NASKAH LATIHAN MANDIRI
ASESMEN KOMPETENSI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (AKGTK) MADRASAH TAHUN 2026
Berbasis HOTS • Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) • Kurikulum Cinta
Sasaran
Pengawas Madrasah (RA/MI/MTs/MA/MAK)
Dimensi yang Diukur
Supervisi Akademik (15), Supervisi Manajerial (12), Evaluasi Pendidikan (13), Penelitian &
Pengembangan (10)
Jumlah Soal
50 butir pilihan ganda (A, B, C, D, E)
Alokasi Waktu
150 menit (mengacu sesi Pengawas, Kamis 08/10/2026, 13.00–15.30 WIB)
Level Kognitif
Dominan L3: C4 menganalisis, C5 mengevaluasi, C6 mencipta
Bentuk Butir
Mayoritas berbasis kasus, data hasil pengawasan, dan interpretasi hasil penelitian
PETUNJUK UMUM
1. Berdoalah sebelum mengerjakan. Bacalah setiap kasus dan data dengan cermat dan penuh kesadaran (mindful).
2. Pilihlah satu jawaban yang paling tepat. Sebagian pengecoh merupakan tindakan yang benar, tetapi bukan langkah pertama atau
bukan yang paling berdampak pada mutu pembelajaran.
3. Dasarkan pilihan pada prinsip supervisi yang membina (bukan menghakimi), kesahihan data, dan keberpihakan pada mutu pendidikan
madrasah binaan.
4. Kunci jawaban, pembahasan, dan kisi-kisi tersedia pada bagian akhir naskah — gunakan untuk refleksi diri, bukan sekadar
mencocokkan skor.
CATATAN PENTING: Naskah ini adalah bahan latihan mandiri yang disusun secara independen untuk persiapan AKGTK 2026,
bukan soal resmi, bocoran, atau terbitan Direktorat GTK Madrasah Kementerian Agama RI. Acuan resmi pelaksanaan tetap pada surat
Nomor B-86/Dt.I.II/KP.02/09/2026 dan juknis AKGTK 2026.
DIMENSI I — SUPERVISI AKADEMIK (Butir 1–15)
1. Tujuan utama supervisi akademik yang dilakukan pengawas terhadap guru madrasah adalah …
A. Menilai kinerja guru untuk menentukan kelayakan kenaikan pangkat.
B. Mengawasi kepatuhan guru terhadap jadwal dan tata tertib madrasah.
C. Membina dan mengembangkan kemampuan profesional guru secara berkelanjutan agar kualitas proses dan hasil belajar
murid meningkat.
D. Mengumpulkan bukti pelanggaran guru untuk keperluan pembinaan disiplin.
E. Memastikan seluruh guru menggunakan metode mengajar yang seragam.
Level C4 • hakikat supervisi akademik
2. Pengawas menemukan seorang guru pemula kesulitan mengelola kelas, sedangkan guru senior di madrasah yang sama sudah
mahir namun jarang berinovasi. Pendekatan supervisi yang paling tepat bagi keduanya adalah …
A. Menyamakan pendekatan supervisi bagi keduanya agar adil.
B. Direktif dan intensif bagi guru pemula untuk membangun keterampilan dasar, sedangkan kolaboratif atau non-direktif bagi
guru senior untuk mendorong refleksi dan inovasi.
C. Non-direktif bagi keduanya agar mereka menemukan sendiri solusinya.
D. Direktif bagi keduanya agar standar mengajar madrasah seragam.
E. Menyerahkan pembinaan guru pemula sepenuhnya kepada kepala madrasah.
Level C5 • pendekatan supervisi diferensial
3. Teknik supervisi yang paling tepat digunakan pengawas untuk membina beberapa guru mata pelajaran sejenis dari madrasah
binaan yang berbeda secara serentak adalah …
A. Kunjungan kelas individual ke setiap madrasah secara bergiliran.
B. Teknik kelompok, seperti lokakarya MGMP lintas madrasah, sehingga guru saling berbagi praktik baik sekaligus dibina
bersama.
C. Menyurati kepala madrasah untuk membina guru masing-masing.
D. Memanggil seluruh guru ke kantor pengawas untuk diberi pengarahan tertulis.
E. Menunggu laporan kepala madrasah tentang kondisi guru tersebut.
Level C4 • teknik supervisi kelompok
4. Sebelum melakukan kunjungan kelas, pengawas menyusun instrumen observasi bersama guru dan menyepakati aspek yang
akan diamati. Prinsip supervisi yang paling tepat tercermin dari praktik ini adalah …
A. Prinsip objektivitas semata, karena instrumen telah baku.
B. Prinsip kolegial dan demokratis, karena guru dilibatkan menentukan fokus pembinaannya sendiri sehingga proses terasa
sebagai kemitraan, bukan pengawasan sepihak.
C. Prinsip kerahasiaan, karena kesepakatan dibuat sebelum kunjungan.
D. Prinsip efisiensi waktu semata.
E. Prinsip keseragaman metode pembinaan bagi seluruh guru binaan.
Level C4 • prinsip supervisi kolegial5. Hasil observasi kelas menunjukkan guru sudah menyusun tujuan pembelajaran yang jelas, tetapi pertanyaan yang diajukan
sepanjang pembelajaran seluruhnya berada pada level mengingat dan memahami. Rekomendasi pengawas yang paling tepat
adalah …
A. Menyatakan pembelajaran sudah baik karena tujuan sudah jelas.
B. Meminta guru berhenti mengajukan pertanyaan sama sekali.
C. Mendampingi guru merancang pertanyaan berjenjang yang menuntun murid menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan,
sesuai prinsip pembelajaran mendalam dan HOTS.
D. Menugaskan guru mengikuti pelatihan penyusunan tujuan pembelajaran.
E. Mencatat temuan sebagai kelemahan tanpa tindak lanjut pembinaan.
Level C5 • supervisi HOTS dan deep learning
6. Dalam pertemuan balikan pascaobservasi, urutan langkah yang paling tepat menurut prinsip supervisi klinis adalah …
A. Menyampaikan seluruh kelemahan terlebih dahulu agar guru waspada.
B. Memberi kesempatan guru merefleksikan sendiri pembelajarannya berdasarkan data hasil observasi, baru kemudian
mendiskusikan bersama kekuatan, area perbaikan, dan rencana tindak lanjut.
C. Membacakan skor instrumen supervisi tanpa diskusi.
D. Membandingkan guru tersebut dengan guru lain yang dinilai lebih baik.
E. Menutup pertemuan tanpa menyepakati rencana tindak lanjut agar guru tidak terbebani.
Level C5 • pertemuan balikan
7. Pengawas mendampingi guru menyusun modul ajar yang mengintegrasikan nilai Kurikulum Cinta. Contoh integrasi yang paling
tepat secara pedagogis adalah …
A. Menambahkan kutipan ayat pada setiap slide tanpa kaitan dengan capaian pembelajaran.
B. Merancang aktivitas belajar yang secara alami menumbuhkan empati, kepedulian lingkungan, atau semangat kebangsaan,
sekaligus mencapai tujuan pembelajaran mata pelajaran yang bersangkutan.
C. Mengganti sebagian jam pelajaran dengan ceramah keagamaan.
D. Menilai sikap religius murid secara terpisah dari pembelajaran akademik.
E. Menghindari topik ilmiah yang berpotensi menimbulkan perdebatan.
Level C5 • pendampingan Kurikulum Cinta
8. Pengawas menemukan seorang guru menggunakan aplikasi pembelajaran interaktif namun peran murid hanya menekan tombol
jawaban tanpa diskusi lebih lanjut. Umpan balik pengawas yang paling mendorong perbaikan adalah …
A. "Aplikasinya sudah bagus, lanjutkan saja seperti ini."
B. "Aplikasi ini menarik. Bagaimana jika hasil jawaban murid dijadikan bahan diskusi kelompok untuk menggali alasan di balik
pilihan mereka, sehingga interaksinya lebih mendalam?"
C. "Jangan gunakan aplikasi lagi karena membuat murid pasif."
D. "Ganti dengan metode ceramah agar lebih terkendali."
E. "Saya akan laporkan penggunaan aplikasi ini ke kepala madrasah."
Level C5 • supervisi pemanfaatan TIK
9. Program supervisi akademik tahunan pengawas sebaiknya disusun berdasarkan …
A. Permintaan kepala madrasah semata tanpa data pendukung.
B. Jadwal supervisi tahun sebelumnya yang diulang tanpa perubahan.
C. Hasil evaluasi diri madrasah, rapor pendidikan, dan data supervisi sebelumnya, sehingga sasaran dan prioritas pembinaan
tepat pada kebutuhan nyata setiap madrasah binaan.
D. Urutan abjad nama madrasah binaan agar merata.
E. Kedekatan jarak tempuh dari kantor pengawas.
Level C5 • perencanaan program supervisi
10. Pengawas ingin menilai efektivitas asesmen formatif yang diterapkan guru. Bukti yang paling relevan untuk ditelusuri adalah
…
A. Kerapian rekapitulasi nilai ulangan harian dalam buku nilai.
B. Jumlah soal yang diberikan guru dalam satu semester.
C. Bukti bahwa umpan balik guru ditindaklanjuti murid dan memengaruhi penyesuaian strategi mengajar guru pada pertemuan
berikutnya.
D. Kecepatan guru mengoreksi dan mengembalikan hasil tes.
E. Kesesuaian format penilaian dengan template dinas.
Level C5 • supervisi asesmen formatif
11. Dari 5 kali kunjungan kelas terhadap seorang guru sepanjang semester, skor keterlaksanaan pembelajaran aktif tercatat: 60,
65, 70, 78, dan 85. Simpulan dan tindak lanjut pengawas yang paling tepat adalah …
A. Kinerja guru menurun sehingga perlu teguran tertulis.
B. Kinerja guru stagnan sehingga perlu dipindahtugaskan.
C. Terdapat tren peningkatan konsisten; pengawas perlu mengapresiasi capaian, mengidentifikasi strategi yang berhasil, dan
mendorong keberlanjutannya.
D. Data tidak dapat disimpulkan karena jumlah kunjungan terlalu sedikit.
E. Guru tersebut cukup disupervisi sekali lagi di akhir semester berikutnya.
Level C4 • analisis tren data supervisi
12. Pengawas membina 8 madrasah dengan total 96 guru. Jika target supervisi akademik adalah setiap guru dikunjungi minimal 2
kali per semester dan satu kali kunjungan (termasuk perjalanan dan pertemuan balikan) memerlukan rata-rata 3 jam, total waktu
yang diperlukan pengawas dalam satu semester adalah …
A. 288 jam
B. 384 jam
C. 480 jam
D. 576 jam
E. 672 jam
Level C4 • perencanaan beban kerja supervisi13. Ditemukan bahwa seorang guru selalu menunjukkan pembelajaran yang sangat baik hanya ketika dijadwalkan disupervisi,
namun laporan murid dan orang tua menunjukkan praktik sehari-hari berbeda. Langkah pengawas yang paling tepat adalah …
A. Menerima saja hasil observasi karena itulah yang teramati.
B. Menegur guru secara terbuka di hadapan rekan-rekannya.
C. Melakukan kunjungan tidak terjadwal atau observasi tambahan secara wajar, menelusuri sumber data lain (dokumen, hasil
belajar murid, wawancara singkat), untuk memperoleh gambaran yang lebih sahih sebelum menyimpulkan.
D. Mengabaikan laporan tersebut karena bersifat subjektif.
E. Melaporkan langsung kepada Kantor Kementerian Agama tanpa verifikasi.
Level C5 • validitas data supervisi
14. Peran pengawas dalam mendorong penerapan pembelajaran berdiferensiasi di madrasah binaan yang paling tepat adalah …
A. Mewajibkan seluruh guru membuat tiga versi modul ajar untuk setiap pertemuan.
B. Membantu guru memahami data asesmen awal murid, lalu bersama-sama merancang variasi proses atau produk belajar yang
tetap mengarah pada tujuan pembelajaran yang sama.
C. Menetapkan standar tunggal pembelajaran agar mudah diawasi.
D. Menyerahkan sepenuhnya kepada guru tanpa pendampingan.
E. Menilai keberhasilan diferensiasi semata dari kelengkapan dokumen RPP.
Level C5 • pendampingan diferensiasi pembelajaran
15. Indikator keberhasilan supervisi akademik yang paling kuat dari sudut pandang mutu pendidikan adalah …
A. Seluruh guru binaan telah dikunjungi sesuai jadwal tahunan.
B. Laporan supervisi tersusun rapi dan tepat waktu.
C. Guru merasa puas terhadap kunjungan pengawas.
D. Terjadi perubahan nyata dan terverifikasi pada praktik mengajar guru yang berdampak pada peningkatan capaian belajar
murid.
E. Jumlah temuan kekurangan guru menurun dari tahun ke tahun.
Level C5 • evaluasi dampak supervisi
DIMENSI II — SUPERVISI MANAJERIAL (Butir 16–27)
16. Fokus utama supervisi manajerial yang membedakannya dari supervisi akademik adalah …
A. Menilai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas.
B. Membina tata kelola kelembagaan madrasah — perencanaan, administrasi, sarana, keuangan, kesiswaan, dan kepemimpinan
kepala madrasah — agar mendukung tercapainya standar pendidikan.
C. Mengevaluasi hasil ujian akhir peserta didik.
D. Menilai kompetensi profesional guru mata pelajaran.
E. Menyusun materi ajar untuk digunakan seluruh madrasah binaan.
Level C4 • hakikat supervisi manajerial
17. Pengawas menelaah Rencana Kerja Madrasah (RKM) empat tahunan sebuah madrasah binaan. Aspek yang paling penting
untuk ditelaah pertama kali adalah …
A. Kerapian format dan tata bahasa dokumen.
B. Ketersediaan logo dan identitas madrasah pada sampul.
C. Keterkaitan program dan sasaran dalam RKM dengan hasil evaluasi diri madrasah dan rapor pendidikan, agar rencana
benar-benar menjawab kebutuhan nyata.
D. Kesesuaian jumlah halaman dengan madrasah lain di wilayah yang sama.
E. Kelengkapan tanda tangan pihak-pihak terkait semata.
Level C5 • telaah RKM
18. Pengawas menemukan laporan pertanggungjawaban dana BOS pada sebuah madrasah tidak sinkron antara realisasi fisik dan
pembukuan. Langkah pengawas yang paling tepat adalah …
A. Mengabaikan temuan karena bukan kewenangan pengawas akademik.
B. Langsung melaporkan kepala madrasah kepada aparat penegak hukum.
C. Mengonfirmasi temuan kepada kepala madrasah dan bendahara, memberikan pembinaan tata kelola keuangan yang benar,
dan merekomendasikan perbaikan serta pelaporan sesuai mekanisme berjenjang bila diperlukan.
D. Menutupi temuan agar tidak menjadi masalah besar.
E. Meminta madrasah mengganti seluruh pengurus keuangan tanpa proses pembinaan.
Level C5 • supervisi tata kelola keuangan
19. Dalam supervisi manajerial terhadap kepemimpinan kepala madrasah, aspek yang paling relevan untuk dinilai adalah …
A. Ketegasan kepala madrasah dalam memberikan sanksi kepada guru.
B. Kemampuan kepala madrasah membangun visi bersama, memimpin pembelajaran, mengelola sumber daya secara akuntabel,
dan menumbuhkan budaya belajar di kalangan guru.
C. Kerapian penampilan kepala madrasah saat menerima kunjungan.
D. Banyaknya kegiatan seremonial yang diselenggarakan madrasah.
E. Kecepatan kepala madrasah membalas surat dinas.
Level C4 • supervisi kepemimpinan kepala madrasah20. Pengawas membina delapan madrasah binaan dan ingin memetakan mutu tata kelola secara menyeluruh. Instrumen yang
paling tepat digunakan adalah …
A. Wawancara singkat dengan kepala madrasah saja.
B. Instrumen akreditasi semata tanpa data pendukung lain.
C. Instrumen supervisi manajerial terstruktur yang mencakup delapan standar nasional pendidikan, dipadukan dengan telaah
dokumen, observasi lapangan, dan data rapor pendidikan.
D. Survei kepuasan orang tua peserta didik semata.
E. Laporan lisan dari operator madrasah tanpa verifikasi lapangan.
Level C5 • instrumen supervisi manajerial
21. Perhatikan hasil pemetaan mutu delapan standar nasional pendidikan pada sebuah madrasah binaan berikut.
Standar
Isi
Proses
Kompetensi
Lulusan
Pendidik &
Tendik
Sarana Pengelolaan Pembiayaan Penilaian
Skor (1–
4)
3,2
2,1
2,8
3,0
2,0
3,4
3,1
2,3
Rekomendasi prioritas pembinaan pengawas yang paling tepat adalah …
A. Standar pengelolaan, karena skornya paling tinggi sehingga mudah dipertahankan.
B. Standar proses dan sarana prasarana, karena keduanya memiliki skor terendah dan proses pembelajaran sangat bergantung
pada ketersediaan sarana pendukung.
C. Standar pembiayaan, karena menyangkut aspek yang paling sensitif.
D. Seluruh standar dibina secara bersamaan tanpa urutan prioritas.
E. Standar kompetensi lulusan semata, karena menjadi tujuan akhir pendidikan.
Level C5 • analisis peta mutu 8 SNP
22. Pengawas mendampingi kepala madrasah menyusun program penguatan iklim madrasah yang ramah dan bebas kekerasan.
Langkah awal yang paling tepat adalah …
A. Langsung menyusun tata tertib baru yang lebih ketat.
B. Mendorong madrasah memetakan kondisi nyata melalui survei lingkungan belajar/iklim keamanan kepada murid, guru, dan
orang tua, sebagai dasar penyusunan program yang tepat sasaran.
C. Menunggu laporan pelanggaran terjadi sebelum bertindak.
D. Menetapkan sanksi tegas tanpa kajian data terlebih dahulu.
E. Menyerahkan seluruh persoalan kepada guru bimbingan konseling.
Level C5 • supervisi iklim madrasah
23. Pengawas menilai efektivitas Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebuah madrasah. Indikator paling kuat bahwa SPMI
berjalan efektif adalah …
A. Tersedianya dokumen kebijakan mutu yang lengkap dan terjilid rapi.
B. Madrasah rutin melaksanakan siklus pemetaan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mutu, serta menggunakan hasilnya
untuk memperbaiki standar pada periode berikutnya secara berkelanjutan.
C. Madrasah memiliki tim penjaminan mutu dengan struktur organisasi resmi.
D. Madrasah pernah mengikuti pelatihan penjaminan mutu.
E. Madrasah memperoleh nilai akreditasi A pada periode sebelumnya.
Level C5 • evaluasi SPMI
24. Dalam supervisi manajerial terhadap layanan perpustakaan dan laboratorium, aspek yang paling penting untuk ditelaah
pengawas adalah …
A. Kerapian penataan fisik ruangan semata.
B. Kelengkapan administrasi peminjaman buku dan alat.
C. Sejauh mana sarana tersebut benar-benar dimanfaatkan dalam proses pembelajaran dan berkontribusi terhadap peningkatan
literasi serta keterampilan berpikir murid.
D. Jumlah koleksi buku dan alat yang dimiliki tanpa melihat pemanfaatannya.
E. Usia bangunan tempat perpustakaan dan laboratorium berada.
Level C5 • supervisi pemanfaatan sarana
25. Madrasah binaan mengalami penurunan jumlah pendaftar tiga tahun berturut-turut. Peran pengawas yang paling tepat dalam
membantu madrasah adalah …
A. Menyalahkan kepala madrasah atas penurunan tersebut.
B. Membantu madrasah menganalisis akar penyebab secara jujur (mutu layanan, komunikasi dengan masyarakat, persaingan,
atau faktor demografis), lalu mendampingi penyusunan strategi perbaikan dan promosi yang berbasis mutu nyata.
C. Mengusulkan penutupan madrasah kepada Kantor Kementerian Agama.
D. Menyarankan penurunan biaya pendidikan tanpa memperbaiki mutu.
E. Membiarkan madrasah menyelesaikan persoalan tersebut sendiri.
Level C5 • pendampingan manajemen strategis
26. Pengawas menemukan kepala madrasah cenderung mengambil seluruh keputusan sendiri tanpa melibatkan guru maupun
komite. Pembinaan yang paling tepat adalah …
A. Mengambil alih pengambilan keputusan di madrasah tersebut.
B. Membiarkan gaya tersebut karena merupakan hak kepala madrasah.
C. Mendampingi kepala madrasah memahami manfaat kepemimpinan partisipatif dan membangun mekanisme musyawarah
yang proporsional, sambil tetap menghormati kewenangan pengambilan keputusan akhir sesuai kebutuhan situasional.
D. Melaporkan kepala madrasah untuk diberhentikan.
E. Mengganti seluruh struktur organisasi madrasah.
Level C5 • pembinaan gaya kepemimpinan27. Indikator keberhasilan supervisi manajerial yang paling tepat adalah …
A. Seluruh dokumen administrasi madrasah tersusun lengkap.
B. Kepala madrasah selalu hadir tepat waktu setiap kunjungan pengawas.
C. Terjadi perbaikan nyata pada tata kelola madrasah yang berdampak pada peningkatan mutu layanan pendidikan secara
keseluruhan, bukan sekadar kepatuhan administratif.
D. Jumlah laporan yang dikirim madrasah kepada pengawas meningkat.
E. Madrasah tidak pernah dikunjungi mendadak oleh atasan.
Level C5 • evaluasi dampak supervisi manajerial
DIMENSI III — EVALUASI PENDIDIKAN (Butir 28–40)
28. Perbedaan mendasar antara evaluasi program dan evaluasi hasil belajar dalam konteks tugas pengawas adalah …
A. Evaluasi program menilai perkembangan individu murid, sedangkan evaluasi hasil belajar menilai kelembagaan.
B. Keduanya memiliki fokus yang sama dan dapat digunakan secara bergantian.
C. Evaluasi program menilai efektivitas kebijakan atau kegiatan pendidikan secara menyeluruh untuk pengambilan keputusan,
sedangkan evaluasi hasil belajar menilai capaian kompetensi murid pada periode tertentu.
D. Evaluasi program hanya dilakukan oleh dinas pusat, sedangkan evaluasi hasil belajar oleh guru.
E. Evaluasi hasil belajar mencakup seluruh standar nasional pendidikan.
Level C4 • konsep evaluasi pendidikan
29. Pengawas ingin menilai butir soal ujian madrasah yang telah diujikan. Sebuah butir menghasilkan daya pembeda negatif.
Interpretasi dan tindak lanjut yang paling tepat adalah …
A. Butir tersebut sangat baik karena mampu memisahkan kelompok atas dan bawah.
B. Butir tersebut justru dijawab benar lebih banyak oleh kelompok berkemampuan rendah daripada kelompok tinggi,
mengindikasikan soal bermasalah (kunci keliru, ambigu, atau materi belum diajarkan) sehingga harus direvisi atau dibuang.
C. Butir tersebut cukup dipertahankan karena tingkat kesukarannya sedang.
D. Daya pembeda negatif menunjukkan soal terlalu mudah bagi seluruh peserta.
E. Daya pembeda negatif tidak memengaruhi kualitas instrumen secara keseluruhan.
Level C5 • analisis butir soal
30. Uji coba instrumen terhadap 40 peserta didik menghasilkan koefisien reliabilitas (Alpha Cronbach) sebesar 0,45. Simpulan
dan tindak lanjut yang paling tepat adalah …
A. Instrumen sangat reliabel dan dapat langsung digunakan sebagai alat ukur baku.
B. Reliabilitas instrumen tergolong rendah; perlu ditelaah butir-butir yang lemah, diperbaiki, dan diuji ulang sebelum digunakan
untuk pengambilan keputusan penting.
C. Reliabilitas tidak relevan selama validitas isi sudah terpenuhi.
D. Jumlah responden terlalu banyak sehingga menurunkan reliabilitas.
E. Instrumen sebaiknya diperpanjang durasinya agar reliabilitas meningkat tanpa revisi butir.
Level C5 • reliabilitas instrumen
31. Rata-rata nilai asesmen madrasah A adalah 78 dengan simpangan baku 5, sedangkan madrasah B rata-ratanya 78 dengan
simpangan baku 18. Interpretasi pengawas yang paling tepat adalah …
A. Kedua madrasah memiliki mutu pembelajaran yang identik karena rata-ratanya sama.
B. Madrasah B lebih unggul karena data lebih bervariasi.
C. Madrasah A menunjukkan pemerataan capaian yang lebih baik antarmurid, sedangkan madrasah B memiliki kesenjangan
capaian yang lebar sehingga memerlukan intervensi berdiferensiasi bagi murid yang tertinggal.
D. Simpangan baku tidak relevan untuk pembinaan pengawas.
E. Madrasah B pasti memiliki guru yang lebih baik karena rentang nilainya luas.
Level C5 • interpretasi sebaran data
32. Sebuah butir soal ujian diujikan kepada 50 peserta didik; 40 orang menjawab benar. Tingkat kesukaran butir tersebut dan
kategorinya adalah …
A. 0,40; sukar
B. 0,60; sedang
C. 0,80; mudah
D. 0,80; sukar
E. 0,20; sukar
Level C3 • tingkat kesukaran
33. Pengawas mengevaluasi program peningkatan literasi selama satu tahun. Rancangan evaluasi yang paling tepat untuk
mengetahui dampak program dibandingkan tanpa program adalah …
A. Mengukur nilai literasi murid setelah program berakhir saja.
B. Membandingkan skor literasi sebelum dan sesudah program pada kelompok yang sama, serta jika memungkinkan
membandingkannya dengan kelompok pembanding yang tidak mengikuti program.
C. Mengumpulkan testimoni guru tentang kesan mereka terhadap program.
D. Menghitung jumlah kegiatan literasi yang terlaksana tanpa mengukur hasilnya.
E. Membandingkan anggaran program dengan program lain yang sejenis.
Level C5 • desain evaluasi program
34. Model evaluasi program CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan Stufflebeam menekankan bahwa
evaluasi seharusnya …
A. Hanya dilakukan pada akhir program untuk menilai hasil akhirnya.
B. Berlangsung menyeluruh mulai dari penilaian kebutuhan dan konteks, kesesuaian rancangan dan sumber daya,
keterlaksanaan proses, hingga hasil yang dicapai, sehingga dapat digunakan untuk perbaikan berkelanjutan.
C. Difokuskan semata pada pengukuran hasil belajar murid secara individual.
D. Dilakukan oleh pihak eksternal tanpa keterlibatan pelaksana program.
E. Hanya relevan untuk program berskala nasional.
Level C4 • model evaluasi program35. Pengawas menggunakan data rapor pendidikan untuk membina beberapa madrasah sekaligus. Cara paling tepat
memanfaatkan data tersebut adalah …
A. Membandingkan peringkat antarmadrasah semata untuk menentukan madrasah terbaik.
B. Menjadikannya bahan diskusi reflektif bersama kepala madrasah dan guru untuk mengidentifikasi akar masalah pada
indikator yang lemah, lalu menyusun rencana perbaikan yang kontekstual.
C. Mengabaikannya karena dianggap tidak menggambarkan kondisi riil.
D. Menjadikannya dasar tunggal pemberian sanksi kepada kepala madrasah.
E. Menyimpannya sebagai arsip tanpa ditindaklanjuti.
Level C5 • pemanfaatan rapor pendidikan
36. Ranah evaluasi yang paling tepat untuk menilai ketercapaian standar kompetensi lulusan pada aspek sikap adalah …
A. Tes tertulis pilihan ganda tentang definisi nilai-nilai karakter.
B. Observasi perilaku secara berkelanjutan, jurnal sikap, dan penilaian diri/antarteman yang dikonfirmasi dengan pengamatan
nyata dalam keseharian madrasah.
C. Wawancara satu kali di akhir semester dengan murid yang bersangkutan.
D. Nilai rata-rata mata pelajaran pendidikan agama semata.
E. Angket yang diisi oleh murid tentang dirinya sendiri tanpa verifikasi lain.
Level C5 • evaluasi ranah afektif
37. Pengawas menemukan sebuah madrasah menaikkan nilai rapor murid secara sistematis menjelang penilaian akreditasi. Sikap
dan tindakan pengawas yang paling tepat adalah …
A. Membiarkan karena berdampak positif pada citra madrasah.
B. Menegaskan pentingnya integritas data kepada kepala madrasah dan guru, menelusuri penyebabnya, merekomendasikan
perbaikan sistem penilaian yang jujur, serta melaporkan sesuai mekanisme jika diperlukan.
C. Ikut menyesuaikan laporan pengawasan agar selaras dengan data madrasah.
D. Menunda penanganan hingga proses akreditasi selesai.
E. Menyalahkan murid karena dianggap tidak mencapai kompetensi.
Level C5 • integritas evaluasi
38. Evaluasi diri madrasah (EDM) yang efektif seharusnya bercirikan …
A. Diisi oleh kepala madrasah seorang diri agar konsisten.
B. Berdasarkan pada persepsi umum tanpa data pendukung.
C. Melibatkan berbagai pemangku kepentingan (guru, murid, orang tua, komite), didukung bukti dan data yang sahih, serta
dilakukan secara jujur meskipun hasilnya belum ideal.
D. Selalu menunjukkan hasil yang baik agar tidak menimbulkan kekhawatiran.
E. Dilakukan hanya menjelang visitasi akreditasi.
Level C4 • evaluasi diri madrasah
39. Perhatikan capaian rapor pendidikan dua madrasah binaan pada indikator kualitas pembelajaran berikut.
Madrasah
Tahun 2024
Tahun 2025
Tahun 2026
P
1,8
2,4
3,0
Q
2,9
2,8
2,7
Simpulan dan langkah pengawas yang paling tepat adalah …
A. Madrasah Q lebih baik karena skornya lebih tinggi pada seluruh tahun sehingga tidak memerlukan pembinaan.
B. Madrasah P menunjukkan tren perbaikan yang konsisten dan layak diapresiasi, sedangkan Madrasah Q menunjukkan tren
penurunan meski skornya masih lebih tinggi, sehingga memerlukan penelusuran penyebab dan pembinaan segera.
C. Kedua madrasah tidak perlu dibina karena skornya berada pada rentang sedang.
D. Data tahun 2024 sebaiknya diabaikan karena dianggap tidak relevan.
E. Madrasah P perlu ditegur karena skornya masih di bawah Madrasah Q.
Level C5 • analisis tren rapor pendidikan
40. Fungsi laporan hasil pengawasan yang paling tepat, selain sebagai bukti administratif, adalah …
A. Menjadi dasar objektif dan reflektif bagi pengawas, kepala madrasah, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan
langkah perbaikan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
B. Menjadi alat untuk membandingkan popularitas pengawas antarwilayah.
C. Menjadi arsip yang hanya dibuka saat audit internal.
D. Menjadi dasar tunggal penilaian kinerja guru secara individual.
E. Menjadi dokumen yang cukup diketahui oleh atasan pengawas semata.
Level C4 • fungsi laporan pengawasan
DIMENSI IV — PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (Butir 41–50)
41. Pengawas ingin mengetahui pengaruh pendampingan berbasis komunitas belajar terhadap perubahan praktik mengajar guru
di madrasah binaan. Jenis penelitian yang paling tepat adalah …
A. Penelitian tindakan sekolah/madrasah, karena bertujuan memperbaiki praktik nyata melalui siklus perencanaan,
pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang melibatkan pengawas sebagai bagian dari proses perbaikan.
B. Penelitian eksperimen murni dengan kelompok kontrol acak berskala nasional.
C. Penelitian historis tentang perkembangan supervisi di Indonesia.
D. Penelitian kepustakaan tanpa data lapangan.
E. Penelitian korelasional lintas provinsi.
Level C4 • jenis penelitian kepengawasan42. Urutan siklus Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang tepat adalah …
A. Refleksi → perencanaan → pelaporan → tindakan.
B. Perencanaan → pelaksanaan tindakan → observasi → refleksi, yang kemudian menjadi dasar perencanaan siklus berikutnya
bila indikator keberhasilan belum tercapai.
C. Observasi → refleksi → pelaporan → publikasi.
D. Tindakan → publikasi → perencanaan → observasi.
E. Perencanaan → publikasi → refleksi → tindakan.
Level C4 • siklus penelitian tindakan
43. Rumusan judul penelitian yang paling tepat dan operasional bagi seorang pengawas adalah …
A. "Pendidikan Islam di Indonesia: Tantangan dan Harapan."
B. "Upaya Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru IPA melalui Pendampingan Lesson Study Berbasis MGMP di Madrasah
Binaan Kecamatan X Tahun 2026."
C. "Sejarah Perkembangan Kurikulum di Madrasah."
D. "Pentingnya Peran Guru dalam Pendidikan Karakter."
E. "Analisis Umum tentang Mutu Pendidikan Nasional."
Level C4 • perumusan judul penelitian tindakan
44. Dalam merancang instrumen penelitian tentang efektivitas pendampingan supervisi, pengawas sebaiknya …
A. Menyusun instrumen berdasarkan kajian teori dan indikator yang jelas, mengujicobakannya terlebih dahulu, lalu menguji
validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan untuk pengumpulan data utama.
B. Menyusun instrumen sesaat sebelum penelitian tanpa merujuk teori.
C. Menggunakan instrumen penelitian lain tanpa penyesuaian konteks.
D. Mengumpulkan data terlebih dahulu, baru menyusun instrumen setelahnya.
E. Menghindari uji coba instrumen karena dianggap membuang waktu.
Level C5 • penyusunan instrumen penelitian
45. Seorang pengawas melaksanakan PTS dua siklus. Persentase guru yang menerapkan pembelajaran aktif pada siklus I adalah
55% dan pada siklus II adalah 80%, dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan sebesar 75%. Simpulan yang paling tepat
adalah …
A. Penelitian dihentikan pada siklus I karena hasilnya sudah cukup baik.
B. Tindakan dinyatakan berhasil pada siklus II karena telah melampaui indikator keberhasilan yang ditetapkan; penelitian dapat
dihentikan dengan tetap merekomendasikan pemantauan keberlanjutan.
C. Penelitian harus dilanjutkan ke siklus III agar hasilnya mencapai 100%.
D. Data siklus I tidak perlu dilaporkan karena belum berhasil.
E. Kenaikan dari 55% ke 80% tidak dapat disimpulkan tanpa uji statistik inferensial.
Level C5 • interpretasi hasil PTS
46. Fungsi utama diseminasi hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan pengawas adalah …
A. Memenuhi syarat administratif untuk kenaikan pangkat semata.
B. Menunjukkan produktivitas pengawas kepada atasan.
C. Menyebarluaskan praktik baik yang teruji agar dapat direplikasi dan diadaptasi oleh madrasah atau pengawas lain, sehingga
manfaatnya meluas melampaui tempat penelitian dilakukan.
D. Menambah jumlah dokumen dalam arsip kepengawasan.
E. Menjadi bahan perbandingan untuk menilai pengawas lain.
Level C4 • diseminasi hasil penelitian
47. Pengawas ingin mengembangkan model pendampingan supervisi berbasis komunitas belajar sebagai inovasi baru. Tahapan
penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang paling tepat mengikuti urutan …
A. Merancang produk terlebih dahulu, baru menganalisis kebutuhan di lapangan.
B. Analisis kebutuhan dan kajian teori → perancangan model/produk awal → validasi ahli dan uji coba terbatas → revisi → uji
coba lebih luas → produk akhir.
C. Uji coba luas terlebih dahulu untuk menghemat waktu penelitian.
D. Langsung menerbitkan produk akhir tanpa uji coba agar lebih cepat diterapkan.
E. Validasi ahli dilakukan setelah produk digunakan secara luas.
Level C4 • tahapan penelitian pengembangan
48. Etika penelitian yang paling penting diperhatikan pengawas ketika mengumpulkan data dari guru dan murid di madrasah
binaan adalah …
A. Mengambil data tanpa persetujuan karena pengawas memiliki kewenangan resmi.
B. Menjamin kerahasiaan identitas responden, memperoleh persetujuan partisipasi, menyampaikan tujuan penelitian secara
jujur, dan tidak menyalahgunakan data untuk kepentingan penilaian kinerja yang merugikan responden.
C. Menggunakan data yang diperoleh untuk kepentingan pribadi pengawas.
D. Mempublikasikan nama guru yang datanya menunjukkan hasil kurang baik.
E. Mengabaikan etika penelitian selama tujuannya untuk perbaikan mutu.
Level C5 • etika penelitian
49. Pengawas menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) berdasarkan hasil pendampingannya di lapangan. Prinsip yang paling penting
dijaga dalam penulisan KTI adalah …
A. Menggunakan bahasa yang seindah mungkin agar menarik dibaca.
B. Menyesuaikan hasil dengan simpulan yang diinginkan sebelum penelitian dilakukan.
C. Keaslian karya, kejujuran dalam melaporkan data apa adanya (termasuk hasil yang tidak sesuai harapan), serta pengutipan
sumber secara benar untuk menghindari plagiarisme.
D. Memperbanyak jumlah halaman agar terlihat mendalam.
E. Menghindari pencantuman keterbatasan penelitian agar terlihat sempurna.
Level C4 • etika dan integritas akademik50. Nilai Kurikulum Cinta yang paling relevan mendasari peran pengawas dalam penelitian dan pengembangan pendidikan adalah
…
A. Cinta ilmu pengetahuan, yang diwujudkan melalui semangat mencari kebenaran secara jujur, sistematis, dan bermanfaat
bagi perbaikan mutu pendidikan madrasah binaan secara berkelanjutan.
B. Cinta terhadap gelar akademik semata.
C. Cinta terhadap pengakuan formal dari atasan.
D. Cinta terhadap kemudahan administratif kenaikan pangkat.
E. Cinta terhadap popularitas di antara sesama pengawas.
Level C4 • Kurikulum Cinta: cinta ilmuKUNCI JAWABAN
No
Kunci
No
Kunci
No
Kunci
No
Kunci
No
Kunci
1
C
11
C
21
B
31
C
41
A
2
B
12
D
22
B
32
C
42
B
3
B
13
C
23
B
33
B
43
B
4
B
14
B
24
C
34
B
44
A
5
C
15
D
25
B
35
B
45
B
6
B
16
B
26
C
36
B
46
C
7
B
17
C
27
C
37
B
47
B
8
B
18
C
28
C
38
C
48
B
9
C
19
B
29
B
39
B
49
C
10
C
20
C
30
B
40
A
50
A
PEMBAHASAN SINGKAT
1. C. Supervisi akademik pada hakikatnya adalah pembinaan profesional berkelanjutan, bukan penilaian administratif atau pengawasan
kepatuhan semata.
2. B. Pendekatan supervisi disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan komitmen guru: direktif untuk guru pemula, kolaboratif/non-direktif
untuk guru berpengalaman agar mendorong refleksi dan inovasi.
3. B. Teknik kelompok seperti lokakarya MGMP lintas madrasah efisien untuk membina banyak guru sejenis sekaligus dan mendorong
berbagi praktik baik.
4. B. Penyusunan instrumen bersama guru mencerminkan prinsip kolegial dan demokratis, menjadikan supervisi sebagai kemitraan, bukan
pengawasan sepihak.
5. C. Temuan menunjukkan kesenjangan antara tujuan pembelajaran dan kualitas pertanyaan. Pendampingan menyusun pertanyaan
berjenjang menuju HOTS adalah tindak lanjut yang tepat sasaran.
6. B. Supervisi klinis menempatkan refleksi guru terlebih dahulu berdasarkan data observasi, sebelum mendiskusikan kekuatan, area
perbaikan, dan rencana tindak lanjut bersama.
7. B. Integrasi nilai yang baik menyatu secara organik dengan aktivitas belajar dan tetap mencapai tujuan pembelajaran, bukan tempelan
simbolik atau pengurangan jam akademik.
8. B. Umpan balik yang membangun mengapresiasi hal positif lalu menawarkan penyempurnaan konkret melalui pertanyaan reflektif, bukan
instruksi menghentikan atau ancaman.
9. C. Program supervisi yang baik berbasis data (EDM, rapor pendidikan, riwayat supervisi) agar sasaran dan prioritas pembinaan tepat
kebutuhan setiap madrasah.
10. C. Efektivitas asesmen formatif diukur dari tindak lanjut nyata — bagaimana umpan balik memengaruhi perbaikan belajar murid dan
penyesuaian strategi guru, bukan sekadar kerapian dokumen.
11. C. Data menunjukkan tren naik konsisten (60→85). Pengawas sebaiknya mengapresiasi dan mendorong keberlanjutan strategi yang
terbukti efektif.
12. D. 96 guru × 2 kunjungan × 3 jam = 576 jam.
13. C. Kesenjangan antara data observasi terjadwal dan laporan lapangan menuntut triangulasi data melalui kunjungan tidak terjadwal dan
sumber data lain sebelum menyimpulkan.
14. B. Diferensiasi bertumpu pada data asesmen awal dan variasi proses/produk yang tetap mengarah ke tujuan pembelajaran yang sama,
dengan pendampingan pengawas dalam merancangnya.
15. D. Indikator paling kuat adalah perubahan nyata pada praktik mengajar yang berdampak pada capaian belajar murid, bukan sekadar
keterlaksanaan jadwal atau kepuasan guru.
16. B. Supervisi manajerial berfokus pada tata kelola kelembagaan (administrasi, sarana, keuangan, kesiswaan, kepemimpinan), berbeda
dari supervisi akademik yang berfokus pada pembelajaran di kelas.
17. C. Telaah RKM paling penting memastikan keterkaitan program dengan hasil EDM dan rapor pendidikan, bukan aspek formalitas
dokumen semata.
18. C. Temuan ketidaksesuaian keuangan ditangani melalui konfirmasi, pembinaan tata kelola yang benar, dan rekomendasi perbaikan
berjenjang — bukan dibiarkan atau langsung dieskalasi tanpa klarifikasi.
19. B. Supervisi kepemimpinan menilai kemampuan membangun visi bersama, memimpin pembelajaran, mengelola sumber daya akuntabel,
dan menumbuhkan budaya belajar — bukan aspek seremonial atau ketegasan sanksi semata.
20. C. Pemetaan mutu tata kelola menyeluruh memerlukan instrumen terstruktur berbasis 8 SNP yang dipadukan dengan telaah dokumen,
observasi, dan data rapor pendidikan.
21. B. Skor terendah pada standar proses (2,1) dan sarana (2,0) menjadi prioritas karena proses pembelajaran sangat bergantung pada
ketersediaan sarana pendukung.
22. B. Program iklim madrasah yang tepat sasaran berangkat dari pemetaan kondisi nyata melalui survei, bukan penetapan aturan atau
sanksi tanpa data.
23. B. SPMI efektif ditandai oleh berjalannya siklus pemetaan-perencanaan-pelaksanaan-evaluasi secara rutin dan digunakannya hasil
evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan, bukan sekadar kelengkapan dokumen atau struktur formal.
24. C. Nilai penting sarana terletak pada pemanfaatannya dalam pembelajaran dan kontribusinya terhadap literasi serta keterampilan
berpikir murid, bukan sekadar kerapian atau jumlah koleksi.25. B. Pendampingan yang tepat dimulai dari analisis akar penyebab yang jujur, diikuti strategi perbaikan berbasis mutu nyata — bukan
menyalahkan, menurunkan harga tanpa perbaikan mutu, atau membiarkan madrasah sendirian.
26. C. Pembinaan gaya kepemimpinan dilakukan secara bertahap dengan mendampingi pemahaman manfaat partisipasi, tanpa mengambil
alih kewenangan kepala madrasah.
27. C. Keberhasilan sejati supervisi manajerial terlihat dari perbaikan nyata tata kelola yang berdampak pada mutu layanan, bukan sekadar
kepatuhan administratif.
28. C. Evaluasi program menilai efektivitas kebijakan/kegiatan secara menyeluruh untuk pengambilan keputusan, sedangkan evaluasi hasil
belajar menilai capaian kompetensi individu murid.
29. B. Daya pembeda negatif menandakan soal bermasalah karena kelompok bawah justru lebih banyak menjawab benar; butir semacam ini
harus direvisi atau dibuang.
30. B. Alpha Cronbach 0,45 tergolong rendah (idealnya ≥0,70). Instrumen perlu ditelaah ulang dan diuji kembali sebelum digunakan untuk
keputusan penting.
31. C. Rata-rata sama tidak berarti kondisi sama. Simpangan baku kecil (madrasah A) menunjukkan pemerataan; simpangan baku besar
(madrasah B) menunjukkan kesenjangan yang perlu intervensi berdiferensiasi.
32. C. TK = 40/50 = 0,80, tergolong kategori mudah.
33. B. Desain evaluasi dampak yang kuat membandingkan kondisi sebelum-sesudah, idealnya disertai kelompok pembanding, bukan sekadar
mengukur hasil akhir atau testimoni.
34. B. Model CIPP menilai konteks, input, proses, dan produk secara menyeluruh agar hasil evaluasi dapat digunakan untuk perbaikan
berkelanjutan sepanjang program berjalan.
35. B. Rapor pendidikan paling bermanfaat saat dijadikan bahan diskusi reflektif bersama untuk menemukan akar masalah dan menyusun
perbaikan kontekstual, bukan sekadar pembanding peringkat atau dasar sanksi.
36. B. Ranah sikap paling sahih dinilai melalui observasi berkelanjutan, jurnal, dan penilaian diri/antarteman yang dikonfirmasi pengamatan
nyata, bukan tes tertulis kognitif.
37. B. Manipulasi data menuntut pembinaan integritas, penelusuran penyebab, dan perbaikan sistem penilaian yang jujur, disertai pelaporan
berjenjang bila diperlukan — bukan dibiarkan atau ditutupi.
38. C. EDM yang efektif melibatkan banyak pemangku kepentingan, berbasis bukti sahih, dan dilakukan jujur meski hasilnya belum ideal.
39. B. Tren perlu dibaca, bukan hanya angka terakhir. Madrasah P membaik konsisten (apresiasi), Madrasah Q menurun meski masih lebih
tinggi (perlu penelusuran dan pembinaan segera).
40. A. Laporan pengawasan berfungsi sebagai dasar refleksi dan perbaikan mutu berkelanjutan bagi semua pemangku kepentingan, bukan
sekadar arsip atau alat pembanding pengawas.
41. A. Penelitian tindakan sekolah/madrasah tepat digunakan karena bertujuan memperbaiki praktik nyata melalui siklus perencanaan
tindakan-observasi-refleksi dengan pengawas sebagai bagian dari proses.
42. B. Siklus PTS: perencanaan → pelaksanaan tindakan → observasi → refleksi, yang menjadi dasar perencanaan siklus berikutnya bila
indikator belum tercapai.
43. B. Judul penelitian tindakan yang baik operasional dan spesifik: memuat upaya, variabel, subjek, dan konteks yang jelas, bukan topik
umum yang tidak terukur.
44. A. Instrumen penelitian yang baik disusun berdasarkan kajian teori, diujicobakan, lalu diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum
digunakan untuk pengumpulan data utama.
45. B. Capaian siklus II (80%) telah melampaui indikator keberhasilan (75%), sehingga tindakan dinyatakan berhasil dan penelitian dapat
dihentikan dengan tetap memantau keberlanjutannya.
46. C. Diseminasi bertujuan menyebarluaskan praktik baik agar dapat direplikasi dan diadaptasi pihak lain, memperluas manfaat penelitian
melampaui tempat asalnya.
47. B. Tahapan R&D yang tepat: analisis kebutuhan & kajian teori → rancangan awal → validasi ahli & uji coba terbatas → revisi → uji coba
luas → produk akhir.
48. B. Etika penelitian menuntut kerahasiaan identitas, persetujuan partisipasi, kejujuran tujuan, dan larangan menyalahgunakan data untuk
kepentingan yang merugikan responden.
49. C. Prinsip utama penulisan KTI adalah keaslian, kejujuran melaporkan data apa adanya, dan pengutipan sumber yang benar untuk
menghindari plagiarisme.
50. A. Cinta ilmu pengetahuan dalam Kurikulum Cinta diwujudkan melalui semangat mencari kebenaran secara jujur dan sistematis demi
perbaikan mutu pendidikan secara berkelanjutan.KISI-KISI DAN SEBARAN BUTIR
No
Dimensi / Lingkup Kompetensi
Butir
Jumlah
Penekanan Nilai
1
Supervisi Akademik: prinsip, pendekatan,
dan teknik
1–4, 9
5
Kolegialitas, pembinaan bermartabat
2
Supervisi Akademik: pembinaan HOTS,
deep learning, TIK, dan diferensiasi
5, 7, 8, 14
4
Deep learning, Kurikulum Cinta, TPACK
3
Supervisi Akademik: analisis data,
validitas, dan evaluasi dampak
6, 10–13, 15
6
Kesahihan data, dampak nyata
4
Supervisi Manajerial: tata kelola, RKM,
keuangan, kepemimpinan
16–19, 26
5
Akuntabilitas, integritas
5
Supervisi Manajerial: pemetaan mutu,
SPMI, iklim, dan sarana
20–24
5
Keamanan, pemanfaatan sarana
6
Supervisi Manajerial: manajemen strategis
dan evaluasi dampak
25, 27
2
Mutu berkelanjutan
7
Evaluasi Pendidikan: konsep, analisis
butir, dan reliabilitas
28–30, 32
4
Kesahihan instrumen
8
Evaluasi Pendidikan: interpretasi data dan
desain evaluasi program
31, 33, 34, 39
4
Interpretasi data berbasis bukti
9
Evaluasi Pendidikan: integritas, EDM, dan
pemanfaatan hasil
35–38, 40
5
Kejujuran, integritas data
10
Penelitian & Pengembangan: PTS, R&D,
dan metodologi
41–45, 47
6
Perbaikan berkelanjutan
11
Penelitian & Pengembangan: diseminasi,
etika, dan integritas akademik
46, 48–50
4
Cinta ilmu, etika penelitian
Jumlah
1–50
50
Sebaran Dimensi Kompetensi
Jumlah Butir
Persentase
Supervisi Akademik
15
30%
Supervisi Manajerial
12
24%
Evaluasi Pendidikan
13
26%
Penelitian dan Pengembangan
10
20%
Sebaran Level Kognitif
Jumlah Butir
Persentase
L2 – Aplikasi (C3)
2
4%
L3 – Analisis (C4)
14
28%
L3 – Evaluasi & Mencipta (C5–C6)
34
68%
SARAN PEMANFAATAN
1. Kerjakan tanpa melihat kunci, dengan batas waktu 150 menit, untuk mensimulasikan kondisi asesmen sesungguhnya.
2. Butir Pengawas umumnya berbentuk kasus dengan data pengawasan (skor, tren, hasil analisis butir). Biasakan membaca data secara
cermat sebelum menilai pilihan jawaban.
3. Waspadai pengecoh yang menawarkan jalan pintas: mengabaikan data, menutupi temuan, atau mengambil alih kewenangan kepala
madrasah/guru alih-alih membina.
4. Analisis kesalahan per dimensi menggunakan tabel kisi-kisi di atas, lalu susun rencana pengembangan diri — misalnya melalui
KKPS/Pokjawas, pelatihan penilaian dan penelitian tindakan, atau pendampingan sejawat.
5. Persiapkan aspek teknis sesuai surat resmi: instalasi Safe Exam Browser (SEB), pengecekan akun EMISGTK mulai 19 September
2026, dan uji coba login pada 19–20 September 2026.
Naskah Latihan Mandiri AKGTK Madrasah 2026 — Pengawas Madrasah (Supervisi Akademik, Supervisi Manajerial, Evaluasi Pendidikan, Penelitian &
Pengembangan)
Disusun sebagai bahan persiapan mandiri, bukan dokumen resmi Kementerian Agama RI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar