus diambil adalah
…
A. 15,6 mL
B. 20,8 mL
C. 25,0 mL
D. 30,0 mL
E. 41,7 mL
Level C4 • pengenceran larutan (M₁V₁=M₂V₂)14. Urutan yang benar dan aman saat mengencerkan asam sulfat pekat adalah …
A. Menuangkan air sedikit demi sedikit ke dalam asam pekat.
B. Menuangkan asam pekat sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk dan didinginkan, karena reaksi pengenceran
bersifat sangat eksotermik.
C. Mencampurkan keduanya sekaligus dalam jumlah besar agar cepat selesai.
D. Memanaskan asam pekat terlebih dahulu sebelum diencerkan.
E. Urutan penuangan tidak berpengaruh selama volumenya tepat.
Level C4 • prosedur pengenceran asam pekat
15. Mikroskop cahaya di laboratorium biologi menghasilkan bayangan buram meskipun lensa objektif dan okuler sudah
dibersihkan. Langkah pemeriksaan lanjutan yang paling tepat adalah …
A. Mengganti mikroskop dengan yang baru tanpa penelusuran lebih lanjut.
B. Memeriksa dan membersihkan cermin/sumber cahaya serta kondensor, memastikan preparat cukup tipis dan berada tepat di
bawah lensa, lalu mengatur ulang fokus dan diafragma secara bertahap.
C. Menambah intensitas cahaya sebesar mungkin tanpa memeriksa komponen lain.
D. Mengganti preparat dengan preparat awetan komersial saja.
E. Menyimpulkan bahwa mikroskop tersebut sudah rusak permanen.
Level C5 • perawatan dan troubleshooting alat optik
16. Sterilisasi alat gelas yang akan digunakan untuk kultur mikroorganisme paling tepat dilakukan menggunakan …
A. Pencucian dengan sabun dan air mengalir saja.
B. Perendaman dalam alkohol 70% selama beberapa menit.
C. Autoklaf pada suhu dan tekanan tertentu selama waktu yang memadai, karena mampu membunuh mikroorganisme beserta
sporanya secara efektif.
D. Penjemuran di bawah sinar matahari langsung.
E. Pembersihan dengan lap kering tanpa bahan tambahan.
Level C4 • sterilisasi peralatan biologi
17. Sebelum digunakan untuk praktikum, buret yang akan diisi larutan titran sebaiknya dibilas terlebih dahulu dengan …
A. Air suling saja tanpa pembilasan lanjutan.
B. Larutan titran yang akan digunakan (setelah dibilas air suling), agar konsentrasi larutan di dalam buret tidak berubah akibat
sisa air.
C. Larutan indikator fenolftalein.
D. Larutan sabun agar lebih bersih.
E. Aseton murni tanpa pembilasan air sebelumnya.
Level C4 • teknik titrasi
18. Kartu riwayat pemeliharaan menunjukkan sebuah osiloskop belum pernah diperiksa selama tiga tahun dan mulai
menunjukkan tampilan yang tidak stabil. Tindakan laboran yang paling tepat adalah …
A. Terus menggunakannya selama masih dapat menyala.
B. Menjadwalkan pemeriksaan dan perawatan berkala (preventif), melaporkan gejala kerusakan kepada penanggung jawab
laboratorium, dan mengusulkan perbaikan oleh teknisi sebelum digunakan kembali untuk praktikum.
C. Membuang alat tersebut karena dianggap sudah tidak berguna.
D. Membiarkan guru menentukan sendiri apakah alat masih layak dipakai.
E. Menyimpannya tanpa tindak lanjut hingga ada laporan kerusakan total.
Level C5 • pemeliharaan preventif
C. Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Pengelolaan Limbah (Butir 19–30)
19. Alat pelindung diri (APD) minimal yang wajib dikenakan laboran maupun peserta didik saat praktikum yang melibatkan bahan
kimia korosif adalah …
A. Sarung tangan saja, karena tangan bagian yang paling sering bersentuhan dengan bahan.
B. Jas laboratorium, kacamata pelindung (goggles), dan sarung tangan yang sesuai jenis bahan, disertai alas kaki tertutup.
C. Masker kain biasa tanpa perlengkapan pelindung lainnya.
D. Pakaian bebas asalkan bersih dan rapi.
E. Sarung tangan dan sandal terbuka agar nyaman bergerak.
Level C4 • alat pelindung diri
20. Terjadi tumpahan kecil asam klorida encer di meja praktikum. Langkah penanganan pertama yang paling tepat adalah …
A. Mengelapnya langsung dengan kain kering tanpa perlindungan tambahan.
B. Menetralkan dengan larutan basa kuat pekat secara langsung dalam jumlah besar.
C. Mengamankan area, menetralkan tumpahan dengan bahan penetral yang sesuai (misalnya natrium bikarbonat) sesuai
prosedur pada MSDS, lalu membersihkan dan membuang limbah sesuai ketentuan, dengan tetap mengenakan APD.
D. Membiarkan tumpahan mengering dengan sendirinya.
E. Menyiram area tumpahan dengan air dalam jumlah besar tanpa mempertimbangkan jenis bahannya.
Level C5 • penanganan tumpahan bahan kimia
21. Jika bahan kimia korosif mengenai kulit peserta didik saat praktikum, tindakan pertama yang paling tepat adalah …
A. Mengoleskan salep antiseptik terlebih dahulu.
B. Membilas bagian yang terkena dengan air mengalir sebanyak dan selama mungkin (minimal 15 menit), melepas
pakaian/perhiasan yang terkontaminasi, kemudian segera merujuk ke tenaga medis.
C. Menutup area yang terkena dengan kain kering agar tidak menyebar.
D. Menunggu reaksi kulit sebelum mengambil tindakan.
E. Menetralkan langsung dengan bahan kimia lain tanpa membilas air terlebih dahulu.
Level C5 • pertolongan pertama paparan bahan kimia22. Jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang paling tepat digunakan untuk memadamkan kebakaran akibat cairan mudah
terbakar (kelas B) di laboratorium kimia adalah …
A. Air biasa, karena mudah didapat dan murah.
B. APAR jenis busa (foam), CO2, atau serbuk kimia kering, yang mampu memutus pasokan oksigen tanpa menyebarkan cairan
yang terbakar.
C. Pasir basah yang dibasahi air terlebih dahulu.
D. Kain basah biasa tanpa APAR.
E. Menyiramkan air dalam jumlah besar secara terus-menerus.
Level C4 • pemadaman kebakaran laboratorium
23. Fungsi utama lemari asam (fume hood) dalam laboratorium kimia adalah …
A. Menyimpan bahan kimia yang sudah kedaluwarsa.
B. Menampung alat gelas yang tidak terpakai.
C. Mengeluarkan dan mengencerkan uap atau gas berbahaya yang timbul selama proses kerja, sehingga melindungi pengguna
dari paparan langsung.
D. Mendinginkan ruangan laboratorium secara umum.
E. Menjadi tempat penyimpanan dokumen laboratorium.
Level C3 • fungsi sarana keselamatan
24. Limbah cair sisa praktikum yang mengandung logam berat (misalnya larutan tembaga sulfat bekas) paling tepat ditangani
dengan cara …
A. Dibuang langsung ke saluran pembuangan air madrasah.
B. Diencerkan dengan air sebanyak mungkin sebelum dibuang ke selokan.
C. Dikumpulkan dalam wadah limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) yang berlabel, dipisahkan dari limbah lain, dan
diserahkan kepada pihak berizin pengelola limbah B3 sesuai ketentuan.
D. Ditimbun di halaman belakang madrasah.
E. Dibakar bersama sampah organik.
Level C5 • pengelolaan limbah B3
25. Pengelolaan limbah pecahan kaca dan jarum bekas praktikum biologi yang paling tepat adalah …
A. Dibuang bersama sampah organik biasa.
B. Dikumpulkan dalam wadah tahan tusuk (sharps container) yang diberi label, terpisah dari sampah umum, untuk mencegah
cedera dan kontaminasi.
C. Dikubur langsung tanpa wadah pelindung.
D. Dicuci dan digunakan kembali tanpa perlakuan khusus.
E. Dibiarkan menumpuk di sudut laboratorium hingga akhir semester.
Level C4 • pengelolaan limbah tajam
26. Sebelum praktikum dengan bahan berisiko dimulai, laboran menyiapkan Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS/LDKB).
Manfaat utamanya adalah …
A. Sekadar pelengkap administrasi laboratorium.
B. Memberikan informasi sifat bahaya bahan, cara penanganan aman, penyimpanan, serta tindakan darurat yang harus
dilakukan jika terjadi kecelakaan, sehingga risiko dapat diantisipasi sejak awal.
C. Menentukan harga jual bahan kimia di pasaran.
D. Menggantikan kebutuhan APD selama praktikum.
E. Hanya diperlukan untuk bahan yang diimpor dari luar negeri.
Level C4 • MSDS/LDKB
27. Praktik yang paling tepat dalam pengelolaan tabung gas (misalnya gas LPG untuk pembakar Bunsen) di laboratorium adalah
…
A. Diletakkan berbaring agar tidak mudah jatuh.
B. Disimpan tegak, terikat kuat pada dudukan, jauh dari sumber panas dan api terbuka, dengan katup dan selang diperiksa
berkala untuk memastikan tidak ada kebocoran.
C. Disimpan di dalam lemari tertutup rapat tanpa ventilasi.
D. Diletakkan di dekat jendela terbuka tanpa pengikat.
E. Diperiksa kebocorannya menggunakan korek api.
Level C4 • keselamatan gas bertekanan
28. Sebelum kegiatan praktikum berisiko tinggi dimulai, laboran bersama guru sebaiknya melakukan …
A. Mempersiapkan alat dan bahan saja tanpa penjelasan tambahan kepada peserta didik.
B. Menjelaskan prosedur keselamatan kerja, potensi bahaya, penggunaan APD, dan langkah darurat kepada peserta didik
sebelum praktikum dimulai, serta memastikan jalur evakuasi bebas hambatan.
C. Membiarkan peserta didik mempelajari sendiri prosedur dari buku panduan.
D. Menunda penjelasan keselamatan hingga terjadi insiden.
E. Menganggap penjelasan keselamatan tidak diperlukan karena sudah menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran semata.
Level C5 • budaya keselamatan kerja
29. Dari catatan insiden laboratorium selama satu semester tercatat: 3 kali tumpahan bahan kimia ringan, 2 kali luka gores akibat
pecahan kaca, dan 1 kali nyaris kebakaran akibat pembakar spiritus. Tindak lanjut sistemik yang paling tepat dari laboran adalah
…
A. Mencatat kejadian tanpa analisis lebih lanjut karena jumlahnya masih sedikit.
B. Melarang seluruh praktikum yang menggunakan bahan kimia dan api.
C. Menganalisis pola dan akar penyebab setiap jenis insiden, memperbarui SOP dan pengarahan keselamatan, memperbaiki
penyimpanan/penataan alat berisiko, serta melaporkannya kepada kepala madrasah sebagai bahan perbaikan berkelanjutan.
D. Mengganti seluruh peserta didik yang terlibat insiden dengan kelompok lain.
E. Menunggu terjadinya insiden yang lebih besar sebelum bertindak.
Level C5 • analisis data insiden dan perbaikan SOP30. Bahan kimia dengan tanggal kedaluwarsa yang telah lewat ditemukan di rak penyimpanan. Tindakan laboran yang paling
tepat adalah …
A. Tetap menggunakannya untuk praktikum karena jumlahnya masih banyak.
B. Mencampurkannya dengan bahan baru agar konsentrasi rata-rata masih memenuhi syarat.
C. Memisahkannya dari bahan yang masih layak pakai, memberi label "kedaluwarsa", dan mengelolanya sebagai limbah B3
sesuai prosedur, serta mengusulkan pengadaan pengganti.
D. Membuangnya langsung ke tempat sampah umum tanpa label.
E. Membiarkannya tersimpan tanpa tindakan apa pun.
Level C5 • pengelolaan bahan kedaluwarsa
D. Layanan Teknis dan Dukungan Pembelajaran (Butir 31–40)
31. Peran laboran yang paling tepat dalam mendukung pembelajaran mendalam (deep learning) berbasis praktikum adalah …
A. Menyiapkan alat dan bahan seadanya tanpa berkoordinasi dengan guru.
B. Berkoordinasi dengan guru untuk memahami tujuan pembelajaran, menyiapkan alat/bahan yang mendukung eksplorasi dan
penemuan peserta didik, serta memberikan asistensi teknis yang memperkuat keselamatan dan kelancaran penyelidikan.
C. Menjalankan seluruh langkah praktikum menggantikan peserta didik agar lebih cepat selesai.
D. Menolak permintaan alat yang tidak tersedia tanpa menawarkan alternatif.
E. Membatasi jumlah praktikum demi menghemat bahan tanpa berdiskusi dengan guru.
Level C5 • dukungan pembelajaran mendalam
32. Seorang guru meminta laboran menyiapkan alat untuk praktikum yang belum pernah dilakukan sebelumnya di madrasah
tersebut. Langkah laboran yang paling tepat adalah …
A. Menolak permintaan karena belum berpengalaman.
B. Mempelajari prosedur praktikum, memeriksa ketersediaan dan kelayakan alat/bahan, melakukan uji coba (dry run) jika
memungkinkan, serta mengidentifikasi potensi risiko sebelum hari pelaksanaan.
C. Menyiapkan alat seadanya tanpa mempelajari prosedurnya terlebih dahulu.
D. Meminta guru menyiapkan sendiri seluruh alat dan bahan.
E. Menunda praktikum tanpa batas waktu yang jelas.
Level C5 • kesiapan teknis praktikum baru
33. Ketika mendampingi praktikum, laboran menemukan seorang peserta didik menggunakan pipet dengan cara menghisap
larutan langsung menggunakan mulut. Tindakan yang paling tepat adalah …
A. Membiarkan karena larutan yang digunakan dianggap tidak berbahaya.
B. Menegur secara terbuka di depan seluruh kelas agar menjadi peringatan bagi yang lain.
C. Segera menghentikan tindakan tersebut secara sopan, menjelaskan bahayanya, dan mencontohkan penggunaan bulb/filler
pipet yang benar.
D. Melaporkan peserta didik tersebut kepada kepala madrasah tanpa penjelasan langsung.
E. Mengabaikannya karena bukan tanggung jawab laboran untuk menegur peserta didik.
Level C5 • pendampingan keselamatan praktikum
34. Setelah praktikum titrasi asam basa selesai, urutan langkah pembersihan dan penyimpanan alat gelas yang paling tepat
adalah …
A. Langsung disimpan kembali ke rak tanpa dicuci agar praktis untuk praktikum berikutnya.
B. Dicuci dengan air dan sabun/deterjen laboratorium, dibilas dengan air suling, dikeringkan dengan cara yang sesuai jenis
alatnya, diperiksa keutuhannya, lalu disimpan kembali sesuai kelompok dan lokasinya.
C. Direndam dalam larutan titran sisa agar tidak perlu dicuci ulang.
D. Dikeringkan langsung di bawah sinar matahari tanpa dicuci terlebih dahulu.
E. Disimpan basah agar tidak perlu proses pengeringan.
Level C4 • SOP pascapraktikum
35. Dukungan laboran terhadap asesmen berbasis kinerja praktikum yang paling tepat adalah …
A. Menentukan sendiri nilai peserta didik berdasarkan kecepatan bekerja.
B. Membantu guru menyiapkan kondisi alat/bahan yang setara bagi setiap kelompok, mencatat observasi teknis (seperti
ketepatan prosedur atau penanganan alat) yang dapat menjadi bahan pertimbangan guru, tanpa mengambil alih penilaian
akademik.
C. Mengoreksi laporan praktikum peserta didik secara mandiri.
D. Menetapkan kriteria penilaian tanpa melibatkan guru.
E. Membiarkan seluruh kelompok menggunakan alat dengan kondisi berbeda-beda tanpa pengecekan.
Level C5 • dukungan asesmen praktikum
36. Ketika stok bahan kimia tertentu menipis menjelang praktikum penting, langkah laboran yang paling tepat adalah …
A. Membiarkan praktikum berjalan dengan jumlah bahan yang tidak mencukupi untuk seluruh kelompok.
B. Segera melaporkan kondisi stok kepada penanggung jawab laboratorium/kepala madrasah dengan proyeksi kebutuhan yang
jelas, mengusulkan pengadaan tepat waktu, dan mendiskusikan dengan guru kemungkinan modifikasi skala praktikum
(mikroskala) bila diperlukan.
C. Membeli sendiri bahan tersebut menggunakan uang pribadi tanpa pelaporan.
D. Membatalkan praktikum tanpa memberi tahu guru terlebih dahulu.
E. Mengganti bahan dengan bahan lain yang sifat kimianya berbeda tanpa konsultasi.
Level C5 • manajemen stok dan komunikasi37. Peran laboran dalam mendukung penerapan nilai Kurikulum Cinta melalui kegiatan laboratorium yang paling tepat adalah …
A. Membatasi penggunaan laboratorium hanya untuk kegiatan formal semata.
B. Membimbing kebiasaan hemat bahan, disiplin prosedur, kejujuran mencatat data pengamatan, serta kepedulian terhadap
keselamatan diri dan sesama sebagai wujud nyata cinta ilmu, cinta sesama, dan cinta lingkungan dalam praktik sehari-hari di
laboratorium.
C. Menyelenggarakan kajian keagamaan formal di dalam laboratorium.
D. Menugaskan peserta didik menghafal ayat sebelum praktikum tanpa kaitan dengan materi.
E. Menekankan capaian nilai akademik semata tanpa memperhatikan perilaku kerja peserta didik.
Level C5 • Kurikulum Cinta dalam layanan laboratorium
38. Guru meminta laboran memodifikasi eksperimen skala penuh menjadi eksperimen skala mikro (microscale) untuk menghemat
bahan sekaligus mengurangi risiko. Pertimbangan yang paling penting sebelum menyetujui modifikasi tersebut adalah …
A. Modifikasi harus tetap mencapai tujuan pembelajaran dan menghasilkan pengamatan yang valid serta teramati jelas oleh
peserta didik, bukan sekadar mengurangi jumlah bahan.
B. Modifikasi cukup dilakukan tanpa memperhatikan tujuan pembelajaran.
C. Modifikasi hanya boleh dilakukan atas izin dinas pusat.
D. Modifikasi ditolak karena mengubah prosedur baku selamanya.
E. Modifikasi diterapkan tanpa uji coba terlebih dahulu.
Level C5 • inovasi dan efisiensi praktikum
39. Ketika mendampingi kegiatan proyek sains peserta didik yang melibatkan alat di luar prosedur praktikum baku, sikap laboran
yang paling tepat adalah …
A. Menolak seluruh permintaan di luar prosedur baku demi keamanan.
B. Membiarkan peserta didik mencoba sendiri tanpa pendampingan demi kemandirian.
C. Mengevaluasi kelayakan dan risiko penggunaan alat/bahan yang diusulkan bersama guru pembimbing, memberi
pendampingan teknis yang tetap membuka ruang kreativitas peserta didik selama batas keselamatan terjaga.
D. Menyetujui seluruh permintaan tanpa evaluasi risiko demi mendukung kreativitas.
E. Mengambil alih pelaksanaan proyek dari peserta didik agar lebih aman.
Level C5 • dukungan proyek sains dan kreativitas terbimbing
40. Indikator paling kuat bahwa layanan laboratorium telah berjalan efektif mendukung pembelajaran adalah …
A. Seluruh alat tersimpan rapi tanpa pernah digunakan.
B. Laboratorium dimanfaatkan secara rutin dan aman sesuai kebutuhan kurikulum, mendukung tercapainya tujuan
pembelajaran secara nyata, serta minim insiden keselamatan kerja.
C. Jumlah alat yang dimiliki laboratorium lebih banyak daripada madrasah lain.
D. Laboran selalu hadir tepat waktu setiap hari.
E. Laboratorium memiliki dokumen administrasi yang tebal.
Level C5 • evaluasi efektivitas layanan laboratorium
BAGIAN II — PENGEMBANGAN DIRI DAN NILAI KURIKULUM CINTA (Butir 41–50)
41. Setelah mengikuti AKGTK, seorang laboran menyadari kelemahannya dalam penanganan limbah B3. Bentuk pengembangan
diri yang paling tepat adalah …
A. Menghindari tugas yang berkaitan dengan limbah B3 di kemudian hari.
B. Menunggu pelatihan resmi dari Kementerian Agama tanpa upaya mandiri.
C. Mempelajari pedoman pengelolaan limbah B3 secara mandiri, mengikuti pelatihan atau komunitas laboran (bila tersedia),
dan menerapkannya secara bertahap dengan berkonsultasi kepada guru IPA atau pihak berwenang.
D. Menyerahkan seluruh urusan limbah kepada petugas kebersihan madrasah.
E. Mengganti profesi karena dianggap terlalu berisiko.
Level C5 • refleksi diri dan pengembangan profesi
42. Nilai kerja profesional yang paling penting dijaga seorang laboran dalam mencatat hasil pengamatan atau data teknis adalah
…
A. Kecepatan mencatat tanpa memperhatikan akurasi data.
B. Kejujuran dan ketelitian mencatat data apa adanya, termasuk data yang tampak janggal, karena keakuratan data menjadi
dasar pengambilan keputusan dan pembelajaran peserta didik.
C. Menyesuaikan data agar sesuai dengan hasil yang diharapkan guru.
D. Mencatat hanya data yang dianggap penting oleh laboran sendiri.
E. Menunda pencatatan hingga akhir hari kerja.
Level C4 • integritas kerja profesional
43. Sikap laboran yang paling mencerminkan nilai cinta sesama dalam pelayanan sehari-hari adalah …
A. Melayani permintaan guru secara cepat tanpa memperhatikan kualitas dan keselamatan.
B. Memberikan layanan yang ramah, sabar, dan membantu tanpa membeda-bedakan guru maupun peserta didik, sekaligus
tetap tegas menjaga keselamatan bersama.
C. Hanya melayani guru yang dianggap dekat secara pribadi.
D. Menunda pelayanan bagi guru yang dianggap kurang penting.
E. Membebankan seluruh persiapan praktikum kepada guru mata pelajaran.
Level C4 • Kurikulum Cinta: cinta sesama44. Praktik hemat energi dan air yang paling tepat diterapkan laboran dalam pengelolaan laboratorium sehari-hari adalah …
A. Membiarkan keran air dan lampu menyala terus agar praktis.
B. Mematikan peralatan listrik dan menutup keran air setelah digunakan, menggunakan air secukupnya saat pencucian alat,
serta membiasakan peserta didik melakukan hal yang sama.
C. Menggunakan air sebanyak mungkin agar alat lebih bersih tanpa mempertimbangkan penghematan.
D. Menyalakan seluruh peralatan laboratorium sepanjang hari meskipun tidak digunakan.
E. Tidak mempedulikan penghematan karena bukan tanggung jawab laboran.
Level C4 • Kurikulum Cinta: cinta lingkungan
45. Seorang laboran diminta membantu peserta didik yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu untuk mengikuti
kegiatan olimpiade sains yang memerlukan latihan praktikum tambahan di luar jam pelajaran. Sikap yang paling tepat adalah …
A. Menolak karena dianggap di luar tugas pokok dan fungsi laboran.
B. Membantu menyiapkan fasilitas latihan tambahan tersebut secara wajar dan proporsional, sebagai wujud kepedulian dan
dukungan terhadap potensi peserta didik, dengan tetap berkoordinasi dan meminta izin kepada pihak madrasah.
C. Meminta imbalan pribadi sebelum membantu.
D. Membantu tanpa melaporkan kepada pihak madrasah.
E. Mengabaikan permintaan karena dianggap tidak akan berhasil.
Level C5 • Kurikulum Cinta: cinta sesama dan keadilan
46. Dalam kerangka moderasi beragama, sikap laboran yang paling tepat ketika mendampingi praktikum yang membahas topik
ilmiah yang berpotensi bersinggungan dengan pemahaman keagamaan tertentu (misalnya asal-usul kehidupan) adalah …
A. Menghindari topik tersebut sepenuhnya dalam layanan laboratorium.
B. Mendukung guru menyajikan proses ilmiah secara objektif dan sahih sesuai kaidah keilmuan, sambil menghormati
keragaman pandangan peserta didik dan menyerahkan pembahasan nilai keagamaan kepada ranah yang sesuai.
C. Menyampaikan pandangan pribadi laboran tentang isu tersebut kepada peserta didik.
D. Melarang peserta didik bertanya lebih lanjut tentang topik tersebut.
E. Mengubah hasil praktikum agar sesuai dengan keyakinan tertentu.
Level C5 • moderasi beragama dalam layanan laboratorium
47. Komunitas atau forum yang paling relevan bagi laboran madrasah untuk mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan
adalah …
A. Forum yang tidak berkaitan dengan bidang kelaboratoriuman sama sekali.
B. Forum atau komunitas tenaga laboratorium sekolah/madrasah (sejenis MGMP bagi laboran), pelatihan teknis dari
dinas/Kementerian Agama, serta forum berbagi praktik baik antarlaboran di wilayah yang sama.
C. Media sosial hiburan tanpa muatan keilmuan.
D. Perkumpulan yang hanya membahas isu di luar bidang pendidikan.
E. Tidak perlu bergabung dengan forum apa pun karena pekerjaan bersifat teknis semata.
Level C4 • PKB bagi tenaga laboratorium
48. Ketika terjadi perbedaan pendapat antara laboran dan guru mengenai kelayakan suatu alat untuk digunakan (laboran menilai
alat sudah tidak aman, sedangkan guru ingin tetap menggunakannya karena keterbatasan alat lain), sikap laboran yang paling
tepat adalah …
A. Mengalah dan tetap menyediakan alat tersebut demi menjaga hubungan baik.
B. Menyampaikan secara profesional dasar penilaian keselamatan yang dimiliki, mengusulkan alternatif atau solusi bersama,
dan jika diperlukan melibatkan kepala madrasah untuk pengambilan keputusan akhir demi keselamatan bersama.
C. Diam saja dan membiarkan guru menggunakan alat tersebut tanpa memberi peringatan.
D. Menolak secara keras tanpa memberikan penjelasan maupun solusi alternatif.
E. Merusak alat tersebut secara sengaja agar tidak dapat digunakan.
Level C5 • profesionalisme dan keberanian menjaga keselamatan
49. Wujud kepedulian laboran terhadap keberlanjutan lingkungan dalam pengelolaan laboratorium yang paling tepat, selain
penanganan limbah B3, adalah …
A. Mengabaikan pemilahan sampah karena dianggap bukan tanggung jawab laboratorium.
B. Membiasakan pemilahan sampah non-B3 (kertas, plastik, organik), mendorong penggunaan bahan seperlunya sesuai
kebutuhan praktikum, dan mendukung praktik daur ulang alat/wadah yang masih layak pakai.
C. Membakar seluruh sampah laboratorium tanpa pemilahan.
D. Menggunakan bahan sebanyak mungkin agar hasil praktikum lebih meyakinkan.
E. Menumpuk seluruh jenis sampah dalam satu wadah yang sama.
Level C4 • Kurikulum Cinta: cinta lingkungan
50. Refleksi diri yang paling tepat dilakukan laboran secara berkala untuk menjaga mutu layanannya adalah …
A. Membandingkan dirinya dengan laboran madrasah lain semata tanpa evaluasi diri.
B. Mengevaluasi secara jujur ketertiban administrasi, kepatuhan prosedur keselamatan, kepuasan guru dan peserta didik
terhadap layanan, serta merumuskan langkah perbaikan konkret dan berkelanjutan dari hasil evaluasi tersebut.
C. Menganggap pekerjaan sudah sempurna selama tidak ada keluhan tertulis.
D. Menyerahkan evaluasi sepenuhnya kepada pihak lain tanpa keterlibatan diri sendiri.
E. Melakukan refleksi hanya menjelang penilaian kinerja tahunan.
Level C5 • refleksi diri dan mutu layanan berkelanjutanKUNCI JAWABAN
No
Kunci
No
Kunci
No
Kunci
No
Kunci
No
Kunci
1
B
11
C
21
B
31
B
41
C
2
B
12
B
22
B
32
B
42
B
3
C
13
B
23
C
33
C
43
B
4
C
14
B
24
C
34
B
44
B
5
B
15
B
25
B
35
B
45
B
6
C
16
C
26
B
36
B
46
B
7
B
17
B
27
B
37
B
47
B
8
C
18
B
28
B
38
A
48
B
9
B
19
B
29
C
39
C
49
B
10
C
20
C
30
C
40
B
50
B
PEMBAHASAN SINGKAT
1. B. Kartu stok (kartu gudang) mencatat riwayat keluar-masuk dan sisa stok suatu bahan secara kronologis per jenis bahan, berbeda dari
buku inventaris aset yang mencatat barang tetap.
2. B. Kode yang sistematis (jenis, rumpun ilmu, lokasi, nomor urut) memudahkan penelusuran dan konsistensi inventarisasi jangka panjang.
3. C. Selisih stok harus ditelusuri penyebabnya, didokumentasikan resmi (berita acara), dan dilaporkan — bukan diubah begitu saja atau
diabaikan.
4. C. Perencanaan kebutuhan alat/bahan harus selaras dengan kalender pendidikan dan program semester guru agar penyediaan tepat
waktu dan sesuai kebutuhan pembelajaran.
5. B. Prosedur peminjaman yang tertib mencatat identitas peminjam, jenis/jumlah alat, dan kondisi saat pinjam-kembali, sebagai dasar
akuntabilitas dan pemeliharaan alat.
6. C. Tata letak yang aman mengikuti alur kerja praktikum, menjaga jalur evakuasi tetap terbuka, dan menempatkan sarana keselamatan
(APAR, P3K) agar mudah dijangkau.
7. B. Laporan yang bermanfaat memuat data pemanfaatan, kondisi alat/bahan, kebutuhan, dan catatan keselamatan sebagai dasar keputusan
dan perencanaan anggaran.
8. C. Konflik jadwal ditangani secara komunikatif dan kolaboratif dengan pihak terkait, disertai usulan perbaikan sistem agar tidak berulang.
9. B. Bahan kimia disimpan berdasarkan kompatibilitas dan sifat bahaya untuk mencegah reaksi berbahaya, bukan berdasarkan abjad atau
ukuran wadah semata.
10. C. Simbol nyala api pada GHS menandakan bahan mudah terbakar (flammable).
11. C. Penyimpangan hasil timbang terhadap standar bersertifikat menandakan neraca perlu dikalibrasi/ditera ulang sebelum digunakan
kembali untuk pengukuran presisi.
12. B. n = M × V = 0,1 mol/L × 0,5 L = 0,05 mol. Massa = n × Mr = 0,05 × 40 = 2 gram.
13. B. M₁V₁ = M₂V₂ ⇒ 12 × V₁ = 1 × 250 ⇒ V₁ = 20,8 mL.
14. B. Asam pekat dituangkan sedikit demi sedikit ke dalam air (bukan sebaliknya) karena reaksi pengenceran sangat eksotermik dan
berisiko memercik jika air dituang ke asam.
15. B. Bayangan buram setelah lensa bersih menuntut pemeriksaan sumber cahaya, kondensor, ketebalan preparat, fokus, dan diafragma
secara sistematis sebelum menyimpulkan kerusakan.
16. C. Autoklaf menggunakan uap bertekanan tinggi mampu membunuh mikroorganisme beserta sporanya, menjadikannya metode
sterilisasi paling efektif untuk kultur mikroorganisme.
17. B. Buret dibilas dengan larutan titran yang akan digunakan setelah dibilas air suling, agar sisa air tidak mengubah konsentrasi larutan di
dalam buret.
18. B. Gejala kerusakan pada alat yang lama tidak diperiksa menuntut penjadwalan pemeriksaan preventif dan pelaporan kepada
penanggung jawab sebelum digunakan kembali.
19. B. APD minimal untuk bahan korosif mencakup jas lab, kacamata pelindung, sarung tangan sesuai jenis bahan, dan alas kaki tertutup —
bukan sebagian saja.
20. C. Penanganan tumpahan yang benar mengamankan area, menetralkan sesuai MSDS, membersihkan dan membuang limbah sesuai
ketentuan, dengan APD tetap dikenakan.
21. B. Pertolongan pertama bahan korosif pada kulit adalah pembilasan air mengalir sebanyak dan selama mungkin, melepas benda
terkontaminasi, lalu rujukan medis segera.
22. B. Kebakaran kelas B (cairan mudah terbakar) dipadamkan dengan APAR busa, CO2, atau serbuk kimia kering yang memutus oksigen
tanpa menyebarkan cairan — air justru berbahaya untuk jenis ini.
23. C. Lemari asam berfungsi mengeluarkan dan mengencerkan uap/gas berbahaya agar pengguna tidak terpapar langsung selama bekerja
dengan bahan volatil.
24. C. Limbah logam berat wajib dikumpulkan sebagai limbah B3 berlabel dan diserahkan kepada pihak berizin, bukan dibuang ke saluran
air atau diencerkan begitu saja.
25. B. Pecahan kaca dan benda tajam dikumpulkan dalam wadah tahan tusuk berlabel untuk mencegah cedera dan kontaminasi, terpisah
dari sampah umum.
26. B. MSDS/LDKB memberi informasi sifat bahaya, penanganan aman, penyimpanan, dan tindakan darurat, sehingga risiko dapat
diantisipasi sebelum bahan digunakan.27. B. Tabung gas disimpan tegak, terikat kuat, jauh dari sumber panas, dengan pemeriksaan kebocoran berkala menggunakan cara yang
aman (bukan korek api).
28. B. Sebelum praktikum berisiko, penjelasan prosedur keselamatan, potensi bahaya, APD, dan langkah darurat wajib disampaikan kepada
peserta didik, disertai jalur evakuasi yang bebas hambatan.
29. C. Pola insiden berulang menuntut analisis akar penyebab, pembaruan SOP, perbaikan penataan, dan pelaporan sistemik — bukan
sekadar pencatatan atau larangan total.
30. C. Bahan kedaluwarsa dipisahkan, diberi label, dikelola sebagai limbah B3, dan diusulkan penggantinya — tidak dicampur, dibuang
sembarangan, atau dibiarkan.
31. B. Dukungan pembelajaran mendalam menuntut koordinasi dengan guru untuk memahami tujuan pembelajaran, bukan sekadar
menyiapkan alat atau mengambil alih proses eksplorasi peserta didik.
32. B. Praktikum baru menuntut kajian prosedur, pemeriksaan kelayakan, uji coba, dan identifikasi risiko sebelum pelaksanaan
sesungguhnya.
33. C. Tindakan berbahaya harus segera dihentikan secara sopan disertai penjelasan dan contoh cara yang benar, bukan dibiarkan,
dipermalukan, atau diabaikan.
34. B. SOP pascapraktikum meliputi pencucian, pembilasan air suling, pengeringan sesuai jenis alat, pemeriksaan keutuhan, lalu
penyimpanan kembali sesuai kelompoknya.
35. B. Laboran mendukung asesmen kinerja dengan menyiapkan kondisi setara dan mencatat observasi teknis, tanpa mengambil alih
wewenang penilaian akademik guru.
36. B. Stok menipis ditangani dengan pelaporan dini disertai proyeksi kebutuhan, usulan pengadaan, dan diskusi kemungkinan modifikasi
skala praktikum bila diperlukan.
37. B. Nilai Kurikulum Cinta terwujud melalui kebiasaan kerja nyata sehari-hari — hemat bahan, disiplin, kejujuran data, dan kepedulian
keselamatan — bukan simbol atau kegiatan tempelan.
38. A. Modifikasi skala mikro harus tetap menjaga validitas dan keterlihatan hasil pengamatan sesuai tujuan pembelajaran, bukan sekadar
mengurangi bahan.
39. C. Proyek di luar prosedur baku ditangani dengan evaluasi risiko bersama guru dan pendampingan teknis yang tetap membuka ruang
kreativitas, bukan penolakan total atau persetujuan tanpa kajian.
40. B. Efektivitas layanan laboratorium diukur dari pemanfaatan rutin dan aman yang mendukung tujuan pembelajaran secara nyata, bukan
dari kerapian alat yang tidak terpakai atau jumlah dokumen.
41. C. Pengembangan diri yang tepat memadukan belajar mandiri, pelatihan/komunitas, dan penerapan bertahap dengan konsultasi kepada
pihak berwenang — bukan menghindari tugas atau menyerahkannya ke pihak lain.
42. B. Integritas pencatatan data menuntut kejujuran dan ketelitian, termasuk mencatat data yang tampak janggal sekalipun, karena data
menjadi dasar keputusan dan pembelajaran.
43. B. Cinta sesama tercermin dari pelayanan yang ramah dan adil tanpa membeda-bedakan, namun tetap tegas menjaga keselamatan
bersama.
44. B. Cinta lingkungan diwujudkan melalui kebiasaan hemat energi dan air yang konsisten, sekaligus menularkannya kepada peserta didik.
45. B. Kepedulian terhadap peserta didik kurang mampu diwujudkan secara wajar dan proporsional, tetap melalui koordinasi resmi dengan
madrasah, bukan penolakan atau tindakan di luar sepengetahuan pihak madrasah.
46. B. Moderasi beragama menuntut penyajian proses ilmiah secara objektif dan sahih, dengan menghormati keragaman pandangan, tanpa
mencampuradukkan hasil ilmiah dengan opini pribadi.
47. B. Forum sejenis MGMP bagi laboran, pelatihan teknis resmi, dan berbagi praktik baik antarlaboran adalah wadah PKB yang paling
relevan dengan bidang kelaboratoriuman.
48. B. Perbedaan pendapat soal keselamatan ditangani secara profesional: menyampaikan dasar penilaian, mengusulkan solusi, dan
melibatkan kepala madrasah bila diperlukan — bukan mengalah tanpa dasar atau bertindak sepihak merusak alat.
49. B. Kepedulian lingkungan mencakup pemilahan sampah non-B3, penggunaan bahan secukupnya, dan dukungan daur ulang, melengkapi
penanganan limbah B3.
50. B. Refleksi diri yang bermakna bersifat jujur dan berkala, mencakup administrasi, keselamatan, dan kepuasan pengguna layanan, diikuti
langkah perbaikan konkret — bukan sekadar membandingkan diri dengan pihak lain.KISI-KISI DAN SEBARAN BUTIR
No
Lingkup Materi
Butir
Jumlah
Penekanan Nilai
1
Administrasi laboratorium
1–8
8
Ketertiban, akuntabilitas
2
Pengelolaan alat dan bahan praktikum
9–18
10
Ketelitian, perawatan preventif
3
Keselamatan, kesehatan kerja, dan pengelolaan
limbah
19–30
12
Keselamatan, cinta lingkungan
4
Layanan teknis dan dukungan pembelajaran
31–40
10
Deep learning, kreativitas terbimbing
5
Pengembangan diri dan nilai Kurikulum Cinta
41–50
10
Cinta ilmu, cinta sesama, cinta lingkungan,
moderasi beragama
Jumlah
1–50
50
Sebaran Level Kognitif
Jumlah Butir
Persentase
L1–L2 – Mengingat & Aplikasi (C1–C3)
4
8%
L3 – Analisis (C4)
18
36%
L3 – Evaluasi & Mencipta (C5–C6)
28
56%
SARAN PEMANFAATAN
1. Kerjakan tanpa melihat kunci, dengan batas waktu 150 menit, untuk mensimulasikan kondisi asesmen sesungguhnya.
2. Butir keselamatan kerja (K3) menuntut kehati-hatian ekstra — jangan tergoda pilihan yang terkesan praktis tetapi sebenarnya berisiko
(mis. menyiram tumpahan asam dengan air tanpa prosedur, membuang limbah B3 ke saluran umum).
3. Latih kembali perhitungan dasar kimia larutan (molaritas, pengenceran M₁V₁=M₂V₂) karena rutin muncul dalam tugas laboran sehari
hari.
4. Analisis kesalahan per lingkup materi menggunakan tabel kisi-kisi di atas, lalu tindaklanjuti melalui pelatihan K3 laboratorium, forum
sesama laboran, atau bimbingan guru IPA senior.
5. Persiapkan aspek teknis sesuai surat resmi: instalasi Safe Exam Browser (SEB), pengecekan akun EMISGTK mulai 19 September
2026, dan uji coba login pada 19–20 September 2026.
Naskah Latihan Mandiri AKGTK Madrasah 2026 — Tenaga Laboratorium (Laboran) Profesional
Disusun sebagai bahan persiapan mandiri, bukan dokumen resmi Kementerian Agama RI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar